Event

Seni Pertunjukan Dunia, Jogja International Street Performance Ke-9, Digelar 21-23 September 2019

Seni Pertunjukan Dunia, Jogja International Street Performance Ke-9, Digelar 21-23 September 2019

Seni Pertunjukan Dunia, Jogja International Street Performance Ke-9, Digelar 21-23 September 2019

Impessa.id, Yogyakarta : Inisiator Jogja International Street Performance dan Asia Tri Jogja, Bambang Paningron, mengakui bahwa pihaknya terpaksa menolak banyak grup tari yang berminat bergabung di kedua acara yang telah mendunia itu, dikarenakan keterbatasan alokasi dana dari Pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Program yang bersifat kedinasan memang ruangnya terbatas, jadi harus diakui bahwa saya itu nolak banyak grup dari dalam negeri, untuk bisa terlibat. Sementara grup asing masih belum bisa menolaknya, selama mereka tampil secara wajar sesuai etika di Indonesia, sebagaimana pernah terjadi di gelaran tahun 2005, tiba-tiba diatas panggung penarinya melepas seluruh busananya, membuat penyelenggara shock,” aku Bambang Paningron saat Press Conference di Dinas Pariwisata DIY Jalan Janti, Kamis (19/9/19).  

Dikatakan, untuk JISP sudah dibatasi jumlah pesertanya, baik yang dari Kota Jogja maupun dari kabupaten-kabupaten, sedangkan untuk Asia Tri Jogja, sebanyak 21 grup tari dari mancanegara siap tampil untuk dua hari pertunjukan 24-25 September 2019, mulai selepas Maghrib hingga selesai, di Omah Petroek, Hargobinangun, Pakem, Sleman.

Jogja International Street Performance –JISP, merupakan perhelatan seni pertunjukan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Jaran Production dan sudah berlangsung sejak tahun 2010, dalam tema “Jogja The Dancing City”, melibatkan seniman-seniman seni pertunjukan dari Indonesia dan mancanegara.

Jogja International Street Performance digelar tiga hari, Sabtu-Senin, 21-23 September 2019. Agenda Sabtu (21/9/19) Jam 16.00-18.00 WIB digelar di depan Gedung Agung Yogyakarta, dan Minggu, 22 September 2019, Jam 16.00-20.00 WIB, di depan Gedung DPRD, di Kepatihan, di Margaria, serta di Kawasan Nol Kilometer. Untuk Stage Performance, pada Minggu dan Senin, 22-23 September 2019, Jam 19.00-22.00 WIB, di Monumen SO 1 Maret Yogyakarta.

JISP 2019 berlangsung di ruang-ruang publik, mulai dari pedestrian Malioboro di depan Gedung DPRD hingga Kawasan Nol kilometer. Panggung konvensional ada di Monumen SO1 Maret. “Digelar di tempat umum, agar kegiatan ini bisa menghilangkan jarak antara seniman dan masyarakat sebagai pendukung utama produk seni budaya. Tujuannya agar JISP mampu berperan aktif dalam pengembangan atraksi wisata budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta,” ungkap Bambang Paningron.

JISP 2019 diikuti oleh seniman-seniman seni pertunjukan diantaranya Romo Dance Theatre (Malaysia), Rama Simon (Korea Selatan), Air Dance (Filipina) dan Silver Belle (Kamboja). Selain itu menghadirkan pula seniman dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya, KHP Kridhomardowo (Yogyakarta), Didik Nini Thowok (Yogyakarta), Anterdans (Yogyakarta), Bellacoustic (Kalimantan Tengah), Pragina Gong (Yogyakarta), Sanggar Dangkedunai Batam (Kepulauan Riau), Anis Harliani (Bandung), Puri Senjani Apriliani (Surabaya), Bagus Masazupa (Malang), serta UKMBS Universitas Lampung (Lampung).

Kegiatan bertaraf internasional tersebut diharapkan dapat menjadi ruang berekspresi para seniman dalam mempresentasikan aktivitas seni dari wilayah dan negara mereka masing-masing untuk kemudian dapat saling berinteraksi dan berkolaborasi, sehingga ruang pertukaran budaya antarbangsa dapat terwujud. (A.Astri/Antok Wesman)