Feature

Kelompok Seni ABDW Gunung Kidul Pameran di Indieart House Yogyakarta, 11-26 Desember 2021

Kelompok Seni ABDW Gunung Kidul Pameran di Indieart House Yogyakarta, 11-26 Desember 2021

Kelompok Seni ABDW Gunung Kidul Pameran di Indieart House Yogyakarta, 11-26 Desember 2021

Impessa.id, Yogyakarta: Pameran bersama 14 anggota Kelompok Seni ABDW Gunung Kidul, Yogyakarta, dalam tajuk “MULO”, berlangsung 11-26 Desember 2021, di Indieart House Jalan AS Samawaat Nomor 99 Bekelan, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul. Rio Rahardjo, koordinator sekaligus kurator pameran ketika ditemui Impessa.id disela-sela penyelenggaraaan pameran menuturkan, “Mulo, dalam Bahasa Indonesia yang berarti permulaan, cenderung diasosiasikan untuk menunjukkan awalan, asal mula, pokok asal, yang pertama, atau bahkan ihwal yang brkewajiban mencari ‘hakekat ada’, secara mendasar,” ujarnya.

Dikatakan, alih-alih hanya mendekati istilah ini dengan melakuan penelusuran yang mempertanyakan segala sesuatunya secara ontologis dan definitife, pameran ini justru hendak menjelajahi keluasaan relasinya dengan waktu, yang memungkinkan kita bermain, merangkai, mempersiapkan, bahkan meretas untuk sebuah permulaan. Sejauhmana Mulo, Permulaan mampu menjadi ruang negosiasi personal dan kolektif, dari gerak waktu jaman yang berubah, bagaimana kita sebagai penyintas waktu memaknai istilah permulaan dalam ruang waktu yang terbatas.

Waktu menjadi entitas dari ruang itu sendiri, sebab waktu telah lama dipercaya sebagai titik permulaan penciptaan alam semesta. Dalam konteks totalitas waktu, manusia memahami konstruksi waktu yang kontradiktif, yakni memahami waktu yang bersifat siklus dan memahami waktu yang bersifat linier. Melalui konsep inilah istuilah MULO, Permulaan secara leluasa dibaca, dimaknai dan diartikulasikan oleh 14 perupa ABDW Gunung Kidul. Adapun ABDW terbentuk tahun 2019, merupakan komunitas perupa di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang punya keresahan tentang pertumbuhan kota dan praktek berkesenian di wilayahnya.

Salah seorang perupa yang ditemui Impessa.id bernama Wikhani Ismaya, yang akrab disapa Maya, memajang karyanya berjudul “Perkenalan Awal Mula Yang Baik” berupa instalasi enam panel Midangan (Hoop Art) beragam ukuran berisi sulaman benang Ruwet diatas Kain Organdy dengan deretan Sarang Lebah berbentuk Hexagonal atau segi-enam berwarna Gold. Melalui karyanya Maya menuturkan bahwa “Perkenalan itu awal yang baik, sehingga dapat mengetahui karakter orang yang selama ini hanya dalam ekspektasi. Perkenalan bisa menjadi relasi, kemudian membentuk komunitas,” ujarnya.namun melalui karyanya Maya menunjukkan ada benang ruwet, atau benang kusut pada sulamannya, yang dia artikan sebagai ending yang tidak baik dari perkenalan tersebut.

Sementara itu Beny Cahya memajang karyanya berupa Jaket Kulit Hitam berjudul “Sahir Story Under Shadow”. Kepada Impessa.id Beny Cahya mengungkapkan makna karyanya itu. Jaket Hitam identik dengan petualang, sering berpindah-pindah, sebagaimana yang dialami diri dan keluarganya. Di lengan kanan terlukis Pohon yang artinya masih terjaganya kelestarian alam dengan rimbunnya pepohonan. Di atasnya terlukis ‘Buto’ penanda dunia hitam, kemudian ditengah tergantung Kunci, yakni kunci kamar kakeknya yang masih dia bawa, dengan latar belakang Api yang menyala-nyala, sebagai riwayat diri pribadinya, ada Lilin yang artinya penerang, ada emblem Pramuka bermakna mampu berdikari dan mandiri, serta gambar Bintang Daud sebagai symbol metal, karena pernah punya band metal progresif eksis selama empat tahun, (2017-2021) namun kini bubar berhubung dua gitarisnya pulang kampung.

Pameran Seni Rupa “MULO” di Indieart House menandai bangkitnya kembali gairah dunia berkesenian di Yogyakarta setelah hilang selama pandemi, Komunitas ABDW yang notabene adalah seniman-seniman muda yang mengisi ruang pamer Indieart House, seakan mengembalikan semangat yang terpendam. Kiprah mereka membuat sang pemilik IndieArt House Nyoman Darya yang dikenal melalui karya lukisan komik yang diparodikan itu, tersenyum lebar.

Indieart House memiliki luasan ruang pamer, 10x15 meter-persegi, cukup representative bagi seniman pemula untuk berpameran sekaligus menjadi ruang alternatif untuk dimanfaatkan seniman muda memajang karya-karyanya. “Dengan adanya pameran seni rupa oleh seniman-seniman dari komunitas ABDW Gunung Kidul di Indiart House ini, semoga tersebar luas sehingga di apresiasi secara luas oleh masyarakat, dan harapannya sesegera mungkin orang luar bisa berkunjung kembali ke Yogyakarta,” ungkap Nyoman Darya yang didampingi Nuraini Puji Astuti.

Info detail terkait profile Indieart House Bekelan-Tirtonirmolo-Kasihan-Bantul, Yogyakarta, dapat di klik di medsos berikut ini: https://www.facebook.com/profile.php?id=100009466550633,

https://instagram.com/indiearthouse?utm_medium=copy_link, http://www.indiearthouse.com/

https://vt.tiktok.com/ZSefBTaJX/

Pameran seni rupa “MULO” yang dibuka oleh seniman Ugo Untoro pada Sabtu (11/12/2021) menampilkan karya dari 14 seniman masing-masing, Bangkit Kusuma, Beny Cahya Wijaya, Christian Cahaya Nugraha, Diliyan Eka Saputra, Dwi Rahmanto aka Dwe, Firma Summa, Guntur Susilo, Ismu Ismoyo, Lintang Pramono, Ndaru Mustaking W, Stefanus Endry Pragusta, Tri Suci Widodo aka Ankshih, Wikhani Ismaya, dan Yohanes Dwi aka Adhul. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)