Feature

Fashion Show Masker Indonesia Akhir Tahun di Galeria Mall Yogyakarta, Sustainable Fashion Reduce-Reuse-Recycle.

Fashion Show Masker Indonesia Akhir Tahun di Galeria Mall Yogyakarta, Sustainable Fashion Reduce-Reuse-Recycle.

Fashion Show Masker Indonesia Akhir Tahun di Galeria Mall Yogyakarta, Sustainable Fashion Reduce-Reuse-Recycle.

Impessa.id, Yogyakarta: Fashion Show Sustainable Fashion (Reduce-Reuse-Recycle) berlangsung pada Minggu (27/12/2020) di Pameran Masker Indonesia tepatnya di Lantai 1 Galeria Mall Yogyakarta. Fashion show yang dibuka oleh Lia Mustafa di isi acara Tutorial Make Up dari Jakarta oleh Richard dan Ricky didukung dua model dari Arby Modelling School dengan Outfit ammalee.

Mengangkat Tema Sustainable Fashion dengan tajuk “Awali Tahun Baru dengan Yang Baru” dalam karya Laboratté para desainer memanfaatkan perca kain yang diolah dengan teknik pewarnaan shibori, kain cukup tidak cukup, bagaimana caranya disambung, bahkan tidak dibiarkan tersisa sedikitpun.

Mengangkat judul “Brand new chapter, brand new lifestyle” fashion show melibatkan empat disainer masing-masing, Rupa Datu by Ayughia Sugandhi, Batike Billiardo by Ronni Billiardo, Laboratté by Ang Hermana serta Asharja by Fariz Ashar dan Ardani Harja.

Ke-empat desainer mengajak untuk lebih mencintai bumi, karena kita semua tau limbah tekstil merupakan penyumbang limbah terbesar yang dapat mempengaruhi kerusakan bumi. Dan sejenak kembali untuk menahan ego di akhir tahun 2020, agar tidak perlu sesuatunya harus selalu beli yang baru, manfatkan apa yang ada, gunakan kreativitas untuk mengolah pakaian lama menjadi baru, memanfaatkan kain yang tadinya menjadi perca limbah dan memenuhi lemari, namun dengan kreativitas dan kemauan maka dapat menjadi sesuatu yang baru, yang bisa dipakai, berguna, dan bahkan dijual.

“Mulailah melatih diri untuk tidak menyimpan terlalu banyak barang yang akhirnya hanya rusak karena tidak dipakai. Dengan ide dan kreativitas, ada banyak hal yang dapat kita lakukan, manfaatkan, kita bagikan, upayakan untuk kehidupan yang lebih baik dan bumi yang lebih baik,” ungkap Lia Mustafa dalam sambutan pembujkaan acara.

“Tuntaskan segala hal di tahun ini tanpa tersisa. Dan mulailah buka lembaran baru di tahun yang baru 2021 dengan mengambil banyak pembelajaran di tahun 2020 ini. Pakailah segala sesuatunya secukupnya, tepat guna, dan tentunya bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga bagi bumi kita,” imbuh Lia Mumstafa lebih lanjut.

Untuk cutting atau desain model baju yang dipilih dalam busana tersebut sederhana, cutting benar-benar mengikuti sisa kain yang ada, semua desain ini dibuat tanpa pola, karena benar-benar ingin menunjukan karya yang berbicara. Tema nya lebih ke busana casual dan multifungsi.

Designer Rony Billiardo dengan brand Billiardo mengusung judul “Sisi Timur” menyiratkan dalam era modernisasi, kesadaran menjaga lingkungan sekitar agar lestari dan seimbang dibutuhkan langkah-langkah konkret, salah satunya dengan mengurangi limbah dan ramah lingkungan.

Brand Billiardo, mengeluarkan outfit dengan konsep sustainable fashion tenun Rerempet dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tenun Rerempet ditenun dari sisa-sisa benang tenunan yang dijadikan satu menjadi sehelai kain. Tenun Rerempet menggunakan pewarna alam yang terbuat dari bahan-bahan sekitar. Keberadaan tenun Rerempet dapat mengurangi limbah pada pembuatan kain tenun di Lombok.

Tenun Rerempet yang ditenun oleh sekelompok wanita berusia lansia, dipadupadankan dengan tenun Lurik Jogja untuk outfit wanita. Pada outfit pria, menggunakan tenun Pringgasela dengan motif Sadewa dan pewarnaan alam. Tenun Pringgasela yang juga ditenun oleh sekelompok wanita di daerah Pringgasela, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dipadupadankan dengan Lurik Jogja. Warna-warna yang dipilih yaitu, hijau, abu-abu, maroon, kuning, coklat, dan crème. Outfit terdiri dari kemeja, celana panjang, blouse, outer, dan sarung serta dilengkapi dengan masker yang terbuat dari bahan tenun Lombok.

Kemudian Asharja by Fariz Ashar dan Harja mengangkat judul “Panen Iwak” suatu penyemangat yang terinspirasi dari rasa jenuh tinggal di rumah saja, maka berangkatlah menuju sebuah pantai menjelang pagi. Sesampai disana melihat nelayan pulang melaut dan menjadikan ide membuat batik dan sibori yang kemudian dijadikan produk fashion dengan nilai jual tinggi. Disain dan motif baju yang dibuat dari awal kain polos hingga menjadi sebuah karya, dibuat simpel agar mudah dinikmati. (Features of Impessa.id by Lia-Antok Wesman)