Bincang Buku Kami Mantan Wartawan Di Museum Sandi Yogyakarta, Sabtu, 17 Februari 2024
Impessa.id, Yogyakarta: Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta -PWSY membincangkan buku berjudul ‘Kami Mantan Wartawan’, yang dieditori Albert Kuhon, anggota Paguyuban Wartawan Sepuh, yang tinggal di Yogyakarta. Diskusi ini kerjasama dengan Sastra Bulan Purnama, yang setiap bulan membuka ruang diskusi yang diberi label ‘Obrolan Sastra Bulan Purnama’, yang pada kali ini memasuki edisi 9.
Diskusi diselenggarakan Sabtu malam, 17 Februari 2024, di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Yogyakarta, menghadirkan narasumber, Albert Kuhon, editor buku dan pernah menjadi wartawan media cetak dan televisi. Buku ‘Kami Mantan Wartawab’ menyajikan kisah para wartawan di salah satu media cetak, yang pada waktu itu wartawannya/korespondennya tersebar di kota-kota di Indonesia.
Albert Kuhon
“Buku yang disiapkan selama dua tahun ini, menjadi secuil catatan sejarah perjalanan kaum jurnalis di Indonesia. Banyak pengalaman para wartawan yang menarik, yang diungkapan dalam buku ini”, ujar Albert Kuhon.
Hadir sebagai narasumber, yang membahas buku ini, N. Krisnam, seorang wartawan senior ,media cetak di Jogja, dan pernah menjadi anggota DPRD DIY, bertindak sebagai moderator Sarworo Suprapto, wartawan di media cetak. Dua narasumber dan seorang moderator merupakan anggota Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta -PWSY.
Krisnam
“Diskusi ini, selain membincang buku, sekaligus merupakan ruang interkasi dan silaturahmi antar anggota PWSY bersama masyarakat yang lebih luas”, ujar Ons Untoro, penyelenggara diskusi dari PWS sekaligus dari Sastra Bulan Purnama.
Kuhon menjelaskan, dalam buku ini diungkapkan banyak ragam pengalaman wartawan yang bisa dipetik. Bisa menjadi sekadar bacaan ringan, tapi bisa juga menjadi bahan telaah yang serius. Bisa jadi bekal bagi jurnalis muda dan mahasiswa yang menggeluti bidang informasi. Bahkan bisa jadi pembanding antara generasi yang harus bekerja keras dengan generasi milenial.
“Kebiasaan mendapatkan segala sesuatu secara instan yang berkembang belakangan ini, berdampak sangat serius terhadap perkembangan jurnalisme di Indonesia”, ujar Albert Kuhon.
Sarworo Suprapto
Perlu diketahui, Paguyuban Wartawan Sepuh merupakan komunitas yang anggotanya semua wartawan, atau pernah menjadi wartawan, yang kemudian menemph profesi lain, misalnya dokter, dosen, bahkan ada yang menjadi rektor dan dekan. Mereka tidak hanya tinggal di Yogya, melainkan ada yang tinggal di Jakarta. Yang masuk di komunitas Wartawan Sepuh, bukan hanya wartawan dari media cetak, tetapi ada wartawan televisi dan wartawan radio.
“Kata sepuh dipilih agar terasa lebih netral dibandingkan dengan kata senior, dan kata sepuh mengandung keakraban dengan semua kalangan wartawan,” ujar Ons Untoro. (Ons/Antok Wesman-Impessa.id)

