Feature

Kisah-Kisah Dari Bawah Laut Negeri Bahari Karya Nana E. Nusyirwan dan Kawan-kawan, Telah Terbit

Kisah-Kisah Dari Bawah Laut Negeri Bahari Karya Nana E. Nusyirwan dan Kawan-kawan, Telah Terbit

Kisah-Kisah Dari Bawah Laut Negeri Bahari Karya Nana E. Nusyirwan dan Kawan-kawan, Telah Terbit

Membaca Cerita, Menyelami Lautan Sastra Anak

Impessa.id, Yogyakarta: Kemajuan sastra merupakan petunjuk kemajuan kehidupan masyarakat pendukungnya, bahkan menjadi salah satu ciri identitas suatu bangsa. Melalui karya sastra, orang dapat mengidentifikasi karakter dan budaya masyarakat setempat. Karya sastra selalu berbicara tentang interaksi sosial antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan Tuhannya. Intinya, karya sastra merupakan cermin berbagai fenomena kehidupan manusia.

Begitu juga sastra anak yang merupakan cermin kehidupan mereka. Yang mengherankan, sedikit sekali buku anak yang mengisahkan kehidupan bahari, padahal banyak anak yang sejak lahir tinggal di pesisir. Sangat jarang ditemukan buku-buku yang ditulis untuk anak-anak yang menggambarkan kehidupan di laut, misalnya tentang nelayan, tentang ikan, dan makhluk hidup di laut; padahal kita tahu, 2/3 dari wilayah Indonesia berupa air atau lautan.

Untuk itulah Lembaga Seni dan Sastra Reboeng (LSS Reboeng) mencoba membuat sebuah buku tentang kehidupan di laut dari kacamata anak-anak. Sesuai dengan garis kebijakan LSS Reboeng berkaitan dengan literasi anak, cerita yang terkumpul dalam buku ini ditulis sendiri oleh Anak-Anak, dan ditujukan untuk Anak-Anak. LSS Reboeng pun berikhtiar mengumpulkan tulisan anak-anak dari seluruh Nusantara yang berbicara tentang kehidupan di laut.

Nana E. Nusyirwan, Ketua LSS Reboeng selaku Supervisor buku "Kisah-Kisah Dari Bawah Laut Negeri Bahari", dalam pengantar menuturkan, “Usaha yang kami lakukan memerlukan waktu panjang. Kenyataannya anak-anak usia 8 sampai usia 12 tahun belum terlampau mendalami kehidupan mereka. Meskipun begitu, ada juga yang mengejutkan. Contohnya, karya penulis cilik dari Gresik, Ambon, Cilacap, Banggai (Sulawesi) dan lain-lain, ternyata sangat imajinatif dan penuh daya khayal yang tak pernah terbayangkan. Di luar dugaan, mereka mampu menulis fabel tentang ikan-ikan yang berperilaku seperti manusia; mempunyai kawan, dapat berbicara, dapat berinteraksi dengan manusia, dan sebagainya,” ungkap Nana E. Nusyirwan yang akrab disapa Nana Ernawarti.

“Alhamdulillah, akhirnya buku ini dapat kami terbitkan, dengan harapan buku ini menjadi sumbangan yang berarti bagi kemajuan sastra di Indonesia, khususnya sastra anak. Beberapa pengamat dan kritikus sastra mungkin berpendapat nilai sastra dalam buku ini sangat kurang. Tak apa. Kami tidak berkecil hati sebab tujuan kami adalah memulai langkah yang selama ini belum dilakukan oleh mereka yang merasa memiliki kemampuan di dunia sastra, namun tak tergerak hati untuk menerbitkan buku anak-anak yang ditulis oleh anak-anak,” ujar Nana Ernawati lebih lanjut.

Menurutnya, LSS Rebong meyakini bahwa anak-anak memerlukan bacaan yang ditulis oleh anak-anak, sebab mereka lebih memahami dunia mereka. Pasti output-nya berbeda bila tulisan itu dibuat oleh orang dewasa. Nana Ernawati berharap semoga buku ini merupakan langkah yang akan diikuti oleh penerbit dan penulis lain untuk menghargai sastra anak dan mulai memikirkan tentang dunia bahari. Selama ini banyak penulis yang hanya ‘menggarap’ kehidupan di kota besar, padahal ada wilayah lain yang juga penting untuk dibahas demi menambah pengetahuan dan wawasan, itulah lautan dan segala isinya.

Selanjutnya LSS Reboeng juga berharap, cerita-cerita dalam buku ini, yang ditulis oleh anak-anak pesisir maupun anak-anak kota yang pernah berkunjung ke pantai, dapat memberikan Sebagian gambaran tentang kehidupan anak-anak di pesisir yang selama ini sangat sedikit kita ketahui. Dengan demikian, tulisan mereka dapat menjadi sumbangsih pengetahuan bagi kita semua, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Sementara itu, dalam Kata Pengantar yang diawali dengan ucapan Salam Literasi Anak Indonesia! I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia memberikan judul “Merayakan Kelahiran Anak-Anak Bertalenta”, berikut sambutan selengkapnya.

Dengan dibentuknya Lembaga Pengembangan Talenta Indonesia, Presiden Joko Widodo berharap, semua elemen bersatu padu memperhatikan dan mendukung generasi penerus bangsa dalam mengoptimalkan kemampuan yang mereka miliki. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan dengan memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang menunjang kreativitas dalam berkarya, sehingga generasi muda terus produktif. Harapan besar Presiden tersebut tentu tak dapat dicapai tanpa dukungan dari berbagai elemen, baik secara kelembagaan maupun secara perseorangan.

Dalam pada itu pemerintah terus mencari dan membina para generasi unggul. Dengan upaya itu diharapkan nantinya akan bermunculan generasi muda yang mampu berkontribusi besar terhadap bangsa dan negara sesuai bidang masing-masing, sehingga negara terus berkembang dan mampu bersaing di kancah dunia.

Menciptakan dan membina generasi bertalenta tentu saja tidak serta-merta terwujud seperti membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan perjuangan yang tidak mudah, terlebih di tengah situasi negara menghadapi pandemi Covid-19, ketika hampir semua kalangan, tak terkecuali mental anak-anak, berada dalam tekanan. Di saat-saat seperti inilah kepedulian dan kerja kreatif untuk tetap produktif sangat diperlukan, baik secara individu maupun kerjasama antarkelompok, lembaga pemerintah, dan non-pemerintah.

“Rasa bangga, haru dan Bahagia saya rasakan waktu membaca buku Kisah-Kisah Dari Bawah Laut Negeri Bahari ini, bangga karena begitu banyak anak Indonesia yang bisa membuat tulisan yang sangat indah seperti ini, dan haru karena mereka adalah anak-anak yang berasal dari pesisir yang dengan penuh imajinasi bercerita tentang laut dan isinya yang menjadi keseharian mereka. Saya juga bahagia karena buku ini sebagai salah satu pembuktian bahwa kualitas dan kemampuan anak Indonesia dalam menulis memang patut diberi acungan jempol. Negara kita adalah negara maritim, sehingga buku ini menjadi pengingat dan penguat keinginan kita untuk lebih memelihara laut dan segala kekayaan didalamnya,” tutur Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

“Oleh karena itulah saya melihat dan membaca bahwa upaya yang dilakukan oleh Lembaga Seni dan Sastra Reboeng perlu diapresiasi. Penerbitan buku ini tidak semata-mata bertujuan memfasilitasi para generasi bertalenta sebagaimana yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo, namun juga membuka mata pengetahuan kita tentang Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim. Lebih-lebih buku yang menghimpun cerita anak ini ditulis sendiri oleh anak-anak yang tak lain merupakan generasi penerus bangsa; generasi yang penuh talenta,” jelas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia.

Dalam penutupnya, I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengucapkan selamat kepada Lembaga Seni dan Sastra Reboeng beserta anak-anak yang karyanya terhimpun dalam buku tersebut, semoga langkah mulia ini dapat dicontoh dan dikembangkan, baik oleh komunitas-komunitas, lembaga pemerintahan, maupun perseorangan.

"Kisah-Kisah dari Bawah Laut Negeri Bahari" yang disunting oleh Dhenok Kristianti dan Mahwi Air Tawar, dibantu Pemeriksa Aksara oleh Nurul Ilmi dan Tata letak oleh Mawaidi, dengan Ilustrator oleh Yose Sulawu, Rifzikka Atmadiningrat, Maria Arum dan Pararupaindonesia.com, merangkum karya dari 31 Penulis masing-masing, Adelia Abidah, Adil Julianto, Amira, Andin Swara, Andry Aksary Renuat, Annisa Zhafira, Aulia Zahro Pramono, Azzahra Altafunnisa, Briliana Ega Nesya, Britannia Autumn Matakupan, Cherryl Nafiza Hammam, Desri, Devia Trisna Arum, Endah Febriatun, Fadlan Su’aedillah, Fajar Tri Nugroho, Hud Abdullah Ahad, Kayla Mumtazah Mudzakkir, Mazaya Iklil Jinan, Najmah Azka Fauziyah, Nararya Dwi Putri Artianto, Naura Talitha, Nayla Athaya N.C., Neysa Amira Dzakiyah Aurora, Rahmaniyah Sya’bana, Reyhan Alvaro Rizky Permana, Soleha, Syifa Syauqiyah Anwar, Tsania Putri Avicenna El Habeeb, serta Valentina Jeanne d’arc Sirken. (Nana E. Nusyirwan/Antok Wesman-Impessa.id)