Konser ANDANG BACHTIAR dan Penyelaras, WATU MUNI BREKSI NYANYI, Kolaborasi Geosains-Seni-Budaya di Tebing BREKSI Jogja, 5 November 2026
Konser ANDANG BACHTIAR dan Penyelaras, WATU MUNI BREKSI NYANYI, Kolaborasi Geosains-Seni-Budaya di Tebing BREKSI Jogja, 5 November 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, November 2026: Dalam acara Geosite Jogja Field Trip yang digelar oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengda DIY, pada Sabtu (24/10/2026) di empat titik masing-masing di Nanggulan, Candi Morangan, Lava Bantal dan Tebing Beksi, maka pada saat di Tebing Breksi, rombongan disambut oleh Andang Bachtiar, seorang ahli geologi yang dijuluki sebagai Geologist Merdeka, karena dirinya fokus menekuni energi positif yang terpancar dari setiap lapisan endapan lava letusan gunung api. khususnya yang ada di Tebing Breksi Yogyakarta. Pada kesempatan itu Andang Bachtiar menunjukkan grafik hasil pancaran gelombang energi yang berbeda-beda dan kemudian dia hadirkan kedalam resonansi bunyi yang unik. Menurutnya, semakin tinggi kepadatan lapisannya maka semakin keras dengung yang dimunculkan.

Irama dan Nada-Breksi Bernyanyi
Istilah irama atau "ritme" pada umumnya merujuk pada pola teratur yang berulang dalam bunyi-musik dan atau gerak-tari. Di geologi, istilah itu tidak hanya terkait dengan bunyi dan gerak saja, tetapi juga dengan pola struktur berlapis pada batuan. Istilah ‘Sedimentasi Berirama’ (rythmic sedimentation), misalnya, adalah pola berirama dari urutan jenis batuan atau struktur sedimen yang berulang, yang menunjukkan adanya siklus proses sedimentasi. Lapisan-lapisan berirama ini melampar horisontal pada saat diendapkan oleh air atau angin yang menjadi medium transportnya; menumpuk satu di atas lainnya bersamaan dengan turunnya cekungan dan penambahan suplai sedimen dari waktu ke waktu.
Fitur seperti perlapisan bergradasi (graded bedding), di mana sedimen yang lebih kasar berada di bagian bawah dan sedimen yang lebih halus berada di bagian atas merupakan contoh dari pola-pola berirama dalam batuan sedimen tersebut yang diendapkan dengan mekanisme “falling out of suspension” dari suatu aliran massa sedimen “gravity flow”. Sedangkan, “striping mudstone” (batulumpur setrip-setrip) dengan variasinya: flaser, wavy dan lenticular lamination, merupakan contoh dari pola-pola berirama batuan sedimen yang diendapkan dengan mekanisme butiran sedimen yang menggelinding (rolling), merayap (creeping), dan melenting (saltation) di dasar dari suatu aliran traksi yang bersama-sama membentuk bedform gelembur (ripple).

Setelah melakukan workshop lintas disiplin selama delapan bulan, Andang Bachtiar mengaku takjub.
“Pertama kali melihat dengan mata kepala sendiri Tebing Breksi Yogjakarta, yang langsung terkesankan di benak saya adalah: ‘Wow! Betapa indahnya irama pengendapan lapisan-lapisan sedimen Tebing Breksi ini.”
“Bagaimana kalau irama itu diterapkan pada rangkaian bunyi-nada dan kemudian menjadi lagu? Pasti keren dan penuh makna! “
“Tapi bunyinya dapat dari mana?”
“Lha, itu lapisan-lapisan batu khan kalau dipukul keluar bunyi dan setiap bunyi pasti mempunya frekuensi (dan amplitudo serta panjang gelombang)? Frekuensi dari berbagai jenis lapisan batu yang dipukul itu khan kemudian dapat dikonversikan menjadi nada, dan kalau nada-nada itu disusun dalam kerangka susunan dan pola perulangan lapisan-lapisan itu khan kemudian jadi Nyanyian/Lagu?! Nyanyian Breksi!! Breksi Bernyanyi!!” Serunya.

Dengan konsep yang membara seperti itu maka dirancanglah Workshop Kolaborasi Lintas Disiplin Tebing Breksi, dengan tujuan “membangunkan” Tebing Breksi dan kemudian “membuat Tebing Breksi bernyanyi”.
Workshop dimulai Agustus 2026 selama tiga hari, tanggal 28-30 Agustus 2026, yang kemudian dilakukan setiap bulan: 18-22 September, 22-25 Oktober, 1-5 November, hingga Maret 2027.
Targetnya di bulan April 2027 ditampilkan keseluruhan hasil delapan kali workshop itu dalam acara “Konser Bayangan Breksi Nyanyian Bumi” di Tebing Breksi Sambirejo Yogjakarta.
Kolaborasi lintas disiplin dalam “menggugah” Tebing Breksi supaya bernyanyi, bergerak, berpuisi dan bersolek warna-warni itu melibatkan: geologist, geofisisist, hydrogeologist, penggiat geosite, drone acquisition & processing specialist, penggiat naik turun tebing bertali, musisi, sinden, penyanyi, komposer, penulis, pelukis, pegiat spiritual, dan berbagai ahli/pegiat sub-disiplin ilmu lainnya.
Beberapa pihak yang terlibat sebagai kolaborator adalah Ruang Bunyi Indonesia/Ruang Bunyi Studio, dengan beberapa musisi dan sound designer, pelukis Joko Timun, pesinden Aniek Sunyahni dan pak Arif sebagai pegiat spiritual, yang memberikan berbagai penafsiran estetika lebih menarik. Selain tentunya beberapa geologist dari perguruan tinggi di Yogyakarta.
“Karya ini mungkin tidak secara instan dapat dihasilkan, kami berharap pada April 2027 sudah bisa dipresentasikan dalam sebuah pementasan,” ujar Andang Bachtiar.

Produk Interim Kolaborasi
Hasil sementara dari kerja menggugah Tebing Breksi yang berupa data lapangan diterjemahkan ke dalam bunyi, nada dan musik oleh kawan-kawan kolaborator dari Ruang Bunyi Indonesia dan juga para Penyelaras yang masih berupa prototip bunyi akan didemonstrasikan pada Konser#43 Watu Muni Breksi Nyanyi 5 November besok. Termasuk demonstrasi sampling bunyi memakai palu, tali meteran, dan perekam zoom.
Pengolahan data geosains yang kemudian diterjemahkan dalam bunyi sampai jadi nyanyian / lagu menghasilkan beberapa prototip interim product sebagai berikut:
1. Sinewave dan Prototip Nada & Irama 1-meter Tebing Breksi Traverse-A dekat Tangga area Lenton TC-3.
2. Sinewave dan Prototip Nada & Irama 2-meter Tebing Breksi Section Rapelling-1 (SR-1) bagian bawah.
3. Sinewave 7,35-meter section Susceptibility Traverse-A dekat Tangga dengan benchmark Lenton TC-3 ke atas.
4. Sinewave Konversi Nada dari sampling bunyi pukulan SR-1, SR-2, SR-3, dan Traverse A-B.
5. Prototip pengembangan lagu dari sample bunyi pukulan tebing oleh AMAD (Ruang Bunyi Indonesia).
Prototip #1, #2, dan #5 akan dimainkan sebagai contoh di acara Konser#43 Watu Muni Breksi Nyanyi 5 November 2026. Gitaris, Keyboardis, dan Pesinden - akan berkolaborasi menampilkannya.

Konser ADBP #43 “WATU MUNI BREKSI NYANYI”
Dalam rangka memuncaki Workshop Kolaborasi ke-4 dan sekaligus merayakan berakhirnya rangkaian acara PIT IAGI ke-55/Geosea XIX, Andang Bachtiar dan Penyelaras dan Para Kolaborator mengundang segenap masyarakat menyaksikan Konser Musik Geopusisilosofi ANDANG BACHTIAR DAN PENYELARAS ke-43 di Tebing Breksi Yogja, Kamis 5 November 2026 jam 17:00-19:00 WIB.
Dalam Konser tersebut dihadirkan musik-lagu (dan tarian spontan) GEOPUISILOSOFI: Watu Muni Breksi Nyanyi, Belajar dari Batu, Cerdas Merdeka, Berjalan ke Hulu, dan Wajah-wajah Siklus Batuan, yang kesemuanya membawa ciri khas geologi, puisi, dan filsafat membaur menjadi satu. Selain menampilkan lagu-lagu dari album lama, Konser#43 ADBP tersebut juga meluncurkan lagu andalan baru single “WATU MUNI BREKSI NYANYI” yang nantinya diharapkan menjadi ikon baru geosite Tebing Breksi.

Cerita tentang proses Kolaborasi Lintas Disiplin Riset Tebing Breksi dan sekaligus demonstrasi hasil-hasil prototip lagu-lagu Nyanyian Breksi menjadi bagian tak terpisahkan dari Konser #43 tersebut.
“Kami berencana untuk menyumbangkan hasil workshop kolaborasi lintas displin Tebing Breksi ini ke Komunitas/BumDes Lowo Ijo, untuk dijadikan paket SeniI Pertunjukan Musik-Lagu-Tari-Video Mapping dan Cerita Geologi, yang dipentaskan setiap bulan sekali pada waktu SENJA berdurasi 2-2,5 jam, sehingga diharapkan menjadi ikon atraksi baru Tebing Breksi. Semoga Semesta Mendukung, Tuhan meridhoi,” pungkasnya. (Andang Bachtiar, Geologist Merdeka/Antok Wesman-Impessa.id)
