Feature

Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Bedah Buku Pembaruan Islam Yudian Wahyudi

Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Bedah Buku Pembaruan Islam Yudian Wahyudi

Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dan Bedah Buku Pembaruan Islam Yudian Wahyudi

Prof Yudian Wahyudi: Ijtihad Hukum Islam Perkuat Jiwa Kebangsaan

Impessa.id, Yogyakarta: Kehadiran Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia -BPIP, Prof Yudian Wahyudi kedalam ruang berlangsungnya acara Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Festival Ide Kebangsaan dan Bedah Buku Pembaruan Islam Yudian Wahyudi, di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, disambut dengan Sholawat Badar oleh Hadroh Al Mizan mahasiswa UIN Suka.

Acara Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Festival Ide Kebangsaan dan Bedah Buku Pembaruan Islam Yudian Wahyudi tersebut dibuka oleh Wakil Rektor 2 UIN Sunan Kalijaga, Dr Phil Sahiron MA pada Rabu (15/12/2021), di Gedung Prof Dr Soenarjo Lantai 1 atau Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dihadiri para Pembantu Rektor dan para Dekan, serta undangan terbatas sesuai ProKes.

Disela-sela Ishoma seusai acara, Impessa.id menemui Prof Yudian Wahyudi menanyakan intisari perhelatan acara tersebut. “Ini kan rangkaian dari peringatan Hari Santri, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, Hari Guru, dan Hari Ibu, pungkasannya, dan disini intinya adalah dengan Bedah Buku ini mengingatkan kembali bahwa, hubungan antara Islam dengan Pancasila itu hubungan yang sudah terpatri jauh, sejak awal kita merdeka. Itu dipelajari dari tokoh-tokoh yang ada didalam buku ini yang masing-masing mempunyai sumbangsih, yang kalau kita ambil pada sisi masing-masing itu menjadikan kesatuan yang bulat, bahwa hidup di negara Pancasila ini bagi muslim Indonesia itu sebetulnya hidup yang sangat di ridhoi Allah Subhanahu wa Ta a’la. Jadi dari itu hubugan antara nasionalisme dengan Islam itu merupakan hubungan yang saling mengisi antara Pancasila dengan Islam. Ke-Pancasila-an dan ke-Islaman itu bagian yang harus dipertahankan oleh setiap muslim yang hidup di Indonesia. Dari situ baru melebar ke seluruh warga negara Republik Indonesia. Pancasila itu punya prinsip yang disebut dengan Bhineka Tunggal Ika, dan gambaran ini diberikan oleh perbedaan sisi pandang atau fokus perjuangan tokoh-tokoh ini dalam rangka membangun negara Pancasila ini. Jadi dengan demikian, dengan berdasarkan konsensus ini kita sekarang saling mengisi, berdasarkan minat dan bakat kita masing-masing, yang dari situ diharapkan kedepan setiap orang akan menjadi Pancasilais dan setiap orang akan menjadi Pahlawan di masa depan yang bidang kepahlawanannya berdasarkan Bhineka Tunggal Ika,” ungkap Prof Yudian secara panjang lebar.

Dalam pengantar buku “Pembaruan Islam Yudian Wahyudi”, Dr KH Agus Moh Najib Mag menuliskan bahwa pengalaman kolonialisme hingga kehidupan sosial politik kontemporer menimbulkan kekayaan pemikiran yang dinamis tentang relasi antara negara, pembentukan hukum, dan teologi. Sentral dalam dinamika pemikiran ini adalah bagaimana metode hukum Islam diadaptasi di dalam sistem dan bagaimana penggunaan metode tersebut berdampak praktis pada konstruksi pemikiran muslim tentang kenegaraan dan kesejahteraan bangsa. Penggunaan metode hukum Islam yang berorientasi praktis-aplikatif pada kemaslahatan (maqasid shariah) dan kemitraan yang dinamis antara hukum Islam, hukum Indonesia dan unsur kebudayaan lokal (urf) menjadi bahan penting untuk meramu jiwa kebangsaan dan kemajuan Umat Islam di Indonesia.

Gagasan tersebut mencirikan sumbangan khas Kepala Badan Pembinaan Ideologi pancasila, Prof Yudian Wahyudi, dalam Pembaruan Islam. Kekhasan ini terutama terlihat bila dibandingkan dengan para pendahulu pemikir Islam di Indonesia seperti Hazairin, Hasbi Assiddiqi, Nurcholis Majid dan Quraish Shihab. Hal itu terungkap dalam acara bedah buku, “Pembaruan Islam Yudian Wahyudi: Komparasi dengan Hasbi Ash Shiddiey, Hazairin, Nurcholish Majid, dan Quraish Shihab' yang ditulis oleh Khoirul Anam, dkk.

Dalam sambutan pembukaanya, Prof Yudian Wahyudi, yang pernah menjadi dosen di Harvard Law School, menyebutkan para pendahulu pemikiran Islam Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Hazairin mengkritisi pendekatan teori receptie yang didesain oleh kepentingan kolonial untuk mencegah munculnya kekuatan Islam. Hasbi Assiddiqi berperan penting dalam memperkenalkan fikih Indonesia yang terbuka pada kebudayaan lokal (urf) sebagai sumber hukum. Nurcholis Majid menawarkan sekularisasi pemikiran. Memperkuat pemikiran keislaman, Yudian menggabungkan kelebihan-kelebihan pemikir sebelumnya dengan keunggulannya memberikan penafsiran ayat Al-Quran kontemporer yang aplikatif dan adaptif terhadap kebutuhan jaman.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Phil. Sahiron, M.A, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Kepegawaian UIN Sunan Kalijaga yang juga sekaligus Ketua Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir (AIAT) Indonesia, menyatakan bahwa pemikiran Prof Yudian memberi kontribusi yang sangat signifikan dalam penafsiran hukum Islam di Indonesia. Pendapat ini diiyakan oleh sejumlah penulis yang menyebut Prof Yudian sebagai mujtahid.  “Hampir 30 persen penulis resensi mengambil judul yang menyebut Prof Yudian sebagai mujtahid. Padahal mereka menulis secara organik, tidak ada panduan,” terang Sahiron.

Mengafirmasi pendapat Dr. Phil. Sahiron, Prof. Agus Najib, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga mengungkapkan jika Prof. Yudian adalah salah satu pemikir dari PTKIN yang memiliki sanad keilmuan jelas, bagaimana pemikirannya terbentuk dari hasil kombinasi pendidikan produk barat (Eropa dan Amerika) dan timur (Islam). Bidang keahliannya sangat luas yang meliputi, filsafat, politik, hukum, pendidikan, dan sejarah Islam. Hal tersebut tergambarkan pada pemikirannya mengenai kekuasaan dunia, bagaimana manusia dituntut memiliki kausa materialis dan kausa spiritualis yang tergambarkan dalam penguasaan IPTEK dan pengamalan ajaran agama sebagai jalan untuk menguasai dunia.

Sementara itu, Khoirul Anam, Editor buku 'Pembaruan Islam Yudian Wahyudi' menyampaikan jika belum ada sebuah buku yang agak lengkap dalam mengumpulkan tulisan dan pidato Prof. Yudian di berbagai kegiatan ilmiah. Padahak di era disrupsi sekarang kita membutuhkan pemikir yang memiliki pendekatan radikal dan progresif, agar Fiqih diadopsi oleh orang Indonesia secara dinamis dengan dibarengi oleh tradisi kebudayaan dan kebiasaan masyarakat Indonesia. "Saya membaca setelah zaman Khakifah Al Makmun dengan Baitul Hikmahnya, gerakan Islam cenderung surut hingga sekarang. Sampai akhirnya kita bertemu dengan pemikiran Prof. Yudian yang cenderung empirik dan aplikatif", tegasnya.

Di luar sepak terjangnya sebagai pemikir, Prof. Yudian juga memiliki jejak organisatoris yang kuat. Di antaranya menjadi Rektor Indonesia pertama yang menjadi Presiden AIUA (Asian Islamic Universities Association). Kiprahnya sebagai Presiden AIUA memiliki pesan kuat yang berlapis-lapis. Ini tidak hanya membuktikan pengakuan Asia kepada perguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga pengakuan tokoh sekaligus pejabat pendidikan di Asia terhadap kapasitas Prof. Yudian. Kemudian jika dilihat dari capaian jabatan akademik sebagai Profesor, Prof Yudian kelihatan paling menonjol karena tidak hanya mendapatkan gelar Profesor dari dalam negeri, tetapi juga mendapatkan gelar Profesor dari American Association of University Professors (2005-2006) di Amerika. Sehingga persis apa yang dikatakan oleh Dr. Phil. Sahiron bahwa Prof. Yudian adalah Sang Mujtahid Kontemporer. (Tim Humas UIN Suka/Antok Wesman-Impessa.id)