Feature

Duo Art Exhibition Antino Restu Aji dan Raka Adityatama, di Poison Smoothie Bar and Art Space Yogyakarta, 11-26 September 2021

Duo Art Exhibition Antino Restu Aji dan Raka Adityatama, di Poison Smoothie Bar and Art Space Yogyakarta, 11-26 September 2021

Duo Art Exhibition Antino Restu Aji dan Raka Adityatama, di Poison Smoothie Bar and Art Space Yogyakarta, 11-26 September 2021

“What’s Inside Their Heads?”

Impessa.id, Yogyakarta: Dua seniman muda Jogja, Antino Restu Aji dan Raka Adityatama, secara duet menggelar pameran seni rupa bertajuk “What’s Inside Their Heads?” di Poison Smoothie Bar & Art Space Jalan Monjali-Nyi Tjondrolukito 127 Sleman-Yogyakarta, pada 11-26 Sepptember 2021. Pameran dapat dikunjungi dari pukul 10.00-23.00 WIB

Agus Yulianto, penulis pameran menuturkan bahwa seniman mempunyai kemampuan menyelamatkan, mengacaukan, sekaligus menginspirasi kehidupan. “Segala kerja keras adalah bagian kecil dari sejarah. Tentu setiap isi kepala antara seniman berbeda muatannya. Muatan seperti pengetahuan, pengalaman, informasi dan sebagainya. Tino mempunyai ketertarikan pada musik dan juga berkarya melalui musik, sedangkan Raka memiliki ketertarikan pada film dan pernah aktif sebagai seniman street art. Ketertarikan dan ingatan mereka akan hal tersebut memberikan pengaruh pada karya mereka saat ini,” tuturnya.

Dari aspek konsep karya, Agus Yulianto mengungkapkan, keduanya berbicara mengenai sesuatu yang mereka alami dan resahkan. Tino berbicara dampak dari media sosial dan Raka mengenai fase quarter life crisis. “Sebagai seniman muda, Tino dan Raka menyadari bahwa dirinya baru saja memasuki belantara seni rupa. Eksistensi mereka dalam belantara seni rupa masih samar atau mungkin belum terdeteksi. Tino dan Raka berinisiatif untuk melangsungkan pameran sebagai usaha untuk memperlihatkan eksistensi dirinya,” imbuhnya.

Dalam pada itu, Tomi Firdaus, Kurator Pameran, menjelaskan, “Melalui pameran yang diinisiasi secara mandiri mereka memiliki kebebasan dalam menampilkan isi kepalanya lewat tajuk What’s Inside Their Heads? Dalam pameran kali ini Tino dan Raka menyajikan 16 karya lukis serta 1 karya mural untuk dapat diapresiasi bersama,”.

Kompleksitas sebuah gumpalan

Dijelaskan, dalam kepala manusia terdapat gumpalan berbobot kurang lebih 1,3 kg yang dapat melahirkan banyak temuan. Benda bernama otak ini mempunyai beragam kemampuan yang merevolusi manusia purba menjadi mahluk yang mampu membangun ‘goa’ bertingkat lengkap dengan pendingin ruangan dan interior yang artsy di dalamnya. Melalui otak, manusia menjadi mahluk paling dominan di atas bumi terlepas dari baik dan buruknya.

Namun, hal apa yang selama ini mempengaruhi dan membentuk diri kita? “Manusia keluar dari rahim seperti gelas yang dicairkan dari tungku pembakaran. Bisa dipilin, ditarik, dan dibentuk dengan derajat keleluasaan yang mencengangkan.”

Perkataan Yuval Noah Harari di atas dalam buku Sapiens-nya dapat dipahami bahwa pembentukan dasar manusia (pemikiran dan kepribadian) begitu luwes. Proses awal pembentukan tersebut bermula dari kelompok sosial pertama (keluarga) yang memberikan pondasi dalam otak. Adapun pengaruh kepribadian dan cara berpikir di luar keluarga didapat seiring bertambahnya usia, meluasnya pergaulan, bertambahnya informasi, dan perjumpaan dengan sosio-kultural. Hal tersebut terjadi karena otak bukanlah aksesori seperti perhiasan yang dapat ditanggalkan jika tidak diperlukan, otak selalu digunakan manusia sejak bayi hingga akhir hayatnya. Informasi dan data yang selalu masuk dan diolah oleh otak berperan terhadap cara berpikir, kepribadian dan sesuatu yang dihasilkannya.

“Otak adalah suatu hal paling kompleks yang telah kita temukan di alam semesta”, begitu pendapat James Watson, salah satu peraih Nobel, ketika berbicara mengenai otak manusia. Kompleksitas otak tersebut telah banyak melahirkan banyak hal, salah satunya adalah karya-karya hebat yang kini menggantung di dinding museum dan galeri. Namun, pernahkan Anda membayangkan bagaimana cara berfikir manusia yang telah menciptakan karya tersebut? Mereka yang kita labeli sebagai seniman.

Seniman mempunyai cara yang cukup unik dalam mengolah pemikiran kreatif. Ia berkutat dengan sesuatu yang disebut oleh Yasraf Amir Piliang dalam Medan Kreativitas: Memahami Dunia Gagasan sebagai ‘kabut hitam pikiran’ dan ‘kotak hitam’, ‘kabut hitam pikiran’ merupakan pikiran yang terperangkap dan hanyut dalam kekaburan, ketidakpastian, dan ketidakberaturan, tetapi tidak menemui titik terang berupa ide atau gagasan. ‘’Kabut hitam pikiran’ menghanyutkan seseorang dalam ketidakaturan yang melompat dari satu gagasan ke gagasan lainnya secara acak, tetapi tidak mampu merangkainya menjadi sebuah ide yang cemerlang. ‘Kotak hitam’ merupakan cara menjelajahi ‘kabut hitam pikiran’ yang penuh ketidakaturan, menyelami ‘lubang hitam pikiran’ -sebuah ruang yang menyerap apapun dan bila mampu menemukan pencerahan disana akan keluar dengan gagasan briliyan dan mampu mengendalikan ketidakberaturan tersebut yang pada akhirnya bermuara pada temuan order dari disorder.

Tentang “what’s inside their Heads?”

Mungkin mayoritas seniman dalam proses berpikirnya menempuh ‘kotak hitam’ dan menyelami ‘lubang hitam’, tetapi tentu terdapat perbedaan yang berdampak pada karyanya. Perbedaan itu dipengaruhi oleh pengetahuan, permasalahan, pengalaman, informasi dan lain sebagainya. Berangkat dari pemaparan di atas, “what’s inside their Heads?” dipilih sebagai tajuk yang mewakili kuriositas dalam melihat isi kepala seniman. Dalam pameran ini, mereka yang akan menyajikan isi kepalanya adalah Antino Restu Aji dan Raka Adityatama. Tentu kita tidak akan melihat isi kepala mereka secara harfiah, namun kita akan melihat pengaruh otak terhadap karyanya.

Tino dan Raka sebagai seniman muda yang sedang memasuki fase dewasa muda tentu banyak dirundung pertanyaan atas diri mereka sendiri. Pertanyaan mengenai karir, percintaan, keimanan dan sebagainya. Belum lagi ketika melihat pencapai teman-teman seusia mereka yang terpampang di media sosial. Namun, bukan seniman namanya jika terpuruk dalam kegelisahan dan patah arang dalam berkesenian. Tino dan Raka menjadikan hal tersebut sebagai ‘bahan bakar’ dan dikonversikan menjadi karya seni.

Tanggung jawab sebagai seniman bukan sebatas membuat karya, mereka juga harus menyajikannya pada publik. Sebagai seniman muda, Tino dan Raka menyadari bahwa dirinya baru saja memasuki belantara seni rupa. Eksistensi mereka dalam belantara seni rupa masih samar atau mungkin belum terdeteksi. Tino dan Raka berinisiatif untuk melangsungkan pameran secara mandiri dan sebagai usaha untuk memperlihatkan eksistensi dirinya sebagai seniman muda. Melalui pameran yang diinisiasi secara mandiri mereka memiliki kebebasan dalam menampilkan ‘isi kepalanya’.

Buah Pemikiran Tino dan Raka karya seni visual yang diciptakan oleh Tino dipengaruhi dari band-band yang digemarinya, salah satunya adalah Pink Floyd. sebelum mengenal lebih dalam Pink Floyd, Tino menyukai musik dari Black Sabbath. Ketertarikan Tino dengan Pink Floyd bermula ketika menyaksikan temannya memainkan salah satu lagu dari band tersebut di sebuah gig.

Tino tertarik pada efek bunyi yang dihasilkannya dan mulai mencari tahu. Mulai dari sana Tino tidak hanya mengulik dari aspek musik, tetapi juga Riwayat band, cover album dan segala turunannya. Tino tidak saja sebagai penikmat musik, ia juga berkarya melalui music dengan membentuk sebuah band bernama Marsmolys. Genre musik yang dimainkannya seperti space rock, hard rock, dan stoner. Dari ketertarikan itu, Tino memasukan elemen-elemen visual yang melekat pada genre musik tersebut.

Pada pameran kali ini Tino menyajikan enam karya terbarunya, karya serinya yang berbicara tentang dampak sosial media. Dalam kaca mata Tino, sosial media menjadi jenis adiksi baru dan juga ladang pencitraan bagi mayoritas penggunanya. Mereka banyak mengemas dirinya sebaik mungkin, tetapi bertolak belakang dengan kehidupan aslinya. Melalui karyanya, Tino mencoba mengkritisi hal tersebut.

Berbeda dengan Tino, Raka sejak SMP sudah memulai dunia seni rupanya dalam jalur yang sering dianggap illegal, yaitu street art. Berkarir sebagai seniman street art memang penuh resiko, mulai dari persoalan keselamatan diri hingga persepsi negatif dari masyarakat yang belum bisa membedakan antara seni dan vandalisme. Pada tahun 2013, pemerintah kota Magelang sedang gencar membersihkan area Magelang dari vandalisme dan memburu pelakunya. Pada masa yang sama, Raka dan bersama temannya yang sedang mengerjakan karya tertangkap oleh anggota Koramil dan digiring ke kantor polisi. Tentu berita ini menggemparkan Magelang dan muncul dalam surat kabar. Hal itu berimbas pada Raka, dilarang oleh orang tuanya untuk melakukan hal yang serupa. Raka pun berdamai dengan cara berpindah medium agar tetap berkarya.

Pengaruh lain dalam karya Raka saat ini adalah film. Bagi Raka film bukan sekadar hiburan semata. Melalui film Ia dapat memperluas cakrawala pengetahuan dan juga sudut pandangnya tentang kehidupan. Pada karya, Raka memasukan adegan atau pun momen tertentu dalam film yang dapat mendukung dan mewakili maksud dari dirinya.

Dalam pameran di Poison, Raka menyajikan sembilan karya lukisnya, sebagai karya seri mengenai quarter life crisis, salah satu fase kehidupan yang dialami oleh manusia pada usia 20-an hingga 30-an. Umumnya terkait dengan kecemasan, keraguan dan pertanyaan atas karir, percintaan, keuangan dan sebagainya. Hal itu juga dirasakan oleh Raka dan teman-teman terdekatnya ketika saling bertukar cerita. Banyaknya pertanyaan yang belum tentu dapat dijawab tersebut membebani pikirannya, namun Raka mengolahnya sebagai gagasan dalam berkarya.

Langkah awal

Tomi Firdaus lebih lanjut menyebutkan, segala pemikiran akan tetap bersarang dalam kepala jika tidak diutarakan. Pameran “What’s Inside Their Heads?” merupakan cara dari dua seniman muda yang mencoba memaparkan pemikirannya melalui karya seni. Pada gagasan penciptaan karya mereka tidak mencoba untuk berbicara yang tinggi-tinggi. Tino dan Raka hanya membicarakan yang mereka lihat, dan rasa. Dan tentunya dikerjakan dengan menyenangkan. Segala sesuatu jangan sebatas ‘dipikirkan’, tetapi perlu untuk ‘dilakukan’. Pameran ini menjadi salah satu usaha mereka memperlihatkan eksistensi diri sebagai seniman muda dalam belantara seni rupa.

Kurator seni yang juga dosen di Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta Sudjud Dartanto Ketika dikonfirmasi Impessa.id terkait kehadiran Poison Smoothie Bar & Art Space, di kawasan bisnis Jogja Utara, di sela-sela pembukaan pameran, berpendapat, “Kehadiran galeri ini memberikan kontribusi penting pada infrastruktur lembaga seni rupa, karena wilayah Utara ini sangat kental dengan komunitas yang seringkali berkaitan dengan kultur yang agak jauh dari seni rupa dan ketika ada satu unit kecil seperti ini, sudah seperti Oase, saya menyambut senang sekali karena Oase ini akan memberikan pengalaman baru bagi siapapun yang berpameran disini. Kemudian orang yang belum terbiasa dengan pameran seni rupa juga akan mendapatkan pengalaman baru, dengan mereka saling bertemu ini akan menghasilkan irisan baru yang membangkitkan semacam kluster baru di kawasan ini, yang memberikan warna baru, memperkaya kajian, pendekatannya pun baru, sesuatu yang segar, mengingat seni itu pada prinsipnya adalah dunia komunikasi yang bisa dimasuki oleh apa saja, dan bisa mengkomunikasikan apa saja,” ungkapnya.

Agenda Artist Talk berlanngsung dipenghujung pameran, pada 26 September 2021, pukul 15.00 WIB. (Grace Meliala/Antok Wesman-Impessa.id)