Feature

300 Pelajar Terpilih Ikut Program Belajar Bersama Maestro 2018

300 Pelajar Terpilih Ikut Program Belajar Bersama Maestro 2018

Maestro Lukis Nasirun (posisi ditengah) diantara para maestro yang siap berbagi ilmu kepada para pelajar dari berbagai pelosok Nusantara.

Impessa.id, Jogja : Dalam liburan ini, sebanyak 300 pelajar dari berbagai pelosok di Tanah Air, mengikuti program Belajar Bersama Maestro selama dua pekan, 2-15 Juli 2018, di kediaman 20 Maestro beragam disiplin ilmu di Indonesia, atas biaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dimana setiap Maestro menerima 15 siswa yang akan menimba ilmu dari masing-masing Maestro yang ditempatinya.

Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Doktor Restu Gunawan, M.Hum, ketika dikonfirmasi Impessa.id, Senin (18/06/18), setelah hasil seleksi diumumkan pada Rabu (13/06/18), menuturkan, tercatat dari 2953 pendaftar, yang lulus seleksi awal sebanyak 1661 siswa, kemudian disaring lebih lanjut untuk menetapkan 300 pelajar terpilih SMA-SMK Kelas X dan XI dari Sabang sampai Merauke. Para pelajar terpilih tersebut telah membuat tulisan sebanyak 300 kata dengan tema “Hubungan Seni dan Penguatan Karakter” dan membuat video promosi diri, tentang motivasi mengikuti kegiatan BBM berdurasi dua menit, dan diunggah kedalam website bbm.kemdikbud.go.id.

Kepada Impessa.id, Direktur Kesenian Restu Gunawan menyatakan bahwa didalam pendidikan penguatan karakter generasi muda, unsur Olah Rasa terdapat di dalam kesenian. “Kalau dalam konteks pendidikan penguatan karakter, terdapat empat hal sehingga Generasi Emas Indonesia harus mampu menguasai empat hal ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu, Olah Pikir, intelektualitasnya bagus dan cerdas, kemudian Olah Hati, itu kaitannya dengan relijiusitas, seterusnya Olah Raga dan Olah Rasa. Nah! Olah Rasa itu ada didalam kesenian, salah satunya ada toleransi dan empati”, ungkapnya.

Direktur Kesenian berharap bagaimana sumbang kesenian dalam penguatan karakater untuk menuju Generasi Emas Indonesia di tahun 2030. “Saya mengucapkan terimakasih kepada para Maestro yang telah berkenan membantu kami, dalam konteks penguatan pendidikan karakter. Mudah-mudahan program ini betul-betul dirasakan oleh para siswa selama menjadi Cantrik, untuk di-viralkan kepada teman-temannya, sehingga mereka mempunyai imajinasi, perkara nanti dia ingin memiih seni menjadi bagian hidupnya, silahkan, paling tidak minimal kesenian menjadi landasan dia dalam mengarungi kehidupan kedepannya”, tutur Restu Gunawan.

Dalam kesempatan lain, melalui Impessa.id, Maestro Lukis Nasirun menyampaikan rasa senangnya terpilih untuk berbagi ilmu kepada generasi muda lewat program BBM tersebut. “Mereka menemukan suatu personalitinya, dan personalitinya itu belum sampai pada karakteristiknya. Dia ada kegembiraan, keindahan itu kegembiraan, punya pengalaman, otomatis dia bercerita, disebarkan, dan diluar dugaan anak-anak itu menjadi bagian keluarga. Itu bagi saya menarik sekali”, papar Nasirun. “Ada hubungan Bapak dan Anak, dalam seni, sehingga anak-anak itu otomatis akan melahirkan Anak Karya. Ada satu jejak yang bisa diulang dan jejak itulah menancapkan satu memori ketika mereka belajar bersama Maestro”, imbuh Nasirun.

Maestro Lukis Nasirun berharap kelak para pelajar yang mengikuti program BBM dapat mewarisi nilai luhur adat-istiadat bangsa. “Andaikata anak-anak ini dari Sabang sampai Merauke, mereka sadar mempunyai warisan kultur yang disebut tradisi itu, mungkin tentang NKRI ini lem perekatnya Kebudayaan, tidak perlu harga mati, tidak sangar banget! Tapi dengan kebudayaan, anak-anak itu mendapatkan satu nilai-nilai, adab, etika, yang saya kira pulsa-nya tradisi yang dimiliki oleh warisan nenek-moyangnya. Indonesia menjadi sangat kaya-raya ketika masyarakatnya punya kepedulian terhadap warisan, itu pusaka Nusantara ikut tradisi” jelasnya.

Ke-20 seniman yang dijuluki Maestro dan siap membagi ilmu kepada para pelajar tersebut masing-masing, seniman tari Didik Nini Thowok, musisi Gilang Ramadhan, dhalang Ki Manteb Sudarsono, Ayu Laksmi, seniman musik tradisi Djaduk Ferianto, pelukis Djoko Pekik, Arief Yudhi, pelukis-pematung kontemporer Putu Sutawijaya, Dindon WS, penari Miroto, Angki Purbandono, pelukis Nasirun, Ni Nyoman Tjandri, Wangi Indriya, Hanafi, Irwansyah Harahap, Iswadi Pratama, Ni Ketut Arini, Fendi Siregar dan Made Sidia. (ant)