INSTITUT SENI INDONESIA -ISI YOGYAKARTA Gelar Wisuda Semester Gasal Tahun Akademik 2025-2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Maret 2026: Gelar yang diraih setelah di wisuda, bukan sekadar simbol akademik, namun sebagai buah dari proses panjang: dialog kreatif di ruang-ruang kelas dan studio, eksplorasi di laboratorium dan panggung, riset yang tekun, pengabdian kepada masyarakat, serta perjumpaan intens dengan para dosen, sesama mahasiswa, seniman, dan praktisi. Semua pengalaman itu telah membentuk menjadi lulusan insan seni yang peka, reflektif, dan bertanggung jawab terhadap zaman.
Hal itu dikatakan Rektor Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta Dr. Irwandi, M.Hum. saat menyampaikan sambutan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu, 7 Maret 2026, bertempat di Laboratorium Seni ISI Yogyakarta.
“Hari ini adalah hari yang sarat makna. Kita berkumpul dalam suasana penuh kebanggaan dan haru, menyaksikan para wisudawan, generasi penerus bangsa, menapaki satu tahap penting dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya. Di antara senyum bahagia keluarga, sahabat, dan para dosen, terpatri kisah perjuangan, ketekunan, dan dedikasi yang tidak singkat,” ucap Rektor Dr Irwandi.
Dalam kesempatan itu beliau menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan Program Sarjana, Sarjana Terapan, dan Magister, yang kini resmi menyandang gelar akademik dari ISI Yogyakarta, sebuah pengakuan atas kompetensi, integritas, dan ketekunan yang telah Saudara bangun selama menempuh proses pendidikan.
Periode wisuda semester gasal tahun akademik 2025/2026, ISI Yogyakarta meluluskan sebanyak 435 wisudawan. Jumlah wisudawan tersebut terdiri dari 392 wisudawan dari jenjang sarjana, 31 wisudawan dari jenjang sarjana terapan/diploma IV, 8 wisudawan dari jenjang magister dan 4 wisudawan dari jenjang Doktor.
Pada periode wisuda itu, secara akumulatif, wisudawan terbanyak berasal dari Fakultas Seni Rupa dan Desain dengan jumlah 172 wisudawan, selanjutnya dari Fakultas Seni Pertunjukan dengan jumlah 146 dan Fakultas Seni Media Rekam berjumlah 99 wisudawan dan Program Pascasarjana 12 wisudawan. Dari total wisudawan tercatat sebanyak 163 wisudawan memperoleh predikat cumlaude.
Secara keseluruhan IPK tertinggi untuk program Magister diraih wisudawan Adinda Ayu Widur dari Program S2 Tata Kelola Seni dengan IPK 3,86. IPK tertinggi untuk program Sarjana diperoleh Luna Chantiaya Rushartono dari program studi S1 Tata Kelola Seni dengan IPK 3,99, dan terakhir IPK tertinggi program Sarjana Terapan, diraih oleh Faiza Zahwa Maharani dari D4 Animasi, IPK 3,92.
Usai eforia wisuda, Impessa.id menemui wisudawan terbaik lulus dengan IPK 3,99 bernama Luna Chantiaya Rushartono dari Jurusan Tata Kelola Seni, yang saat itu didampingi kedua orangtuanya, Diah Yulianti dan Raden Ario Rushartono, terkait rencana selanjutnya setelah lulus S-1.
“Saya akan meneruskan studi, kebetulan ada penawaran kuliah di Nanjing University-China, bulan April mendatang, sejak Sekolah Dasar saya belajar Bahasa Mandarin, pernah ke Taiwan juga, dengan begitu saya tetap mengasah kelancaran ngomong Bahasa Mandarin yang saya kuasai,” aku Luna.
Saat tampil di podium mewakili seluruh wisudawan, Luna menyebutkan bahwa ‘Graduation is not just a finish like. It is a completion of word as responsibility and a beginning of another’. Lalu dia menyitir pepatah Tiongkok Kuno yang berbunyi ‘Air yang mengalir ke tempat rendah akan menjadi laut. Seorang yang rendah hati akan menjadi pemimpin’
“Bahwa hidup tidak hanya perihal tujuannya, tetapi juga proses yang membentuk diri di setiap perjalanan yang kita tempuh. Kita di hari ini dibentuk dengan bantuan Allah Subhana Wata’ala yang selalu menemani dan memberikan banyak sekali keajaiban di setiap proses yang kita lalui. Alhamdulillah, saya lahir dari sebuah keluarga yang mementingkan pendidikan dan tanggungjawab. Orangtua saya mengajarkan saya untuk bertanggungjawab dengan pilihan saya, sebagai proses pembentukan karakter diri, dan orangtua saya memberikan kepercayaan penuh untuk hal itu, sehingga itulah yang membuat saya ingin terus melakukan yang terbaik sekaligus menunjukkan bahwa saya dapat bertanggungjawab dengan pilihan serta keputusan saya,” ungkap Luna dengan penuh semangat.
Dalam pada itu, Dyah Yulianti pelukis senior Jogja yang kerap menggelar lukisan-lukisannya dibanyak pameran seni rupa, merasa haru sekaligus bangga dengan kesuksesan yang diraih putrinya. Melalui Impessa.id, Yulianti berharap, “Luna, yang bermakna rembulan, senantiasa bersinar dan memancarkan cahaya kesekitarnya, dan kini telah menjadi putri nan manis, untuk tetap solehah, rendah hati dan berjalan dengan kebaikan,” doa-nya.
Di kesempatan yang sama Impessa.id bersua dengan Caroline Rika Winata, disainer yang ikonik dengan ‘kain celup’nya, turut di wisuda untuk S-2 nya. Impessa.id sempat gusar bagaimana cara dirinya dapat membagi waktu, mengingat berderet profesi yang disandangnya. Selain sebagai ibu rumah tangga, care-deeper, Ketua Komunitas, mahasiswa, dia juga disainer dan seniman.
“Saya bagi-bagi waktu, semisal bulan ini fokus di rencana A, kemudian bulan depan fokus di rencana B, begitu seterusnya, saya memakai skala prioritas. Saya sangat terbantukan oleh ibu-ibu selaku asisten saya dikala saya harus menyelesaikan sebuah pameran, semua itu berjalan lancar karena ada Tim Work,” ujar Caroline yang kini sedang mempersiapkan pameran tunggalnya di Singapura pada Juni-Juli mendatang. (Feature of Impessa.id by Heri Abi-Antok Wesman)
