Festival Sastra Yogyakarta JOGLITFEST, berlangsung Selama September 2019
Impessa.id, Yogyakarta : Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sebagai penanda dimulainya babak baru di bidang kebudayaan, dimana Negara berkewajiban memajukan kebudayaan nasional seperti yang termaktub dalam amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945, pedoman untuk memajukan kebudayaan nasional secara menyeluruh dan terpadu melalui Perlindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan.
Untuk itu, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Pemerintah, mengucurkan dana sebesar tiga milyar rupiah dari Danais untuk mendukung kegiatan bernama JOGLITFEST, sebutan dari Festival Sastra Yogyakarta, perhelatan kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, hasil kerja sama antara pemangku kepentingan sastra di Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, sastrawan/penggerak sastra, akademisi, perguruan tinggi, komunitas, penerbit, lembaga pemerintah dalam bidang literasi, dan lembaga swasta.


Festival Sastra Yogyakarta dengan tema "Gregah Sastra”, dihelat untuk mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antarmasyarakat sastra di dalam dan luar Yogyakarta, berlangsung pada 2-30 September 2019, dengan puncak kegiatan pada 27-30 September 2019.
Hal itu terungkap dalam Press Conference, Senin (2/9/19) yang berlangsung di Ruang Bima Dinas Kebudayaan Jalan Cendana Yogyakarta, bersama Kepala Dinas Aris Eko Nugroho, didampingi Rully Andriandi selaku Kepala Bidang Pengembangan Sejarah, Sastra dan Permuseuman, serta Tim Ahli yang diwakili Profesor Farouk HB, kemudian Ade Tanesia dari Indonesiana, Tia Setyadi dari Tim Kurator dan Suharmono Arimba selaku Ketua Umum JOGLITFEST 2019.


Peluncuran Festival Sastra Yogyakarta, ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho, diberikan kepada Suharmono Arimba, Ketua Umum JOGLITFEST 2019, Senin (2/9/19).
Ade Tanesia dari Indonesiana, sebagai platform Gotong Royong Kebudayaan, menilai Yogyakarta memiliki ekosistem sastra yang kuat didukung sumber daya sastra yang banyak dan potensi sastranya luar biasa, sehingga melalui Festival Sastra Yogyakarta, diharapkan Jogja menjadi poros sastra nasional-internasional.
Kegiatan JOGLITFEST dipusatkan di Museum Benteng Vredeburg, adapun lokasi pendukung lainnya berada di Desa Budaya, Taman Budaya Yogyakarta, Kantung Budaya Komunitas Sastra, PKKH UGM, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Ahmad Dahlan, Kantung Budaya Kabupaten/Kota di DIY. Kegiatan Sastra yang telah berlangsung rutin di Yogyakarta seperti, Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya Sewon-Bantul, dan Bincang Bincang Sastra yang digelar oleh Studio Pertunjukan Sastra, masuk di dalam agenda JOGLITFEST tersebut.

"Diselenggaranya Joglitfest ini bertujuan untuk mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antar masyarakat sastra di dalam maupun luar Yogyakarta. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa dengan mengangkat khazanah sastra, baik Sastra Jawa maupun Sastra Indonesia, sekaligus sebagai penyatuan dan pengenalan sastra Indonesia dan mancanegara," ungkap Suharmono Arimba.
Pelaksanaan JOGLITFEST juga dari latar belakang Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kebudayaan sehingga Joglitfest dapat menjadi wahana untuk menumbuh-kembangkan identitas budaya dengan menampilkan keunikan dan ketersambungan daerah. Ruang pertemuan para insan sastra untuk saling bertukar nilai-nilai luhur dari masing-masing keragaman budaya guna mencerdaskan kehidupan bangsa.

Keberagaman Indonesia dari sisi literasi dapat ditemukan di JOGLITFEST. Pertemuan elaborasi yang cair dalam semangat Bhineka Tunggal Ika, percampuran warna baru dalam wajah literasi Indonesia, dengan semangat gotong royong, penuh persatuan dalam wadah Festival Sastra Yogyakarta 2019 untuk menghasilkan warna baru yang mampu menyemaikan tunas-tunas rasa kebanggaan berbangsa yang kemudian memperteguh jati diri.
Menurut Suharmono Arimba, Festival Sastra Yogyakarta 2019 yang untuk pertamakalinya digelar, mendapat respons positip dari sastrawan, komunitas sastra, kritikus sastra, penerbit, serta pihak sastra, dari berbagai latar belakang. Pada akhirnya, produk-produk tangible dan intangible yang dihasilkan selain meningkatkan citra bangsa di mata dunia, juga mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia melalui jalur literasi.
JOGLITFEST memiliki empat rangkaian acara, yang pertama Pengkajian Sastra meliputi Seminar Sastra Internasional yang dihadiri sembilan sastrawan mancanegara dari Malaysia, Singapura, Thailand, Amerika dan Afrika. Kemudian Diskusi Sastra, dan Bincang Sastra Generasi Milenia. Ke-dua Pertunjukan Sastra meliputi Pembacaan Karya Sastra, Pemanggungan Karya Sastra, dan Pemutara Film Sastra. Ke-tiga adalah Pasar Sastra yang meliputi Pameran dan Pemasaran Buku Sastra, Pameran Manuskrip Karya Sastra, dan Peluncuran Bersama Buku Karya Sastra. Ke-empat Pergelaran Sastra di Ruang Publik mencakup Pergelaran Seni dan Sastra, Instalasi Rupa Sastra, Taman Bacaan Sastra, dan Pusat Dokumentasi Sastra.
JOGLITFEST yang menghadirkan 50 sastrawan dari seluruh propinsi di Tanah Air, juga melibatkan banyak pihak, antara lain, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dinas Terkait, Lembaga-Lembaga Budaya, Komunitas Seni, Perguruan Tinggi, Sekolah-sekolah, Tokoh Masyarakat, Seniman dan Sastrawan, Organisasi Masyarakat, Penerbit, Media Massa, dan Masyarakat Umum. Partisipasi aktif masyarakat secara langsung didesain untuk mengembangkan rasa memiliki terhadap Festival Sastra Yogyakarta, menjadi bagian dari kegiatan masyarakat. (Mesthy/Antok Wesman)

