Feature

Pameran Seni Rupa Nandur Srawung Ke-8, Ecosystem, Pranatamangsa Di Galeri TBY, 10-19 September 2021

Pameran Seni Rupa Nandur Srawung Ke-8, Ecosystem, Pranatamangsa Di Galeri TBY, 10-19 September 2021

Fasade TBY, karya Hellhouse X HONF pada Pameran Seni Rupa Nandur Srawung Ke-8, Ecosystem, Pranatamangsa Di Galeri TBY, 10-19 September 2021

Impessa.id, Yogyakarta: Nandur Srawung merupakan acara seni rupa tahunan yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta -TBY, sejak 2014 dan tahun 2021 ini merupakan penyelenggaraan Nandur Srawung kedua di tengah pandemi.

Dalam press conference yang digelar secara hybrid, luring dengan undangan terbatas, dan daring via zoom meeting, pada Rabu (8/9/2021), Drs Diah Tutuko Suryandaru selaku Kepala Taman Budaya Yogyakarta, didampingi Rain Rosidi (Kurator), Arsita Pinandhita (Kurator), Bayu Widodo (Kurator), Sujud Dartanto (Kurator), dan Irene Agrivine (Kurator) yang izin karena sedang residensi seni di Jerman, serta Bayu Adi Wijaya selaku Ketua Nandur Srawung, menjelaskan, tahun 2021, total 167 seniman (individu dan kelompok) menyuguhkan 72 karya dalam pameran Nandur Srawung.

Selain para seniman dari berbagai kota di Indonesia, pameran diikuti pula oleh seniman mancanegara: Austria, Swiss, Jepang, dan Jerman. Menariknya lagi, pameran ini diikuti peserta dengan jenjang usia yang sangat beragam, mulai dari 4 tahun hingga 60 tahun. Objek yang dipamerkan beragam: lukisan, patung, seni grafis, batik, seni kain, video, fotografi, desain, dan aktivitas seni lainnya. Beberapa komunitas memamerkan kerja kreatif mereka yang bersinggungan langsung dengan problem kemasyarakatan, seperti upaya membumikan literasi melalui kerja kolektif seni.

Manusia masih harus berada dalam segala keterbatasan dan kungkungan. Berbagai hal berubah, dunia digital mengambil porsi yang semakin besar, dan semua pihak dipaksa untuk beradaptasi. Perhelatan kali ini mencoba menilik lagi berbagai hubungan yang terjadi, baik antar sesame manusia maupun antara manusia dengan lingkungannya.

Melihat situasi tersebut Nandur Srawung memilih tema Ecosystem: Pranatamangsa. Tema ekosistem digunakan untuk melihat bagaimana manusia berkorelasi dengan sesama dan semestanya, termasuk  bagaimana  mereka  melakukan  adaptasi  dalam  kondisi  pandemi  dan jagad digital.

Apakah manusia makin tercerabut dengan semesta nyatanya dan tersesat dalam jagad digital?  Ataukah manusia memiliki cara beradaptasi yang berbeda dengan perubahan alamnya melalui dunia digital? Bagaimana kumpulan informasi yang terserak di jagad digital itu membantu manusia, sebagaimana dahulu „pranåtåmångså‟ digunakan untuk membaca semesta?

Dari pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan itulah gagasan pameran ini dikembangkan. Salah satu konsep dalam pembahasan mengenai ekosistem adalah Biophilia yang menyatakan bahwa  Individu yang sehat  mampu menemukan cara bersatu kembali dengan dunia.

Dengan cara bersikap produktif manusia dapat memenuhi kebutuhan manusiawi mereka. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Erich Fromm untuk menggambarkan orientasi psikologis yang tertarik pada semua yang hidup dan vital.

Edward O Wilson kemudian menggunakan teori Biophilia dan mendefinisikannya sebagai "kecenderungan bawaan untuk fokus pada kehidupan dan proses seperti kehidupan serta bahwa hubungan manusia dengan alam tidak hanya fisiologis tetapi memiliki dasar genetik.”

Hipotesis Biophilia adalah gagasan bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk terhubung dengan alam dan bentuk biotik lainnya karena ketergantungan evolusioner kita padanya untuk bertahan hidup dan pemenuhan pribadi. Tema Ecosystem Nandur Srawung turut mengacu pada teori Biophilia.

(setsu)

(Anagard)

Sementara itu, pranåtåmångså adalah upaya masyarakat agraris dan maritim Jawa dalam mengumpulkan informasi mengenai perubahan iklim dan menghubungkannya dengan aktivitas sehari-hari. Sistem ini serupa “teknologi” yang digunakan oleh para petani dan nelayan untuk memudahkan mereka mencari penghidupan sekaligus menyelaraskannya dengan sesuatu yang transedental.    

Karya para seniman Nandur Srawung didisplay di Galeri TBY mulai 10-19 September 2021 dari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB setiap harinya. Namun karena kondisi PPKM, pameran sementara baru bisa dikunjungi secara virtual melalui web nandursrawung.com. Untuk tahun 2021, Nandur Srawung menambahkan kegiatan Srawung Moro: Temu Kurator Muda. Program membuka kesempatan kepada anak-anak muda yang tertarik dengan kegiatan kurasi seni rupa untuk bergabung dalam proses kurasi pameran Nandur Srawung ke-8 tahun 2021.

(tuyuloveme)

Dari puluhan calon yang mendaftar, terseleksi tiga calon kurator muda yang memperoleh kesempatan untuk mengikuti lokakarya dan praktik kuratorial selama penyelenggaraan Nandur Srawung.

Selain karya yang dipajang di Taman Budaya Yogyakarta, Nandur Srawung juga menghadirkan karya empat seniman street art untuk membuat karya di empat titik ruang publik Yogyakarta. Ini merupakan salah satu upaya memberikan dukungan terhadap para pekerja kesehatan dan masyarakat yang terdampak pandemi.

(Adit doodleman X tuyulove me -TBY)

(aditdoodleman)

Selain pameran yang bisa diakses melalui web, ada program lain yang bisa diikuti oleh publik secara daring. Beberapa di antaranya adalah talkshow dan workshop bersama para seniman peserta Nandur Srawung.

Ada pula tiga webinar dengan tema menarik yang menghadirkan pakar di bidang masing-masing.  Berikut tema ketiga webinar tersebut: 1. Seni, Ekosistem, dan Kesadaran Kosmologi, 2. Ekstrinsik Buku dan Seni Rupa, 3. Berbagi Peran dalam Produksi Seni dan Selebihnya Informasi lebih lanjut mengenai Nandur Srawung #8 Ecosystem: Pranatamangsa juga bisa diakses di akun Instagram: @nandursrawung. (Feature of Impessa.id by Tim Humas Nandur Srawung-Ale-Antok Wesman)