Event

Dr Mikke Susanto, Dosen ISI Yogyakarta, Beri Kuliah Di Fakultas Humaniora (Arts) Universitas Melbourne, Australia

Dr Mikke Susanto, Dosen ISI Yogyakarta, Beri Kuliah Di Fakultas Humaniora (Arts) Universitas Melbourne, Australia

Dr Mikke Susanto, Dosen ISI Yogyakarta, Beri Kuliah Di Fakultas Humaniora (Arts), Universitas Melbourne, Australia

Kuliah Terbatas untuk mahasiswa the Asia Institute Faculty of Arts The University of Melbourne dan Prodi S1 Tata Kelola Seni, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta.

Presiden Soekarno: Dari Koleksi ke Industri Kreatif

Impessa.id, Yogyakarta: Pada 1 September 2021, salah satu dosen yang juga menjabat sebagai Kaprodi S-1 Tata Kelola Seni, FSR ISI Yogyakarta, Dr Mikke Susanto diundang untuk memberi kuliah di Asian Institute, The Faculty Arts, Melbourne University, Australia.

Undangan itu diinisiasi oleh Dr Edwin Jurriens yang menjadi pengajar mata kuliah “Creative Industries in Indonesia” – Mata Kuliah INDO30002 yang secara khusus ditujukan untuk mahasiswa mata kuliah Seni, untuk melihat perkembangan industri kreatif melalui kasus yang terjadi di Indonesia.

Dalam kuliah terbatas untuk mahasiswa Strata Sarjana (undergraduate) dari dua prodi itu, dibahas mengenai hubungan Presiden Soekarno, Sejarah Sosial, dan Industri Kreatif. Banyak hal yang menarik untui dikaji, meskipun topiknya sangat khusus dan terpusat pada sosok Presiden Pertama Indonesia.

Materi tersebut mulai dari Siapa Soekarno, koleksi-koleksinya, efek terhadap seni di masyarakat, hingga pengembangan ide pasca-koleksi. Sampai-sampai kreativitas publik pun menjadi perhatian dalam materi yang disajikan oleh Dr Mikke Susanto.

Kulian yang disajikan dalam dwi-bahasa itu juga membahas sejauhmana Soekarno sebagai patron seni. Kehadirannya sebagai kolektor patron menjadi contoh hingga melahirkan berbagai catatan menarik.

Selain sebagai politikus, pejuang, penulis, dan presiden, Soekarno selalu berpikir estetik. Baginya seni bukan semata seni. Seni dan karya seni mampu membuka pikirannya yang lapang. Seni dan karya seni sebagai katarsis sekaligus alat perjuangan. Karenanya Soekarno tak pernah satu-kalipun meninggalkan sesuatu yang kreatif hingga akhir hayatnya.

Kerjasama bagi kedua kampus tersebut dinilai sangat penting untujk para mahasiswa. Kedua kampus yang berada dalam bidanng seni humaniora itu perlu saling terus memberikan sumbangan, baik bagi riset dan pemecahan masalah di dunia.

Dunia industri kreatif yang berkembang semakin cepat di sebuah negara adalah kasus yang sangat menarik untuk ditelaah dengan perspektif berbeda, misalkan melalui pendekatan berbeda antar negara. Diharapkan kuliah tersebut dapat menjadi contoh kerjasama antar Lembaga Pendidikan antar negara di masa kini dan masa depan. (Mikke Susanto/Antok Wesman-Impessa.id)