AKTIVIS YOGYA Gelar Aksi Keprihatinan, STOP EKSPLOITASI, PULIHKAN EKOLOGI
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2026: Kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada masyarakat dan ekosistem di Sumatera, Kalimantan, serta sejumlah wilayah lainnya bukan semata persoalan api dan asap. Bencana ini juga menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi dan respon cepat pemerintah pusat pembenahan tata kelola lingkungan, perlindungan ruang hidup masyarakat, dan penegakan keadilan ekologis.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Aliansi Strategis untuk Tolak Eksploitasi Alam & Pembakaran Hutan yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, akademisi, seniman, budayawan Yogyakarta menginisiasi aksi solidaritas bertajuk “Stop Eksploitasi, Pulihkan Ekologi” pada Minggu, 25 Oktober 2026, Pukul 15.00–18.00 WIB, di Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Aksi ini menjadi ruang perjumpaan solidaritas kemanusiaan, ekspresi seni, refleksi kebudayaan, dan penyampaian sikap kritis terhadap praktik eksploitasi alam yang mengancam keberlanjutan kehidupan.
Melalui aksi ini, Aktivis Yogya menyampaikan solidaritas kepada masyarakat terdampak karhutla, sekaligus mengajak publik untuk melihat persoalan kebakaran hutan dan lahan secara lebih mendasar: bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi juga bagaimana mencegah kerusakan berulang, memulihkan ekosistem, melindungi masyarakat, dan memastikan pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti menyebabkan kerusakan.
“Bumi bukan sekadar sumber keuntungan, hutan bukan semata-mata komoditas, dan kekuasaan bukan hak untuk mengabaikan kehidupan” Pesan ini menjadi landasan moral gerakan Aktivis Yogya dalam menyuarakan pentingnya pembangunan yang berpihak pada keselamatan rakyat, kelestarian alam, dan keadilan antargenerasi.
Aksi solidaritas diisi dengan beragam ekspresi seni dan penyampaian gagasan, antara lain performance art oleh Asrama Mahasiswa Kalimantan, Iwan Wijono, Trio Jago Joko Lisandono, Agus Becak, Tejo Badut, pantomim oleh Andy SW, serta musikalisasi puisi oleh Paseduluran Malioboro, Rekki Zakkia, Risang Yuwono, Hendrik Pangkale dan Sri Khrisna Encik, dll. Acara juga menghadirkan geguritan Lembaga Budaya Jawa Sekar Pangawikan Bambang Nur Singgih dkk serta orasi dari pakar hukum lingkungan Dr. Totok Dwi Diantoro, serta sejumlah penampil dan pengisi acara lainnya.
Pada penghujung aksi dibacakan "Maklumat Dari Jogja Merawat Nusantara." Perpaduan seni, refleksi, dan orasi diharapkan dapat membuka ruang kesadaran bersama bahwa kerusakan ekologis bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab bersama.
Bagi Aktivis Yogya, seni bukan sekadar hiburan dalam sebuah aksi. Seni merupakan bahasa nurani untuk menyampaikan penderitaan, membangkitkan empati, dan menggerakkan keberpihakan terhadap kehidupan sebagaimana filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawono, yang mengandung semangat menjaga keselamatan dan keharmonisan dunia. (Koordinator Aktivis Yogya Widihasto Wasana Putra/Antok Wesman-Impessa.id)

