Feature

Yogyakarta Komik Weeks 2021, Kreasi Adaptasi, 8-17 Oktober 2021 Di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo

Yogyakarta Komik Weeks 2021, Kreasi Adaptasi, 8-17 Oktober 2021 Di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo

Yogyakarta Komik Weeks 2021, Kreasi Adaptasi, 8-17 Oktober 2021 Di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo

Pengunjung Pameran Yogyakarta Komik Week 2021 wajib melakukan reservasi

Impessa.id, Yogyakarta: Perkembangan komik di Tanah Air khususnya di Yogyakarta terus mengalir tak pernah berhenti dan fenomena itu dapat disaksikan langsung melalui Pameran Yogyakarta Komik Weeks di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo yang berlokasi di Jalan Trikora No.4 Yogyakarta, terbuka untuk publik, pada 9-17 Oktober 2021, pukul 10.00-17.00 WIB.

Pameran Yogyakarta Komik Weeks 2021, bertajuk “Kreasi Adaptasi” menyajikan karya Komik dari hasil Lomba Komik Kukuruyug #7 tahun 2021 teruntuk pelajar SMA/SMK se Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan Mulyakarya Seniman Kolektif sebagai pelaksananya, dan dibiayai dengan Dana Keistimewaan, pada Agustus 2021, kemudian Komik-Komik karya senior dan Komik-Komik Legenda Indonesia, seperti karya Teguh Santosa dan Ganes TH yang begitu populer di tahun 70-80-an.

Lomba Komik Kukuruyug #7 tahun 2021 diselenggarakan secara daring, dan diikuti oleh 126 pelajar SMA/SMK sederajat se-DIY. Lomba Komik Kukuruyug #7 memilih 30 finalis yang karyanya dipamerkan di acara Yogyakarta Komik Weeks 2021 bersama-sama 30 seniman komik undangan.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi SS MA menyatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen memberikan ruang kreatif bagi  penggiat seni sebagai motivasi untuk tetap menggelar Yogyakarta Komik Week 2021 ditengah situasi yang serba sulit. “Kami berharap bersama Mulyakarya, Yogyakarta Komik Week dari tahun ke tahun, dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia komik di Yogyakarta dan di Indonesia secara luas,” ujarnya.

Terra Bajraghosa dan Catur Danang dalam kuratorial Kukuruyug! “Kreasi Adaptasi” secara Panjang lebar menjelaskan bahwa pandemi belum pula berakhir, protokol kesehatan harus selalu dipatuhi demi kenyamanan dan keselamatan. Kita berada di sebuah era kenormalan baru, semua yang dulu belum pernah dibiasakan dan dilakukan, sekarang menjadi sebuah kewajaran anyar.

Komik sebagai medium bercerita dan berekspresi, komik atau seni gambar sekuensial di Indonesia dalam satu dekade ini mengalami perkembangan yang cukup menjanjikan. Kurang dari satu dekade lagi ke depan, komik modern Indonesia genap berusia 100 tahun; jika komik Put On karya Kho Wang Gie yang tayang sejak 1930 dijadikan patokan kemunculannya. Secara bentuk media, komik di Indonesia hadir mengisi setiap celah yang ada. Komik cetak masih terus diterbitkan baik secara mandiri oleh pekomiknya sendiri maupun lewat penerbit. Komik digital yang tayang melalui platform komik-web ataupun situs web lain juga terus menghadirkan judul-judul baru. Termasuk platform yang memungkinkan monetizing bagi pekomik melalui fitur berlangganan. Media sosial apapun versinya, selalu digunakan oleh para pekomik untuk terus berkarya.

Dua tahun terakhir, karya-karya komik tersebut pada kenyataannya, meskipun sebagian dengan terseok, tetap berupaya hadir menyapa pembacanya di saat suasana pandemi yang masih terus membayangi. Ruang gerak yang terbatas, prioritas waktu, dan bentuk kegiatan dalam usaha mempertahankan kesehatan diri sendiri dan keluarga, tidak menyurutkan para pekomik untuk terus berkarya. Di luar itu, banyak pula perupa yang berkarya dengan pendekatan komik atau menghasilkan karya yang memiliki sifat dan gramatika khas komik.

Pameran Yogyakarta Komik Weeks 2021 hendak melihat bahwa kondisi yang mampu diciptakan oleh setiap seniman komik tersebut untuk bisa terus berkreasi adalah sebagai suatu bentuk adaptasi. Setiap bentuk kreasi oleh masing-masing pekomik dalam terus mengupayakan karya dalam situasi pandemi, dalam keadaan normal yang baru, dan apa pun nanti yang terus berubah, merupakan suatu bentuk adaptasi dalam mempertahankan kehidupannya dan kehidupan karyanya.

Untuk itulah “Kreasi Adaptasi” dipilih sebagai tajuk pameran Yogyakarta Komik Weeks 2021, yang ditawarkan kepada seniman komik undangan sebagai tema pameran dan dijadikan tema dasar lomba komik strip Kukuruyug #7.

Adaptasi secara umum memiliki arti sebagai aksi atau proses membuat (sesuatu) menjadi sesuai untuk kegunaan atau tujuan baru. Dalam paham biologi, adaptasi adalah proses perubahan di mana organisme atau spesies menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dan hal inilah yang nampak jelas satu setengah tahun terakhir ini, di mana seniman komik terus mencoba berkarya di tengah suasana pandemi.

Yunus Erlangga melalui @komik.bungah berusaha terus melakukan hobinya dan mencatatnya dalam diary gowes, atau bersepeda. Begitu juga dengan Bofag yang berusaha terus menyibukkan dirinya, dengan teknik bleaching ia membuat yang hitam menjadi torehan-torehan ‘catatan visual’, atas apapun yang mampir ke benaknya. Aris MyBret membagikan hasilnya menjelajahi lingkungan sekitarnya dalam karya sketsa.

Ugo Untoro dikenal rajin berkarya, dan tidak bisa diam. Sebagai bukti hobinya kepada komik, gramatika khas komik seperti balon kata, onomatope atau efek suara visual, hingga panel, ia adaptasi ke dalam lukisannya. Siasat-siasat masa pandemi dihadirkan oleh Nicky Raisa dalam karyanya, begitu juga dengan Mario Tagambe. Ia berkreasi dengan botol kemasan di mana cerita komiknya menyesuaikan diri dengan jenis kopi yang ada di dalam kemasan.

Adaptasi terhadap lingkungan nampaknya tidak terjadi di alam yang kita kenal secara kasat mata saja, namun juga alam lain, seperti dalam karya Cantika, di mana sang tokoh harus beradaptasi ke ‘lingkungan baru’. Begitu juga dengan Indiria Maharsi yang berbagi penglihatannya kepada pembaca komiknya saban malam Jumat. Lain lagi dengan Ermambang Bendung yang membuat sesuatu yang sering dianggap mitos menjadi visualisasi yang nyata dalam gambarnya.

Satu kutipan yang cukup terkenal tentang adaptasi, sering disebut bersumber dari Charles Darwin, dalam versi ringkasnya berbunyi: “Bukan yang terkuat atau yang terpandai yang mampu bertahan, melainkan yang paling bisa beradaptasi”.

Kutipan inipun sebenarnya adalah bentuk “adaptasi” itu sendiri, karena sebenarnya ucapan tersebut tidak langsung disampaikan oleh Darwin. Kutipan tersebut adalah hasil penyimpulan Leon C Megginson, seorang ahli ekonomi, atas serangkaian tulisan Darwin, yang ia sampaikan dalam sebuah pidato tahun 1963, untuk suatu tujuan. Menariknya lagi, dikaitkan dengan komik, karya Darwin pun pernah diadaptasi menjadi komik dalam judul “Charles Darwin’s On The Origin of Species: A Graphic Adaptation” oleh Michael Keller dan Nicolle R. Fuller, yang pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Selain dimaknai sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap keadaan lingkungan, dalam pengertian media, adaptasi sering dilihat sebagai pengubahan (suatu teks) sehingga sesuai untuk difilmkan atau dipentaskan. Menurut Karin Kukkonen dalam “Studying Comics and Graphic Novel” (2013), adaptasi sendiri dalam komik terwujud ketika adanya perpindahan satu naratif, misalnya dari novel ke komik atau novel grafis. Seno Gumira Ajidarma cukup banyak menyinggung adaptasi ini dalam bukunya “Ngobrolin Komik” (2021). Yang paling terlihat adalah perbincangannya mengenai bagaimana RA Kosasih dengan mengacu naskah Ramayana dan Mahabharata dari India ‘tanpa pantasi dan tambahan’, menjadi komik yang sesuai untuk pembaca Indonesia. Demikian juga bagaimana kisah Tarzan (1912) karya Edgar Rice Burroughs diadaptasi menjadi banyak versi dalam komik Indonesia seperti Mala (1955), Jakawana (1955), dan Wiro (1956).

Teguh Santosa selain melahirkan karya yang mengadaptasi narasi sejarah menjadi narasi fiksi-sejarah, ia juga dikenal karena mengkomikkan kisah Mahabharata, Bharatayuda, Damar Wulan, dan juga kisah-kisah legenda dengan penggambaran yang dianggap paling mampu mewakili bayangan pembaca atas tokoh-tokoh yang ada. Ketika berkiprah di surat kabar dan majalah, Teguh Santosa mengomikkan naskah-naskah dari penulis S.H. Mintardja dan Arswendo Atmowiloto. Sweta Kartika melalui seri komik H20 menyerap inti naskah Ramayana dan mengadaptasinya ke dalam kisah distopia bertokoh utama robot dan kepandaian artifisial. Kisah-kisah mitos yang hidup dalam budaya Jawa dan Bali diadaptasi oleh pasangan Ado dan Salma ke dalam karya komik nirujar mereka.

Menyinggung adaptasi yang identik dengan pengubahan atau pemindahan ini, perlu juga disebut karya esai panjang Sapardi Djoko Damono yang menjadi buku “Alih Wahana” (edisi revisi pertama, 2012). Menurut Sapardi, Alih Wahana adalah pengubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian yang lain, di mana pengubahan mencakup kegiatan penerjemahan, penyaduran, dan pemindahan. Secara menarik, karya puisi Sapardi yang berjudul “Hujan Bulan Juni” juga telah diadaptasi, di-alihwahana-kan ke dalam komik pendek, novel, film, dan kembali ke komik lagi. Antologi komik “Hujan Bulan Juni”, yang dikerjakan secara kolektif oleh @deskovikj (alumni, dosen, dan mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta), tampil dalam pameran ini. Selain itu ada pula puisi Wiji Thukul yang diadaptasi menjadi komik oleh K. Jati yang berusaha keras menghidupkan muatan dan semangat puisi tersebut. Lanang Putro terbiasa menggubah komiknya berdasar naskah kitab suci ke dalam kisah gambar yang lebih sederhana.

Komik sendiri juga dipindahkan narasinya, menjadi film-film yang umumnya dikenal mengangkat kisah superhero dan action. Di Indonesia, komik-komik silat tahun 1970-an banyak diadaptasi menjadi film layar lebar, yang belakangan ini kembali dihidupkan trennya. Ganes TH, yang terkenal dengan “Si Buta Dari Gua Hantu” dan “Reo Manusia Serigala” menjadi salah satu pekomik yang karyanya banyak dijadikan film, dan juga sinetron. Belakangan ini, kisah Si Buta pun dikembangkan menjadi komik dengan tampilan dan gaya tutur yang baru, disertai dengan carangannya yang menceritakan asal-usul musuh bebuyutannya, dan tidak ketinggalan pula tafsir para pekomik generasi sekarang terhadap Si Buta dalam sebuah antologi.

Karya Widi Susanto sedang dikembangkan menjadi film, dan sebaliknya, karya Aulia Azziawaty adalah adaptasi dari film “Yo Wis Ben”. Mulyakarya, sebagai kolektif komik mencoba mengadaptasi naskah komik ke drama komikal pertama kali pada tahun 2012. Hal tersebut terus dipertahankan setelahnya dengan melibatkan komikus dan sutradara di luar Mulyakarya, seperti bisa disimak pada acara pendamping pameran Yogyakarta Komik Weeks setiap tahunnya.

Ketika melakukan kreasi adalah tantangan pertama bagi setiap pekomik atau perupa yang diundang, sebagai hal mendasar yang harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi di dunia seni komik, adaptasi lalu menjadi tantangan berikutnya; adaptasi terhadap apa, apa yang dilakukan, bagaimana bentuknya, bagaimana melakukannya, dan banyak lagi kemungkinan menerjemahkan adaptasi tersebut. Ketika pekomik merekam peristiwa dan menuangkannya dalam satu kisah, bagaimana hal tersebut bisa diceritakan ulang kepada orang lain dan tidak berhenti di dirinya sendiri juga merupakan bentuk adaptasi; satu bentuk pemindahan narasi. Fredrik Stromberg dalam “Black Images in Comics; Visual History” (2003), menyatakan bahwa “Pembuat komik tidak berada dalam ruang hampa, mereka hidup di dalam kebudayaan yang melingkupi, yang secara alamiah terefleksikan ke dalam karya mereka”.

Maka bisa disimak bagaimana Irwan Hersi, Patub Porx, Reza Mustar, Didit Pratomo, Iyok Prayoga, terus berkarya dengan mengangkat apa yang terjadi di sekitar mereka selama pandemi dengan nada kritis. Pandu Mahendra, Yudha Sandy, dan Indun menyorot sikap-sikap orang yang mempertahankan kenyamanan diri sendiri tanpa peduli sekitar. Tidak berbeda dengan Adhitama, yang membungkusnya dengan nuansa humor. Jika Adhitama bermain visual tanpa kata, Nurfadli yang sukses dengan kreasinya bertajuk Tahilalats memadukannya dengan permainan kata-kata, yang ia jumpai sehari-hari, dan sering menghasilkan makna ganda. Yang hadir pada lapisan atas memang kelucuan, namun di situ juga terkupas situasi-situasi lain yang ada di masyarakat kita. Ismail Sukribo melakukan hal yang kurang lebih sama.

Memang, hasil karya seniman komik tidak harus, dan tidak melulu membicarakan sekitarnya, tempat hidupnya, hal-hal terkini, atau hal yang mengulang-ulang isi unggahan media sosial dan tajuk koran online saja. Komik sah-sah saja menampilkan kisah pribadi, kisah fantasi, atau bahkan anti-kisah sekalipun. Namun, apapun yang ada pada hasil karya tersebut, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh di sekitar yang melingkupi, menginspirasi, dan memicu semangat berkreasi seniman komik. Selain karya seniman komik yang diundang, dalam pameran ini juga ditampilkan linimasa komik Indonesia antara tahun 2020-2021 untuk menunjukkan perjalanan komik Indonesia 2 tahun terakhir. Hal ini dilakukan untuk mencatat selama masa pandemi judul apa saja yang diterbitkan, apa saja karya yang merespon kondisi pandemi, dan siapa saja yang terus melakukan adaptasi, inovasi, dan eksperimen kreatif yang dilakukan dalam terus mengupayakan kehadiran budaya komik di Indonesia.

Terbukti secara fleksibel tema Kreasi Adaptasi dapat diinterpretasi, dan tentunya; diadaptasi, disesuaikan dengan keunikan masing-masing seniman ke dalam kreasi karya komik dan seni gambar sekuensial secara luas. Pameran ini tidak ketinggalan menempatkan sorotan kepada Ganes TH dan Teguh Santosa, maestro komik Indonesia. Meskipun hanya menampilkan sebagian kecil dari ratusan ribu lembar gambar komik yang telah dihasilkan, upaya ini merupakan sebentuk apresiasi kepada tokoh komik nasional yang memberi warna pada perjalanan komik Indonesia, dengan ciri dan gaya cerita gambar yang khas.

Acara Pendamping berupa Seminar Komik (12 Oktober 2021; 16.00 WIB), Drama Komikal (15 Oktober 2021; 16.00 WIB), Pembacaan Komik (10 Oktober 2021: 16.00 WIB), Bincang Komik Sesi 1 (9 Oktober 2021; 11.00 WIB), Bincang Komik Sesi 2 (13 Oktober 2021; 15.30 WIB), Pentas Komikal Sesi 1 (9 Oktober 2021; 16.00 WIB), Pentas Komikal Sesi 2 (14 Oktober 2021; 16.00 WIB) dan Akustikomik (16 Oktober 2021; 16.00 WIB). Acara Pendamping tersebut tayang melalui channel Youtube TasteofJogja Disbud DIY, IG @komikweeks serta Zoom meeting. Informasi: @komikweeks. (Features of Impessa.id by Terra Bajraghosa, Catur Danang, Antok Wesman)