Feature

Field Trip GEOSITE JOGJA Keren Abis! Melintasi Lorong Waktu Ke Masa 40-Juta Tahun Silam Hingga Ke Jaman Mataram Kuno

Field Trip GEOSITE JOGJA Keren Abis! Melintasi Lorong Waktu Ke Masa 40-Juta Tahun Silam Hingga Ke Jaman Mataram Kuno

Field Trip GEOSITE JOGJA Keren Abis! Melintasi Lorong Waktu Ke Masa 40-Juta Tahun Silam Hingga Ke Jaman Mataram Kuno

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2026: Hujan gerimis mengiringi iring-iringan mobil disepanjang perjalanan menuju Geosite Purba di Kulon Progo, berisi sekitar 20 peserta Fied Trip Geopark Yogyakarta, terdiri dari beragam latarbelakang ada geolog, ada non-geolog, ada professional, ada mahasiswa, bahkan ada pelajar, meluncur diatas aspal basah, tak lagi berdebu setelah sekian lama Jogja tidak diguyur hujan.

Setibanya di lokasi pertama, rombongan segera turun menuju ke lekukan Sungai kering setelah melintasi persawahan yang mulai licin karena hujan. Itulah salah satu Geosite resmi Geopark Jogja yang sudah ditetapkan menjadi Geoheritage yakni Formasi Nanggulan Eosen Kalibawang

Didit Hadi Barianto, dari IAGI Pengda DIY yang adalah Dosen Teknik Geologi FT UGM, menuturkan, “Di Banjararum, Kalibawang. Formasi Nanggulan Eosen ini yang paling tua, umur Eosen (sekitar 40 juta tahun). Formasi Nanggulan adalah lapisan batuan sedimen laut dalam - batupasir, batulempung, dengan fosil foraminifera. Dulu Kulon Progo merupakan laut dalam, baru terangkat. bagi ahli geologi kawsan ini dijadikan acuan umur Pulau Jawa bagian barat. Eosen itu zaman geologi, bukan jenis batu. Formasi Nanggulan Eosen Kalibawang itu endapan laut dalam. Waktu Eosen, Jawa itu masih samudra luas, belum ada gunung api. Jadi yang mengendap lumpur, pasir, sama cangkang hewan laut kecil (foraminifera). Lama-lama jadi batu. Batugamping Eosen sama, terumbu karang zaman Eosen yang sekarang jadi bukit kapur.

Perjalanan selanjutnya  menuju salah satu geosite yang paling unik karena nyambung geologi dan arkeologi yakni Candi Morangan, Candi yang Tertimbun Lahar Merapi, terletak di Dusun Morangan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman. Tepat di kaki Merapi, cuma sekitar 16 km dari puncak dan hanya sekitar 100 meter dari aliran lahar Sungai Gendol.

Profesor Sri Mulyaningsih dari IAGI Pengda DIY yang Adalah Dosen Teknik Geologi Universitas AKPRIND Indonesia, menuturkan; “Candi Hindu abad 9-10 Masehi zaman Mataram Kuno ini ditemukan pertama tahun 1884 dalam kondisi reruntuhan setengah terkubur semak. Waktu ekskavasi 1982 ternyata posisinya ada di kedalaman 6,5 meter di bawah permukaan tanah sekarang. Penyebabnya bukan gempa, tapi lahar dan awan panas Merapi purba yang menimbun situs ini berkali-kali. Jadi kalau Anda turun ke area candi, Anda sebenarnya sedang berdiri di dalam lapisan endapan vulkanik Merapi yang umurnya ratusan tahun. Candi yang berada 2,5 meter di bawah permukaan jalan desa sekarang, strukturnya dari batu andesit, terdiri dari candi induk menghadap barat dan candi perwara. Karena tertimbun, ornamennya masih cukup utuh. Yang bisa dilihat berupa, penampang stratigrafi di dinding galian, jelas terlihat lapisan pasir vulkanik, lahar, dan tanah humus yang menutup candi,” ungkap Prof Sri Muyaningsih.

Kini, Candi Morangan masuk daftar Geosite Jogja untuk edukasi kebencanaan, lokasinya dekat dengan permukiman warga. masuk ke lokasi gratis, namun mengisi buku tamu.

Dari dua titik tujuan Field Trip Geosite Jogja itu, dapat diketahui bahwa jjarak waktu Eosen Kalibawang dengan Candi Morangan, Jauh banget, beda antara zaman geologi dengan zaman manusia.

Hitungannya begini: Formasi Nanggulan Eosen Kalibawang, umur sekitar 40 juta tahun lalu. Itu umur batunya, bukan bangunannya. Candi Morangan, dibangun abad 9-10 Masehi, sekitar tahun 900 M. Sampai sekarang 2026, umurnya ∼1.126 tahun, atau 0,001126 juta tahun. Selisihnya: 40.000.000 tahun - 1.126 tahun = ∼39.998.874 tahun, kalau dibulatkan sekitar 40 juta tahun. Jadi batuan yang menjadi fondasi geologi di Kalibawang itu sudah ada 40 juta tahun sebelum orang Mataram Kuno menumpuk batu andesit untuk membangun Candi Morangan.

Kalau Anda berdiri di Candi Morangan, Anda sedang berdiri di atas 2 lapis waktu: Lapisan atas (2,5 meter): endapan lahar Merapi umur ratusan tahun yang ngubur candi, dan Lapisan bawah (jauh di bawah): batuan dasar umur 40 juta tahun yang sama seperti di Nanggulan. Itu kenapa Geopark Jogja keren, karena dalam jarak 30 Km Anda bisa lompat dari Eosen ke Mataram Kuno, tanpa harus melewati ‘Time Tunnel’.

Field Trip berikutnya menuju titik ke-tiga yaitu, Lava Bantal Berbah atau Watuadeg. Cuaca cerah menjadikan jalur setapak mendekati bongkahan bantalnya, tetap aman, tidak licin. Karena dilindungi, maka bongkahan bantal tersebut dilarang di-injak. Lokasinya berada di lembah Kali Opak, perbatasan Kalurahan Jogotirto - Kalitirto, Kapanewon Berbah, Sleman. Dari kota Jogja bisa lewat simpang Ringroad Blok O (Jalan Janti) atau Jalan Solo dekat bandara, sekitar 15 menit.

Dalam kesempatan itu Profesor Prasetyadi dari IAGI Pengda DIY yang adalah Dosen Geologi di UPN ‘Veteran” Yogyakarta, menjelaskan, mengapa disebut lava bantal? Karena batunya berbentuk bulat lonjong menumpuk mirip bantal. Terbentuk waktu lava basal panas dari gunung api bawah laut ketemu air laut langsung dan membeku seketika sekitar 56 juta tahun lalu. Jadi ini bukti bahwa daratan Jawa dulu masih samudra luas. Ini adalah pillow lava terbaik dan langka di selatan Yogyakarta, dasar laut purba yang jadi awal pembentukan Pulau Jawa. Keunikan lain: cuma selisih beberapa meter di seberang sungai ada endapan debu vulkanik dari Formasi Semilir yang umurnya jauh lebih muda (Miosen Awal), jadi Anda menemukan dua zaman geologi yang selisih ribuan sampai jutaan tahun dalam satu area.

Formasi Semilir (Tebing Breksi) umur 20 juta tahun (Miosen) berupa abu dan batu apung dari Letusan Super Gunung Semilir. Miosen itu zaman setelah Eosen, jadi lebih muda.

Formasi Batuan Unik Tebing Breksi berada di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman Dulunya tebing itu ditambang oleh penduduk setempat sebagai sumber penghasilan kehidupan namun sekarang penambangan itu dilarang karena sudah dilindungi, dan kini telah menjadi destinasi wisata tebing ukir raksasa, serta tempat pertunjukan terbuka yang ramai mengundang wisatawan untuk berkunjung dan berselfy-ria. Tempatnya dikelola warga setempat dengan tiket masuk 10K rupia, tersaji aneka kuliner berikut souvenir tanda mata.

Cerita Geologinya: Tebing ini bukan tebing biasa, tapi singkapan Formasi Semilir umur sekitar 20juta tahun lalu. Jadi lebih muda dari Lava Bantal Berbah yang 56 juta tahun, dan secara stratigrafi memang berada di atas Lava Bantal. Litologinya: tuf, batupasir tufan, serpih, dan breksi batuapung dasitan. Simpelnya, ini adalah endapan abu gunung api purba yang ketebalannya lebih dari 200 meter. Dulu ini adalah hasil letusan super dahsyat Gunung Api Purba Semilir. Bayangin abu panas, batu apung, dan material piroklastik muntah dan mengendap tebal, lalu memadat jadi batuan yang kamu lihat sekarang. Singkapan terbaik formasi ini memang ada di daerah Semilir Pathuk, makanya namanya Formasi Semilir.

Kenapa menjadi destinasi wisata? Bekas tambang rakyat yang ditutup 2014 setelah ditetapkan sebagai 1 dari 9 Geoheritage Daerah Istimewa Yogyakarta. Bekas galian setinggi 30 meter itu sekarang menjadi dinding ukir raksasa dengan relief wayang terpahat guna konservasi.

Seperti judul yang penulis pilih yakni “Melintasi Lorong Waktu”, mudahnya begini;

Eosen (50 jt th); Jogja masih berupa laut dalam, kemudian endapan lumpur lantas menjadi Formasi Nanggulan.

Miosen Awal (20 jt th): Lautnya menjadi gunung api bawah laut, yang kemudian meledak, menjadi Tebing Breksi.

Sekarang (0 jt th): Gunungnya sudah mati, tinggal tebing-tebing yang kini dapat disaksikan sendiri.

Jadi kalau Anda berkunjung ke Lava Bantal (56 juta tahun) terus ke Tebing Breksi (20 juta tahun), Anda melakukan lompatan waktu 36 juta tahun, dalam jarak 15 km saja.

Ketua Field Trip Geosite Yogyakarta, Akmaluddin dari IAGI Pengda DIY yang adallah Dosen Teknik Geologi UGM, ketika ditemui Impessa.id mengatakan bahwa Field Trip belajar geologi atau belajar tentang Sejarah Geologi Yogyakarta yang digagas oleh IAGI -Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengda DIY, terbuka untuk umum dalam arti pesertanya tidak harus orang geologi, dihelat dalam rangka merayakan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ahli Geologi se Indonesia, pada 3-5 November 2026, di Hotel Ambarrukmo Yogyakarta.

“Empat lokasi geosite atau Geoprak Yogyakarta yang dipilih masing-masing, Formasi Nanggulan Eosen Kalibawang-Kulon Progo, Candi Morangan -Candi yang Tertimbun Lahar Merapi di Dusun Morangan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman, kemudian Lava Bantal Berbah, Watuadeg di lembah Kali Opak, perbatasan Kalurahan Jogotirto - Kalitirto, Kapanewon Berbah, Sleman, dan di Tebing Breksi Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman,” ujarnya.

“Field Trip Geopark Yogyakarta ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan ke khalayak yang lebih luas keanekaragaman geologi yang ada di Yogyakarta. Pilihan ke-empat lokasi tersebut untuk menggambarkan bagaimana Yogyakarta terbentuk, mulai dari batuan yang paling tua yang umurnya 40-juta tahun kemudian sampai batuan yang paling muda hasil endapan Merapi. Trip pertama di Nanggulan dimana terdapat fosil-fosil namanya fosil foraminifera, berumur 40-juta tahun, yang hidupnya di laut, karena diakibatkan oleh Gerakan Tektonik, maka endapan itu terangkat ke permukaan bumi. Lokasi ke-dua, kita mencoba memahami bahwa Gunung Merapi itu sangat intensif mengeluarkan isinya bukan hanya pada masa kini tetapi juga terjadi pada masa lampau, hingga gunung itu terbentuk. Begitu aktifnya sehingga letusan-lahar-nya banyak menimbun bangunan candi-candi yang dari hasil penelitian jumlahnya lebih dari seratus candi dan kebanyakan lokasinya berada tidak jauh dari tepi Sungai. Untuk titik tujuan ke-tiga menunjukkan bahwa di Jogja itu ada Gunung Api yang sangat tua umurnya, sekitar 23-juta tahun, atau Oligosen, Gunung Api Purba yang namanya Lava Bantal. Menariknya Lava Bantal ini terendapkan di laut, terselingi dengan endapan yang namanya Formasi Semilir yang banyak mengandung abu vulkanik Acara Field Trip Geopark Yogyakarta, dan Field Trip Geosite Yogyakarta ini ditutup dengan berkunjung ke Tebing Breksi,” jelas Akmal lebih lanjut.

Salah seorang peserta Field Trip Geosite Jogja yakni Herlina, kepada Impessa.id mengungkapkan rasa senangnya dapat mengikuti acara yang menurutnya sangat menarik dan menambah wawasan bagi dirinya sebagai Pemandu Wisata. “Dengan adanya kegiatan ini, melihat fosil dan gunung purba di Nanggulan, kemudian ke Candi Morangan, terus ke Lava Bantal, dan terakhir di Tebing Breksi, sangat banyak ilmu yang saya peroleh, semua itu saya catat, agar kelak jika saya bersama tamu saya melewati situs-situs tersebut, saya bisa bercerita banyak, sekaligus ikut membantu mempromosikan geosite, geopark yang ada dan ikut membantu mengembangkan industri pariwisata di Yogyakarta,” ujarnya.

Berangkat pagi hari Sabtu (24/10/2026), diiringi gerimis dan berhasil mengunjungi empat titik lokasi tujuan Geosite Yogyakarta dan berakhir kembali ke Kampus UPN “Veteran” Yogyakarta, waktu sudah menjelang Maghrib, menjadikan wisata geologi Jogja menarik dan penting secara ilmiah, mengingat Jogja itu menjadi salah satu pusat Geopark Gunung Sewu, masuk sebagai UNESCO Global Geopark, dimana dari yang paling tua sampai yang masih aktif semua tersaji di Yogyakarta. (feature of Impessa.id by Antok Wesman)