Feature

Pekan Seni Grafis Yogyakarta -PSGY 2021, Di Sarang Building dan Kiniko Art Room Kalipakis, Yogyakarta, 2-27 September 2021

Pekan Seni Grafis Yogyakarta -PSGY 2021, Di Sarang Building dan Kiniko Art Room Kalipakis, Yogyakarta, 2-27 September 2021

Pekan Seni Grafis Yogyakarta -PSGY 2021, Di Sarang Building dan Kiniko Art Room Kalipakis, Yogyakarta, 2-27 September 2021

Impessa.id, Yogyakarta: Pekan Seni Grafis Yogyakarta (PSGY) sebagai ajang dua tahunan yang diselenggarakan oleh komunitas Grafis Minggiran sejak tahun 2017, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan didukung oleh Danais, kali ini berlangsung secara hybrid, luring dengan akses terbatas dan daring via media sosial.

Kurator PSGY 2021, Bambang Toko saat Press Conference yang berlangsung, Minggu (5/9/2021) di Sarang Building Kalipakis, Yogyakarta, menjelaskan, pada penyelenggaraan PSGY 2021, karya-karya Seni Grafis yang dihadirkan menggunakan teknik sablon yang berasal dari Bahasa Belanda Schablon, atau silk screen, dengan spesial presentation satu karya Andy Warhol dan dua karya dari Liu Ye, koleksi Jumaldi Alfi, serta 12 karya silk screen dari kelompok Decenta (Bandung) yang terdiri dari Sunaryo, AD Pirous, (alm) G. Sidharta, T. Sutanto, Priyanto Sunarto dan Diddo Kusdinar, juga koleksi Butet Kertaradjasa. Selain itu, ada 12 karya silk screen/sablon koleksi jurusan Seni Murni FSR ISI Yogyakarta.

Deni Rahman selaku Ketua PSGY 2021 menuturkan agenda kegiatannya bahwa Pameran PSGY 2021 digelar di Kiniko Art Space, Kalipakis, Yogyakarta dengan format peserta seniman undangan dan aplikasi. PSGY 2021 menyertakan sekitar 43 karya dari seniman undangan dan 17 karya seniman yang lolos seleksi aplikasi. Total karya yang dipamerkan adalah 73 karya.

“Selain Pameran dengan mengacu pada kuratorial “SCHABLON -Dari Teknik Cetak pada Baju menjadi Ekspresi Seni Grafis” yang dibuka pada 20-27 September 2021, juga ada Program Lomba, yang pertama berupa Cukil Battle yang telah berlangsung pada 1-4 September 2021 di Kiniko Art Space, dimana jumlah partisipan awal 27 peserta, yang pada hari pertama bertanding dalam tiga sesi untuk memilih 16 besar yang tersaring kembali menjadi delapan besar, lalu pada hari kedua delapan besar bertanding untuk menetukan empat besar serta pertandingan final untuk menentukan Juara 1,2,3 dan 4 yang diseleksi oleh tiga Juri, masing-masing, Edi Sunaryo, Gunawan Bonaventura dan Andre Tanama. Pengumuman Juara Cukil Battle diumumkan sekaligus menerima hadiah saat penutupan Pameran PSGY 2021 pada tanggal 27 September 2021. Untuk perlombaan kedua Lomba Sablon Pelajar dengan 2 Juri ialah Jumaldi Alfi serta Johanes Barakuda,” jelas Deni Rahman.

“Program selanjut yang berjalan enam hari yakni, Art Workshop, dimulai pada 6 September, ada Workshop Carbon Print bersama Theresia A. S, lalu pada 7 September Workshop Lino Cut Print bersama Lulus “Boli”, tanggal 8 Workshop Acrylic Dry Point bersama Rully PA, 9 September Workshop Stencil Art bersama Digie Sigit, tanggal 10 September Workshop Ecoprint bersama Beta Pramudya (Manuwal) dan tanggal 11 September Workshop Silk Screen bersama Izzuddin Nur Jawawi, semua lokasi workshop berada di Sarang Building dengan masing-masing workshop dibatasi 10 peserta yang telah mendaftar,” ujar Deni Rahman.

Dijabarkan, “Program yang menjadi akhir dari rangkaian acara PSGY 2021 berupa Webinar pada 22 September 2021 melalui platform daring (zoom) dengan tajuk “SCHABLON - Antara Industri dan Karya Seni” dengan empat pembicara dari, PT Aseli Dagadu Djokdja, Krack Studio serta 2 pembicara dengan latar belakang Seniman serta Dosen Seni Grafis.”

Pada Pekan Seni Grafis Yogyakarta yang ketiga kalinya ini seniman Jogja, Jumaldi Alfi mengungkapkan kronologis riwayat sehingga dirinya berhasil memiliki karya-karya seniman grafis dunia seperti karya Andy Warhol dan Liu Ye.

Pengamatannya terhadap penyelenggaraan PSGY mulai dari yang pertama di JNM (2017), kemudian yang kedua di Museum Sonobudoyo (2019), Alfi, demikian sapaan akrabnya mengakui bahwa secara emosional dirinya mempunyai ikatan dengan seni grafis. Mungkin selama ini media hanya mengenal Alfi sebagai pelukis, pengelola Sarang Building dan Kiniko ArtRoom, padahal dirinya punya kenangan yang cukup dalam dengan seni grafis. “Sewaktu saya sekolah di SMSR, walaupun minat utama seni lukis, tapi saya lebih tertarik kepada seni grafis. Karena tahapan-tahapan bekerjanya menimbulkan kejutan-kejutan yang tak terduga, Kalau didalam seni Lukis itu kita bisa membayangkan apa yang akan kita kerjakan, kita persiapkan dengan matang, prosesnya bisa kita pantau dan hasilnya mungkin tidak jauh dari apa yang kita bayangkan. Sedangkan pada seni grafis, proses pembuatannya dituntut kehati-hatian agar tidak terbalik dan hasilnya presisi, tidak meleset. Itu tantangan yang menarik buat saya,” aku Alfi.

“Ketika lulus dan ingin meneruskan ke ISI Yogyakarta, saya memilih Jurusan Seni Grafis sebagai pilihan utama, dan pilihan keduanya Seni Lukis. Namun takdir menentukan saya diterima di Jurusan Seni Lukis, yang kemudian orang mengenal saya sebagai pelukis. Namun bukan berarti kecintaan saya terhadap seni grafis luntur, karena dalam prinsipnya lukisan saya memakai konsep grafis, layer dan efek-efek seperti print making. Jadi lukisan saya itu seperti lukisan di atas lukisan, ada semacam border-nya, teknik grafis yang saya praktekkan pada lukisan,” ujar Alfi lebih lanjut.

“Ketika mengikuti residensi di Singapore Tailor Print Institute dan di Victoria Art College - Singapura, saya memilih Studio Grafis, karena saya masih tertarik dan ingin mendalami teknik-teknik seni grafis yang mungkin bisa saya aplikasikan ke seni lukis,” imbuh Alfi. Hal itulah yang membuat dirinya antusias mendukung setiap program seni grafis.

Alfi berpendapat bahwa kini sudah saatnya seni grafis itu menguat karena mungkin selama ini orang berpikiran seni grafis merupakan seni kedua, hal itu memang tidak bisa dipungkiri dalam praktek seni rupa apalagi market, seni lukis itu menjadi semacam kaya kesayangan pasar, market darling, tetapi makin kesini dirinya melihat ada kecenderungan yang menarik bagaimana misalnya kolektor-kolektor muda sekarang mereka sebenarnya sudah mulai tertarik dengan karya-karya seni berbentuk print making. Mereka tidak perduli apapun istilahnya, ini peluang untuk print making. Mereka tinggal di apartemen, punya gaya hidup sendiri, mereka butuh karya-karya art yang bisa moving dengan cepat, dan pas dengan selera mereka.

Sepanjang perhelatan PSGY, pihak penyelenggara senantiasa mengundang seniman-seniman local maupun internasional, yang dinilai kuat dan ‘terkenal’ untuk ikut memajang karya-karyanya, secara khusus.

Berbicara mengenai koleksi Alfi berupa print making karya Andi Warhol seri Ladies and Gentlemen produksi tahun 1975, yang dicetak 130 lembar saja, tatkala diriya berpameran di Amsterdam, Belanda, di tahun 1910-1911.  Saat itu semua karya Jumaldi Alfi ludes sold out, sehingga dirinya cukup punya uang untuk membeli beberapa karya Andi Warhol, salah satunya yang terpajang di dinding Conference Pers. “Saya pergi bawa karya dan pulang bawa karya orang lain,” sergahnya.

Sementara itu untuk karya Liu Ye, seniman China yang sering berpameran di Eropa, Alfi memperolehnya secara barter, tukar karya dengan teman seniman-nya di Amsterdam. “Ketika teman saya itu mengajak barter karya Liu Ye koleksinya dengan karya saya, saya langsung mengatakan Ya, karena saya suka banget dengan karya Liu Ye itu,” ungkapnya.

Kali ini, untuk mewarnai sekaligus ikut memeriahkan PSGY 2021, Jumaldi Alfi didaulat oleh panitia penyelenggara, menjadi special presentation dengan memamerkan karya-karya seni grafis kolkesi-nya. Dalam kesempatan itu, Alfi berencana di PSGY berikutnya dirinya mencoba mengkoneksikan panitia dengan kolektor-kolektor nasional yang setaunya memiliki karya-karya hebat dari masterpiece-masterpiece dunia.

Menurut pengakuannya, karya-karya seni grafis dari Indonesia juga tak kalah hebatnya dengan karya-karya seni grafis mancanegara, yang mereka ketahui lewat internet. Sukses untuk penyelenggaraan Pekan Seni Grafis Yogyakarta 2021. (Feature of Impessa.id by Grace Meliala-Antok Wesman)