Event

Pesawat Terbang N250 Gatotkoco, Karya Masterpiece BJ Habibie, Kini Tampil Di Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta

Pesawat Terbang N250 Gatotkoco, Karya Masterpiece BJ Habibie, Kini Tampil Di Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta

Pesawat Terbang N250 Gatotkoco, Karya Masterpiece BJ Habibie, Kini Tampil Di Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta: Setelah menempuh perjalanan selama 27 jam lebih dari Bandung ke Jogja, iring-iringan utama tiga alat angkut berat trailer dan beberapa truk bersama rombongan, termasuk teknisi dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio namun dirubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara) kini menjadi PT Dirgantara Indonesia, yang membawa body (fuselage) dan sayap Pesawat Terbang N250 Gatotkoco, Jumat pagi, 21 Agustus 2020, tiba di halaman Muspusdirla -Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Lanud Adisutjipto Yogyakarta.

Kepada Impessa.id, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Fajar Adriyanto MSi Han dilatarbelakangi badan pesawat N 250 Gatotkoco yang berwarna putih dibagian atas dan berwarna biru dibagian bawahnya, menuturkan keseruan selama perjalanan yang menempuh jarak sekitar 567 Km tersebut.

“Kami berangkat Kamis dini hari jam 1 malam melewati jalan tol, lewat Pantura dengan kecepatan rata-rata 30-40 Km/jam, dan alhamdulillah selamat sampai di Jogja pukul 4.30 WIB, pas adzan Subuh, Jumat-nya. Keseruan selama perjalanan, karena konvoi kita berjalan pelan-pelan tatkala memasuki jalan tol, hampir semua pengendara yang beriringan membuka kaca mobil, penasaran ingin mengabadikan momen pesawat N250 yang diangkut trailer-trailer ini, mereka sudah lebih dahulu mengetahui adanya peristiwa tersebut. Serunya masyarakat ingin mengabadikan hal itu terjadi juga ketika kami harus berhenti di rest area. Nah, disetiap pintu tol, berhubung tinggi dan lebar truk berikut pesawat diluar ukuran pintu tol yang ada, maka atas kerjasama dengan pihak Jasamarga yang memodifikasi beberapa pintu tol maka hambatan yang ada dapat teratasi, termasuk ketika ban trailer harus kita kempeskan agar agak rendah sehingga bisa melalui pintu tol, lalu setelahnya kita pompa kembali. Kami ucapkan terimakasih kepada aparat kepolisian yang membantu lancarnya perjalanan ini hingga sampai tujuan di Yogyakarta,” ungkap Marsma TNI Fajar Adriyanto.

Pesawat komuter turboprop N250 aseli karya anak bangsa, memiliki kapasitas 50-70 penumpang, rancangan IPTN (kini PT DI -Dirgantara Indonesia) yang diluncurkan pada 1995 dan menjadi Bintang Pameran pada Indonesian Airshow 1996 di Cengkareng tersebut digadang-gadang menjadi pengganti pesawat Fokker F-50 yang sudah tidak diproduksi lagi.

Spec N250 Gatotkoco; Mesin Turboprop Allison AE 2100C berkapasitas 2.439 KW dari Allison Engine Company Amerika Serikat. Memiliki 6 Bilah baling-baling, pesawat N250 mampu terbang dengan kecepatan maksimal 660 Km/Jam atau 330 Mil/Jam atau memiliki kecepatan ekonomis 555 KM/Jam sebagai yang tertinggi di kelasnya. N250 mampu terbang hingga ketinggian 7.620 Meter atau 25.000 Kaki dengan daya jelajah 1.480 Km.

N250 memiliki Rentang Sayap 28 meter, Panjang Badan 26,30 meter, Tinggi 8,37 meter, Berat Kosong 13.665 Kilogram, dan Berat Maksimuj saat Lepas Landas 22.000 Kg. First Flight atau Terbang Perdana selama 55 menit pada 10 Agustus 1995.

Kini masyarakat dapat melihatnya langsung di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta, pesawat canggih pada masanya karena telah menggunakan system Fly by Wire, sensor-sensor listrik, sudah digital, sebagai karya masterpiece Prof Dr Ing H Bacharuddin Yusuf Habibie FREng, Presiden Ke-3 Republik Indonesia.

“Karena krisis ekonomi yang menerpa Indonesia saat itu maka produksi N250 terhenti dan tidak lagi dilanjutkan. Pesawat N250 mangkrak di garasi PT DI, maka atas inisiatif Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sewaktu menjabat sebagai KASAU -Kepala Staf Angkatan Udara, N250 di abadikan di museum, agar dapat disaksikan oleh publik secara luas,” imbuh Marsma TNI Fajar Adriyanto.

Kadispen AU berharap masyarakat khususnya generasi muda bangsa mengetahui bahwa Indonesia pernah berjaya di dunia dirgantara, sehingga layak ditiru untuk lebih mencintai dunia kedirgantaraan mengingat Indonesia sangat luas dan membutuhkan pesawat sejenis.

Pesawat Penumpang N250 yang pernah tampil di Le Bourget Paris Air Show, kini menempati posisi yang sebelumnya digunakan Pesawat Tempur OV 10 Bronco yang telah digeser ke seberang jalan di halaman Museum Teknik dan N250 itupun kini berdampingan dengan Pesawat Tempur SkyHawk. (Antok Wesman-Impessa.id)