Feature

Tarian Sufi, Berdzikir Sambil Berputar, Seni-Budaya Islami Nan Elok

Tarian Sufi, Berdzikir Sambil Berputar, Seni-Budaya Islami Nan Elok

Arief Hamdani dari Pondok Rumi Indonesia Jakarta, tampil di Atrium Plaza Ambarrukmo Yogyakarta, Jum'at (01/06/18) pada event Glorious Celebration, Everlasting Ramadhan 1439 Hijriyah.

Impessa.id, Jogja : Bulan Ramadhan 1439 Hijriyah merupakan wahana untuk menyajikan segala hal yang bernuansakan Islami, diantaranya Tari Sufi yang dihelat pihak Plaza Ambarrukmo Yogyakarta sebagai bagian dari acara yang bertajuk Glorious Celebration, The Everlasting Ramadhan.

Tarian Sufi yang berasal dari kawasan Mediterania dan popular di Turki dan Mesir kini marak dipentaskan di Indonesia, bahkan penarinyapun seniman tari aseli Indonesia seperti yang tampil di Atrium Ambarrukmo Plaza Yogyakarta, Jum'at malam (01/06/18) dibawakan oleh penari Sufi dari Pondok Rumi Indonesia yang dipimpin oleh Ir. Arief Hamdani, seorang arsitek yang menekuni Tarian yang gerakannya berputar layaknya sebuah Gangsingan.

Kepada Impessa.id, jelang pementasan Arief Hamdani menuturkan makna sebenarnya yang disampaikan melalui Tari Sufi yang malam itu dibawakan oleh lima penari termasuk dirinya dengan kostum berwarna-warni. “Makna dari Tari Sufi seperti sebuah Tafakur atau meditasi, maka ketika kita berputar itu sebenarnya kita menyelaraskan fisik dan ruh kita dengan Putaran Surgawi. Seperti orang melakukan Tawaf, mengeilingi Ka’bah, mereka berputarnya kekiri, berlawanan Jarum Jam, karena seluruh makhluk di dunia ini sebenarnya berputar. Saat electron, neutron memutari atom, putarannya juga kekiri”, tuturnya.

Kala Impessa.id, bertanya lebih lanjut, kekuatan apa yang membuat penari Sufi itu mampu berputar untuk durasi yang cukup lama, maka dijawab adanya kekuatan cinta. “Ketika kita jatuh cinta, dengan seorang Wali Allah atau kita jatuh cinta kepada nabi Muhammad SAW maka kita mengungkapkan cinta itu dengan Salawat, puji-pujian kepada Rasulullah SAW, melalui tarian sambil berdzikir, maka ketika mereka berdzikir La illaha illallah, para penari itu merasakan rasa cinta yang luar biasa, sulit diungkap dengan kata-kata”, imbuh Arief Hamdani.

Arief Hamdani tertarik kepada Tari Sufi pada tahun 2002 ketika bertemu dengan Maulana Syek Muhammad Adi Robani, Guru Tari Sufi di Istanbul, Turki, cucu dari Maulana Jalaludin Rumi, penemu Tarian Sufi. Keindahan Tarian Sufi itulah membuat dirinya Jatuh Cinta dan kini ikut menyebarkannya di Indonesia, bahkan dirinya sering diundang untuk tampil di berbagai negara di ASEAN diantaranya, Singapura, Malaysia hingga ke Jepang. Menurutnya Tari Sufi yang indah itu telah membuat banyak orang kagum dengan Islam dan tertarik untuk berdialog tentang ke Islaman.

Sementara, secara terpisah, Alfin Ardiansyah dari Unique Production Jakarta yang mengenalkan Achmad El Tanura, penari Sufi dari Mesir tampil di Yogyakarta kepada Impessa.id, mengungkapkan mengapa penari Sufi tidak mengalami pusing kepala karena terus-menerus berputar. “Tari Sufi itu bisa berdurasi 15 menit tetapi kenapa kog penarinya tidak pusing? Karena disamping menari, dia menghibur, dia juga berzikir”, jelasnya. Malam itu Achmad yang berpostur tinggi, gagah, tampil mempesona, kostum yang dia kenakan berlapis-lapis, saat satu dilepas, muncul konstum bertaburan lampu-lampu LED, sehingga tatkala berputar nampak sepeti piring raksasa berwarna-warni, sangat menarik.(ant)