Puisi Rupa Di Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Live Streaming, Kamis, 24 Juni 2021 Pukul 19.30 WIB
Puisi Rupa Di Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Live Streaming, Kamis, 24 Juni 2021 Pukul 19.30 WIB
Impessa.id, Yogyakarta: Sastra Bulan Putnama edisi 117, yang digelar, Kamis. 24 Juni 2021, pukul 19.30 WIB secara live di kanal YouTube Sastra Bulan Purnama, dalam Poetry Reading From Home seri-17, berkolaborasi dengan seni rupa, sehingga ada dua kegiatan yang dilkukan, yaitu pameran seni rupa karya 10 perupa perempuan, sekaligus menerbitkan buku puisi yang diberi judul ‘Rupa Puisi, Puisi Rupa’, dan peluncuran antologi puisi.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Kakanwil Kemenkumham DIY, Budi Argop Situngkir AMd IP, SH, MH, Kamis, 17 Juni 2021, di Tembi Rumah Budaya jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, dengan jumlah undangan terbatas. Ke-10 perupa perempuan tersebut masing-masing, Dwi Rahayuningsih, Erica Hestu Wahyuni, Setyowati, Rina Kurniyati, Laila Tifah, Lully Tutus, Peni Citrani Puspaning, RA Sekartaji Suminto, Tara Nusantara dan Watie Respati.

Para perupa perempuan itu, masing-masing sudah sering melakukan pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Pengalaman pameran mereka tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di beberapa kota di Indonesia. Dalam kaitan dengan Sastra Bulan Purnama, para perupa itu ingin karya rupanya dipadukan dengan puisi.
“Meskipun lebih banyak menghasilkan karya seni rupa, tetapi para perempuan ini sering menulis puisi. Maka, bagus juga kalau karya yang diciptakan digabung dalam satu buku” ujar Watie Respati mewakili 10 perupa perempuan.
Watie Respati memang sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Membacakan puisi karyanya sendiri atau membacakan puisi penyair lainnya yang buku puisinya diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Selain Watie Respati, yang pernah tampil membaca puisi Tara Nusantara dan Dwi Rahayuningsih. Karena Dwi seorang penari sehingga dalam membaca puisi dipadukan dengan tarian.
Lain halnya dengan Tara Nusantara, yang beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama. Selain dipadukan dengan tarian, pembacaan puisinya juga dikemas dengan musik, sehingga puisi, tari dan musik memadukan penampilan Tara Nusantara.
Perupa dan puisi, bukan hanya kali ini tampil di Sastra Bulan Purnama. Beberapa tahun sebelumnya, para perupa, tidak hanya perempuan, menulis puisi, dan puisinya diterbitkan menjadi buku, kemudian diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Kali ini, para perupa perempuan tidak hanya membacakan puisi, tetapi sekaligus menggelar pameran. Jadi, dua kegiatan dilakukan bersama-sama.
Pameran karya 10 perupa perempuan berlangsung dari 17 Juni hingga 8 Juli 2021 di Tembi Rumah Budaya, sedangkan peluncurkan buku puisi secara ‘live’ di youtube dilakukan, Kamis 24 Juni 2021. Jadi, keduanya saling mengisi.
“Dua kegiatan dilakukan bersamaa, pameran dan pembacaan puisi, untuk memberi ruang interaksi antara seni rupa dan puisi” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.
Dijelaskan oleh Ons Untoro, di Yogyakarta, setidaknya awal tahun 1970-an, interaksi antara pelukis dan pemyair berlangsung sangat akrab. Masing-masing saling bersahabat, bahkan pada masa itu dikenal sebutan poros Malioboro-Gampingan. Malioboro tempat mangkal para penyair Yogya, dan Gampingan adalah kampus ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta.
“Namun, sejak akhir 1990-an, lebih-lebih setelah tahun 2000-an, suasana akrab seperti dulu tidak lagi terlihat. Perupa dan penyair seperti mempunyai dunia masing-masing, tidak saling bersentuhan. Penampilan perupa perempuan kali ini, setidaknya bisa mengingatkan suasana 30-an tahun lalu,” imbuhnya. (Ons Untoro/Antok Wesman-Impessa.id)
