Event

Diplomasi Budaya Memadukan Mahakarya Candi Prambanan Dengan Mahakarya Musik Dunia Lewat Prambanan Jazz Festival

Diplomasi Budaya Memadukan Mahakarya Candi Prambanan Dengan Mahakarya Musik Dunia Lewat Prambanan Jazz Festival

Diplomasi Budaya Memadukan Mahakarya Candi Prambanan Dengan Mahakarya Musik Dunia Lewat Prambanan Jazz Festival.

Impessa.id, Jogja : Promotor Rajawali Indonesia Communication berhasil melakukan Diplomasi Budaya memadukan warisan dunia Mahakarya Candi Prambanan dengan Mahakarya Musik Dunia dalam Prambanan Jazz Festival.

Kehadiran musisi dunia Diana Krall dan Boyzone di Prambanan Jazz Festival 2018, membuktikan sukses yang kesekian-kali bagi Rajawali Indonesia Communication melakukan Diplomasi Budaya untuk membantu Pemerintah memenuhi target 20-juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia di tahun 2018.

Rajawali Indonesia Communication, telah sukses  menghadirkan musisi-musisi dunia tampil di Prambanan Jazz Festival sebelumnya, sebutlah nama-nama Kenny G, Rick Price, Boys II Men, dan Sarah Brightman.

Prambanan Jazz Festival 2018 memasuki episode yang ke-empat dan dengan mengusung tagline “Art, Experience, and Masterpiece”, berlangsung tiga hari berturut-turut, 17, 18 dan 19 Agustus, di Kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, dengan dua panggung pertunjukan musik masing-masing, Panggung Hanoman untuk Festival Show berlokasi di Lapangan Wisnu, dan Panggung Rorojonggrang untuk Spesial Show berada di Lapangan Brahma.

World Heritage, atau Warisan Dunia, dengan budaya popular masyarakat Indonesia berupa Maha Karya Musik. Suatu alternatif pertunjukan musik sekaligus peristiwa Budaya, yang layak untuk diapresiasi. CEO Rajawali Indonesia Communication, Anas Syahrul Alimi menuturkan, segmentasi menuju perhelatan musik jazz mulai terbentuk, tampak dari komposisi musisi yang tampil.

“Musik Jazz itu segmented sih, perlu proses untuk membuat orang menyukainya, sehingga melalui tahapan perlahan tapi pasti kearah itu akan tercapai, hal ini nampak untuk episode ke-4 kali ini, komposisi musisi jazz yang tampil sudah 60%, dibandingkan dengan episode sebelumnya, suatu kemajuan yang berarti”, ungkap Anas kepada wartawan, Jum’at (17/08/18)

Kehadiran Diana Krall dan Boyzone, berhasil menggiring khalayak dunia berpaling ke Yogyakarta, lebih dari 50% pembeli tiket berasal dari mancanegara, karena penjualan tiketnya sudah melalui On-Line. Diana Krall, musisi peraih dua Penghargaan Grammy Award kategori “Best Jazz Vocal Performance” di tahun 1997, kemudian meraih Penghargaan Best Jazz Vocal Album di tahun 2002, memang khusus hadir di Indonesia semata untuk tampil di Prambanan Jazz Festival 2018.

Demikian halnya Boyzone, grup vocal asal Irlandia yang begitu digandrungi di era 2000-an, dan yang menarik adalah penampilan di Prambanan Jazz Festival 2018 menjadi momen Farewell, perpisahan mereka, karena setelahnya mereka akan bubar,berhenti berkarir dalam satu grup bernama Boyzone.

Untuk memperoleh ijin menggunakan Kompleks Candi Prambanan tidaklah mudah, harus melalui prosedur detil dan boleh dikata rumit. Namun pihak promotor berhasil melalui semua prosedur tersebut sehingga para publik penggemar musik Jazz semakin percaya terhadap kinerja Rajawali Indonesia Communication yang dari Yogyakarta. Proses perijinan itu diungkapkan

Bakkar Wibowo selaku Direktur Prambanan Jazz Festival kepada wartawan. “Memang tidak lah mudah memperoleh ijin untuk menggelar konser musik di Candi Prambanan, banyak peraturannya, prosedurnya sangat ketat mengingat Candi Prambanan kini sudah milik dunia sehingga betul-betul ada standar international aturan untuk menggunakannya,” jelas Bakkar Wibowo.

Tercatat 27 musisi nasional yang terlibat didalam pementasan Prambanan Jazz Festival 2018, diantaranya, Idang Rasyidi, Indra Lesmana, Syaharani, Monita Tahalea, Fariz RM, Tohpati, Tompi, Marcell, Rio Febrian, Kahitran atau Kahitna featuring RAN, dan penyanyi senior Malaysia, Sheila Majid yang di era 90-an popular di blantika musik Indonesia dengan lagu “Sinaran”.

Dalam perhelatan akbar tersebut, pihak promotor meluncurkan buku berjudul “100 Konser Musik Di Indonesia” setebal 700 halaman tentang sejarah konser musik di Indonesia sejak Kemerdekaan RI. Harga normal 200-ribu rupiah namun selama konser pengunjung yang membeli akan mendapatkan diskon 50%. Menurut Anas, seluruh dana hasil penjualan buku itu akan disumbangkan untuk korban Gempa 7 SR Lombok. (Tok)