International Tropical Farming Summer School di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Duta Besar Thailand Untuk Indonesia, Songphol Sukchan, Membuka International Tropical Farming Summer School di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (4/3/19)
Impessa.id, Yogyakarta : Negara yang masuk dalam wilayah tropis memiliki karakteristik sistem pertanian yang cukup berbeda dengan wilayah lainnya. Mulai dari aspek natural seperti temperatur wilayah dan jenis tanaman hingga aspek sosio ekonomi yang berkaitan dengan institusi dan masyarakat. Hal itulah yang menjadi fokus bahasan dalam pertanian tropikal.
Salah satu isu terkini yang perlu pula untuk dibahas adalah bagaimana menciptakan sebuah sistem pertanian yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Songphol Sukchan, Duta Besar Kerajaan Thai untuk Indonesia dalam pembukaan International Tropical Farming Summer School –ITFSS, di Gedung Kasman Singodimedjo, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (4/3/19), dihadiri Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., Prof Mosquera Losada Maria dari Land Use Management For Sustainable Agriculiture, Spanyol, dan Prof. Satoru Sato dari Land Use Management For Sustainable Agriculture, Jepang.

ITFSS 2019 adalah kali keempat diselenggarakan oleh Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta -UMY dan berlangsung selama lima hari, mulai Senin (4/3) hingga Jumat (8/3). Program Sekolah Musim Panas tersebut diikuti oleh 25 mahasiswa-mahasiswi dari empat negara, yakni Jepang (13 mahasiswa), Spanyol (2 mahasiswa), Thailand (2 mahasiswa), dan Indonesia (8 mahasiswa).
Dubes Songphol menyebutkan bahwa pertanian yang berkelanjutan harus menjadi perhatian utama bagi negara yang berada dalam wilayah tropis, seperti Thailand dan Indonesia. "Ini karena sistem pertanian yang diterapkan di negara kita berbeda dengan teknologi yang berkembang di Barat. Dengan perkembangan yang ada kita harus dapat melahirkan inovasi yang sesuai untuk menciptakan sistem pertanian berkelanjutan yang tepat guna di wilayah tropis. Ini agar seluruh aspek yang terdapat dalam kegiatan pertanian yang kita lakukan dapat menjadi sumber kesejahteraan, terutama untuk negara dan masyarakat," ujarnya.
Songphol menyampaikan salah satu prinsip yang harus dipenuhi dalam sistem pertanian berkelanjutan adalah resiliency. "Dengan cepatnya perubahan yang terjadi saat ini, harus ada persiapan untuk dapat mengatasinya. Karenanya kemampuan untuk mengidentifikasi, meramalkan serta mengevaluasi bahaya yang mungkin terjadi di masa depan agar negara dapat segera pulih kembali sangat dibutuhkan. Apabila kebijakan yang menekankan pada hal ini dilaksanakan, saya yakin tujuan kita untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dalam aspek pertanian akan lebih mudah terwujud," paparnya.
"Target dari pertanian berkelanjutan adalah manfaat yang optimal, bukan pada manfaat yang maksimal. Karenanya aspek seperti rehabilitasi, konservasi, dan kemandirian merupakan hal yang ditekankan. Kegiatan ini merupakan cerminan dari komitmen kita dalam memberikan solusi untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Songphol. (Raditia/Tok)
