Feature

Pemerintah Pusat Mengapresiasi Kinerja Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemerintah Pusat Mengapresiasi Kinerja Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemerintah Pusat Mengapresiasi Kinerja Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta: “Peluncuran Virtual Jogja International Travel Mart merupakan langkah yang bagus dan strategis yang dilakukan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menggairahkan kembali sektor pariwisata, setelah hampir delapan bulan kita terkungkung, kerja dari rumah, sedangkan DNA Pariwisata itu adalah pergerakan, perjalanan, kita lihat sekarang Jogja punya travel mart yang sifatnya virtual, Jogja ingin mendapatkan kepercayaan, gaining confidence dan trust pada pasar-pasarnya, bukan hanya wisnu tapi juga wisman, karena pada saatnya border dibuka untuk internasional, kita harus benar-benar siap menerima kunjungan tamu. Kami sangat mendukung inisiatif Dispar DIY ini,” ungkap Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Vinsensius Jemadu sesaat jelang peluncuran program tersebut di Harper Hotel Yogyakarta, Sabtu malam (7/11/2020).

Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Ir Singgih Raharjo SH Med dalam sambutannya mengatakan, “Kegiatan ini sebagai bukti bahwa kita sudah melangkah satu langkah lagi. Yogyakarta mempunyai dua strategi yaitu strategi pemulihan destinasi dan pemulihan pasar. Sekarang kita masuk di pemulihan pasar. Kita sudah mencoba untuk bagaimana pasar akan merespon apa yang sudah kita lakukan selama ini. Dengan pemulihan destinasi, segala upaya yang kita lakukan, saling gandeng tangan untuk bersama-sama membangun confiden-nya baik itu pengelola maupun pasar, untuk bisa berwisata lagi,” ujarnya.

“Sampai saat ini Jogja belum promosi Silahkan Datang Ke Jogja Untuk Berwisata, belum! Tetapi yang kita lakukan sekarang ini adalah Gaining Confidence-nya. Bagaimana para pengelola destinasi wisata, usaha jasa pariwisata itu mendapatkan kepercayaan diri untuk menerima kunjungan wisatawan, dengan Protokol yang baru. Karena itu satu-satunya yang akan menumbuhkan percaya dirinya para wisatawan untuk datang ke Jogja,” tutur Singgih Raharjo.

Kadispar DIY menambahkan, “Tidak mungkin apa yang kita lakukan sekarang ini tanpa dipersiapkan, kemudian mengharapkan para wisatawan datang. SOP tidak ada, Protokol Kesehatan tidak ada. Orang datang ke jogja merasa was-was. Nah makanya beberapa bulan itu kita memulihkan destinasi, menyediakan sarana-prasarana, mendidik SDM, membuat simulasi, melakukan verifikasi, jadi sebelum Kementerian menerbitkan program Sertifikasi, kita sudah melakukan verifikasi. Karena pada waktu itu belum ada yang punya kompetensi untuk melakukan Sertifikasi. Tentu Sertifikasinya untuk destinasi dan usaha Pariwisata itu sendiri,”  

Menurut Singgih Raharjo, “Kalau sekarang Kementerian ada sertifikasi, ini menambah PD-nya kami. Apa yang sudah dilakukan kemarin, verifikasi, yang sudah ter-verified, kemudian disertifikasi, ini kan tambah PD. link-nya nasional dan bahkan mungkin bisa diklaim untuk internasional”.

Berkaitan dengan Self Mission, Singgih Raharjo menekankan bahwa hal itu menjadi bagian yang terus dicoba. “Pasar Wisatawan, khususnya domestik atau Wisatawan Nusantara. Bagi temen-temen ASITA saya mendorong untuk mengambil porsi yang ini, karena kalau kemudian porsinya mancanegara itu belum. Nah yang ada mari kita buka secara baik, kita manfaatkan secara baik, pasar domestik,” jelasnya lebih lanjut.

“Selama Long Weekend, bulan Agustus 2020 dan Oktober 2020. Didalam aplikasi Visiting kami, lebih dari 180-ribu wisatawan domestik mengunjungi Jogja. Kebanyakan dari mereka mengunjungi destinasi wisata outdoor seperti wisata pantai dan sebagainya,” ujar Singgih Raharjo. Laporan dari PHRI DIY, rata-rata 95% occupancy-nya dari hotel bintang maupun yang non-bintang. Jogja daya tariknya luar biasa. Sebuah survei mengatakan kalau pandemi selesai, Jogja nomor satu yang akan dikunjungi. Ini luar biasa. Jangan dikendorkan Protokol Kesehatan itu. Karena itu menjadi satu-satunya garanti bagi Jogja.

Kadispar Singgih Raharjo mengatakan komplet betul kekayaan Jogja, mulai dari Gunung, yang teraktif di dunia, pegunungan Jogja juga punya, ada Menoreh, Gunung Kidul kemudian Mangunan di Bantul. Untuk laut, mulai di Kulon Progo sampai ke Gunung Kidul. Kemudian perkotaan, Pedesaan, apalagi budaya. Jogja memang luar biasa. Untuk jarak tempuhnya bisa menyelesaikan Cultural Experiences maupun Nature Experiences tidak diperlukan waktu yang lama. Jangkauannya cukup dekat, tinggal bagaimana Paket Wisata itu dibuat.

“Kalau sekarang terjadi perubahan tren wisata, mari kita ikuti bagaimana tren sekarang ini. Booming sepeda. Ciptakan Paket Sepeda. Kesehatan tetap harus ditegakkan dengan Pranatan Anyar Plesiran Jogja, juga Paket-Paket yang bisa kita ciptakan karena ada pergeseran tren, apalagi kalau bicara tentang Wellness Tourism, Jogja ini tak akan habis kalau dikupas Wellness Tourism. Jadi bagaimana kita menghadirkan sebuah Paket Wisata, baik itu Paket Wisata Budaya maupun Alam sebagai bagian yang harus didorong,” jelasnya.

Terkait peluncuran Virtual Jogja International Travel Mart tersebut, kepada Impessa.id, Kadispar DIY Singgih Raharjo menjelaskan, “Yang kita bangun adalah experience para seller dan buyer itu, betul-betul seperti hadir secara offline, dimana seller mempunyai booth-booth sendiri, tersedia ballroom, buyer dapat mengambil brosur, bahkan komunikasi langsung dengan seller-nya juga bisa. Yang kita bangun adalah digital experience-nya. Kita mengundang 20 buyers dari mancanegara, dan 30 sellers dari Yogyakarta. Walaupun border belum dibuka, kita mencoba Say Hello dan menawarkan produk kita kepada buyers. Kita ingin memberikan gambaran sebenarnya bahwa kesiapan dari destinasi dan usaha pariwisata di Yogyakarta setelah pandemi dan tentunya border dibuka,” ungkapnya.

Eko Cahyo Wibowo dari Traveloka sebagai perusahaan murni Indonesia sejak 2012, dengan lebih dari 90% karyawannya WNI, sekarang ada di tujuh negara, menjelaskan ada dua point penting yang sekarang sedang dicari wisatawan yakni, Kebersihan atau Health dan Hygiene dan Promo atau Diskon, mengingat kondisi keuangan belum pulih sepenuhnya.

“Booking window kami menunjukkan orang yang mau ke Jogja pada hari yang sama itu 51%, kemudian yang cari H-1 itu 15%. Sampai Oktober 2020, peningkatan wisatawan ke Jogja mencapai 635%, Dari semua destinasi yang masuk Top Favorit di Traveloka, Jogja menempati urutan kedua setelah Bandung. Menurut data dari Traveloka, wisatawan yang berkunjung ke Jogja kebanyakan (79,8%) menginap hanya satu malam saja. Dalam tiga bulan terakhir, Jogja menjadi tujuan favorit bagi wisatawan dari Surabaya dan Jakarta,” ungkap Eko Cahyo Wibowo.

Dalam kesempatan itu, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 Kementerian Parekraf, Vinsensius Jemadu menilai semangat dan komitmen membangkitkan industri pariwisata telah ditunjukkan oleh Dinas Pariwisata DIY, disaat kota-kota lain masih terpuruk dan belum bangkit, “Kita lihat Yogyakarta, tanda-tanda kehidupan, tanda-tanda geliatnya sudah sangat mantap. Bahkan menurut Traveloka, Yogyakarta itu berada di Top of Mind-nya wisatawan. Yogyakarta itu menjadi Hot Spot, Kementerian telah mengalokasinya dana sekitar 8-milyar rupiah bekerjasama dengan Traveloka untuk jual paket-paket liburan dan ternyata Yogyakarta mendapat porsi yang luar biasa,” akunya yang spontan mendapat applaus dari semua yang hadir di Ballroom Harper Hotel Yogyakarta.

Kemenparekraf ikut prihatin atas kondisi industri pariwisata Indonesia yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Sejak Mei 2020 Kemenparekraf membuat berbagai skema untuk secara perlahan membantu, diantaranya memberikan fasilitasi akomodasi bagi tenaga medis di beberapa Rumah Sakit, dan hotel-hotel, supaya terisi kamar-kamarnya, meskipun tidak begitu signifikan, namun setidaknya menunjukkan bahwa pemerintah hadir ditengah-tengah keterpurukan, termasuk bantuan akomodasi fasilitasi mandiri untuk OTG (Orang Tanpa Gejala) di beberapa hotel di Jakarta dan Bali. Kemudian memberikan sertifikasi gratis bagi hotel, home-stay, rumah-makan, destinasi, obyek wisata, atraksi wisata dan restaurant, karena kedepannya wisatawan akan mencari semua yang betul-betul menerapkan Protokol Kesehatan.

“Program Sertifikasi ini sukarela, tanpa paksaan, namun sebaiknya diikuti, karena kedepannya dengan label Indonesia Care, I Do Care, seperti yang sudah diterapkan di Singapura, ini menjadi langkah mengantisipasi kecenderungan pariwisata global kedepannya. Target kami sebanyak delapan ribu yang memperoleh sertifikasi ini,” ungkap Vinsensius Jemadu.

Ada pula stimulus paket diskon-diskon paket wisata untuk membantu industri pariwisata dan wisatawan. Semua itu rencananya diterapkan oleh Pemerintah di awal tahun 2021. “Presiden Jokowi berpesan agar berhati-hati, di era pandemi kog ngajak orang jalan-jalan,” imbuhnya. Kerjasama dengan Taveloka juga masih dalam bentuk Soft Selling, belum sampai Hard Selling, mengingat kerasnya respon para netizen.

Menurut Vinsensius Jemadu, DNA nya pariwisata itu kan pergerakan, perjalanan, disaat perjalanan berhenti jelas urat-nadi nafas pariwisata juga terhenti. “Melihat liburan kemarin, di Yogyakarta 70% hotel-hotelnya terisi, di Bali 65%, di Banyuwangi hampir 100% terisi. Artinya, pada saat kita mulai menggeliat kembali menunjukkan semangat, kita yakin masyarakat juga akan mendukung kita, karena setelah sekian lama Stay at Home, Work from Home, melihat itu-itu saja, tentunya ingin keluar. Di bulan Agustus-September dicoba ada pergerakan dari kota-ke kota, kemudian di bulan Oktober-November, ada pergerakan dari Pulau-ke-Pulau, dari Propinsi-ke-Propinsi. Guna menumbuhkan perekonomian nasional,” jelasnya.

Pemerintah Pusat melalui Menparekraf memberikan apresiasi atas inisiatif Dispar DIY membuat Virtual Jogja International Travel Mart yang menunjukkan bahka “kami ada dan kami siap untuk menerima tamu-tamu”, agar tetap berada di Top of Mind Pasar, mengingat kompetitor dari negara ASEAN dan Asia, mentarget pasar yang sama. Pemerintah tengah mempersiapkan diri membuka border khusus untuk pariwisata, bagi negara-negara ASEAN, Jepang, Korea, China, dan Uni Emirat Arab. “Saya yakin Yogyakarta akan booming, mengingat sudah ada bandara internasional YIA yang megah dan mampu menampung pesawat berbadan besar,” pungkas Vinsensius Jemadu. (Feature Impessa.id by Antok Wesman)