Event

Suluk Walisanga, Lagu Karya Gus Fuad Plered, ROFA Band Yogyakarta

Suluk Walisanga, Lagu Karya Gus Fuad Plered, ROFA Band Yogyakarta

Suluk Walisanga, Lagu Karya Gus Fuad Plered, ROFA Band Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta: Lagu karya Gus Fuad berjudul “Suluk Walisanga”, bisa menjadi kurikulum yang efektif untuk belajar memahami makna-makna spiritual yang begitu dalam, semacam tasawuf melalui bunyi-kata yang aktual direnungi selama-lamanya.

Erie Setiawan, salah satu anggota Komunitas ROFA yang berisi musisi-musisi handal dan secara sukarela membantu project Dakwah Gus Fuad, menuturkan, meskipun judul lagu itu terikat dimensi ke-Islam-an, namun makna lagu (liriknya), relevan untuk siapa saja, terutama kita yang tengah belajar membuktikan cinta kasih kepada seluruh ciptaan Tuhan (welas tresna marang sapada-pada), belajar menjaga hati, menjauhkan yang buruk (nyingkiri hangkara njaga sucine hatma) dengan semata mengikuti kehendak Allah hingga (mampu) bersatu dengan-Nya (Hingsun tansah hanyartani; hingsun-sira hanyawiji).

Dijelaskan, kata “rasa”, yang disebut tiga kali di dalam lagu itu, menjadi bekal utama untuk mengamalkan seluruh pelajaran. Pada bait pertama baris kedua: “Sejatine rasa tan kena kinira-nira” (Sejatinya rasa tidak pernah bisa diduga-duga). Pada bait kedua baris pertama: “Hing dina Alastu rasa sukma prasetya” (Di Hari Alastu, rasa sukma berjanji). Pada bait kedua baris ketiga: “Rasa kang Maha Hakarya” (Rasa yang Maha Karya, Kebenaran Illahi).

“Mengapa kata “rasa” sedemikian penting untuk selalu dimunculkan? Besar kemungkinan, itulah yang terdalam. Rasa melampaui batas logika, rasa adalah sebuah ruang-aksi multi-indera, multi-parameter. Rasa terikat situasi yang tak terduga; rasa terikat dengan keteguhan atas janji, dan rasa juga terikat dengan kebenaran yang datang dari Allah,” ungkap Erie Setiawan.

Menurut Erie, di dalam pengalaman hidup sehari-hari, rasa selalu menguji toleransi, seberapa jauh rasa didalam diri kita berperan secara naluriah dan jujur tanpa beban-beban konseptual dan hukum-hukum di dalam agama. Misalnya kita mau menolong adalah bukan karena kita memiliki motif tertentu, namun karena hati kita (rasa kita), memang tergerak.

Selanjutnya: Apakah kita juga mampu menangkap apa yang Allah rasakan? Tentu saja dalam konteks tersebut, rasa adalah kebenaran. Itu pertanyaan besar yang bisa dijawab dengan banyak ilmu.

Lagu tersebut menarik dalam setiap baris liriknya, dan itu pun sudah dimulai sejak baris pertama. Baris pertama lagu sudah menegaskan satu makna simbolik yang begitu luas interpretasinya, di mana kita ditantang untuk mempertanyakan peran kita bagi terciptanya harmonisasi kehidupan demi mewujudkan keindahan dunia (memayu hayuning bawana).

Apakah kita sebagai manusia, terlebih manusia yang merasa beriman, sudah mempertanyakan dan membuktikan peran kita demi mendukung terciptanya harmonisasi yang berpotensi memunculkan keindahan?

Para sufi besar, pujangga termasyur, antara lain Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, Hazrat Inayat Khan, Rabrindanath Tagore, telah berulang kali membicarakan hubungan antara musik dan harmonisasi kehidupan. Mereka menempatkan musik dalam bejana yang sangat khusus: spiritual, sufisme. Tentu saja karya-karya pemikiran mereka sangat nyambung dengan makna lagu Suluk Walisanga.

Misalnya ada istilah menarik dari Hazrat Inayat Khan, yaitu “mistisisme bunyi”, bahwa bunyi mampu menghantarkan manusia kepada hal-hal yang sulit dimengerti akal, namun bisa berdampak langsung kepada psikologis (kembali kepada “rasa” tadi). Mendengar lagu atau musik, dengan demikian, adalah sebuah hayatan. Hayatan akan berkaitan dengan fungsi nyata lagu bagi hidup manusia (personal). Fungsi personal tersebut akan berkaitan pula dengan fungsi sosial (amalan) yang kemudian menyertainya. Kita punya hak di dalam hidup, belajar kepada yang ghaib, maupun kepada yang verbal (dzahir-bathin, kasat-tak kasat).

Dari lagu Suluk Walisanga ini, kita seperti ditarik-tarik untuk mendengar musik bukan hanya sebagai hiburan yang menenangkan batin, namun juga mengasah logika untuk sungguh-sungguh memaknai dan mengamalkannya dalam laku kehidupan. Olahan musik di dalam lagu ini juga terasa sederhana namun teduh, didukung adanya paduan suara pada bagian interlude yang menambah khusyu’ suasana.

Begitulah asyiknya “bermain-main dengan musik” untuk memunculkan makna-makna lain yang tersembunyi namun bisa dibongkar (kontekstualisasinya). Tak hanya manusia yang “menempuh” perjalanan panjang agar mendapatkan ridho Allah, musik pun juga menempuh perjalanan panjang di tengah alam pikiran manusia, maka muncul persepsi, hingga hukum-hukum dan teori-teori. Begitu banyak filsuf sejak masa Yunani Kuno hingga Modern, turut membicarakan musik dalam berbagai konteks.

Plato mengaitkan musik dengan moralitas; Phytagoras menguji lebih serius hubungan music dengan matematika (maka lahirlah hukum tala); Aristoteles juga telah berbicara tentang musik dan makna keindahan yang hidup di alam batin manusia (psikologi, estetika); Thomas Aquinas menganggap bahwa penciptaan seni (tak terkecuali musik) berhubungan dengan teologi, para kreator bisa berkarya dengan mengambil tema-tema pokok yang berkaitan dengan religiositas untuk semakin memahami dimensi Ketuhanan. Theodor W. Adorno di zaman modern awal abad ke-20, mengaitkan musik dengan kesetaraan peran dan tanggung jawab di lingkup sosial, dan seterusnya.

"Melalui Gus Fuad, yang secara konsisten dan jujur terus berkarya mengekspresikan laku-janji pada Allah melalui lagu, kita bisa ikut belajar terus-menerus. Saya pribadi bersyukur, selalu diingatkan untuk hal-hal baik yang menentramkan jiwa melalui karya-karya beliau," tutur Erie Setiawan lebih lanjut.

Credit title: Lirik oleh Gus Fuad Plered,; Aransemen oleh Sasi Kirono; Direkam di Satrio Piningit Studio; Mix Mastering: Sasi Kirono at Satrio Piningit Studio. ROFA adalah grup musik bentukan Gus Fuad Plered, yang mewadahi segenap musisi Jogja, dengan filosofi Menyebarkan Kasih Sayang dan Cinta Kepada Sesama”. Rofa Band membawakan lagu dengan beragam genre, seperti, Pop, Rock, Dangdut, Koplo Jawa, dan Religi. Motor utama Rofa Band yakni sang vokalis Gus Fuad Plered yang juga penulis lagu dan gitaris, Adapun Sasi Kirono bertindak sebagai Arranger dan Komposer, serta didukung pemain-pemain yang lain. (Erie Setiawan/Muhammad Andrea Gunawan/Antok Wesman-Impessa.id)