Event

Lima Seniman-Kelompok Seni Terpilih dari Pameran Platform Perupa Muda, Mengikuti Biennale Jogja XV 2019

Lima Seniman-Kelompok Seni Terpilih dari Pameran Platform Perupa Muda, Mengikuti Biennale Jogja XV 2019

Lima Seniman-Kelompok Seni Terpilih dari Pameran Platform Perupa Muda, Mengikuti Biennale Jogja XV 2019

Impessa.id, Yogyakarta : Pada Minggu (04/10), Dewan Juri pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV - 2019 yang terdiri dari Faruk HT (budayawan), Nasir Tamara (akademisi), Nindityo Adipurnomo (seniman), Eko Prawoto (arsitek), dan Zamzam Fauzanafi (akademisi) telah melakukan proses seleksi atas 16 seniman/kelompok seni peserta pameran “Dari Batu, Air, dan Alam Pikir… Untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia”.

Dari 16 peserta pameran tersebut, dipilih 5 seniman/kelompok seni yang nantinya akan ikut serta dalam pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019 pada 20 Oktober sampai 30 November 2019.

Pemilihan lima seniman/kelompok seni berdasar pada beberapa kriteria, yaitu: Aspek visual (bahasa ungkap dan metafor) karya, Kesesuaian antara karya dengan gagasan tentang pinggiran yang menjadi tema Biennale Jogja XV – 2019, Keselarasan antara material yang digunakan dengan isu yang dibicarakan, dan Kebaruan atau inovasi dalam segi visual, penggunaan material, dan perspektif terhadap isu.

Berdasar kriteria-kriteria di atas, lima seniman/kelompok seni terpilih Wisnu Ajitama dengan karya berjudul Umbai-Umbai, Yosep Arizal dengan karya berjudul Tanggalan Mani, Meliantha Muliawan dengan karya berjudul Point of Interest, Studio Malya (kelompok) dengan karya berjudul Have You Heard It Lately?, serta Pendulum (kelompok) dengan karya berjudul Rest In Fear.

Karya Wisnu dianggap berhasil menghadirkan tafsir tentang masalah yang diangkatnya dengan cukup kuat. Wisnu mampu melampaui kecenderungan untuk sebatas menghadirkan isu dan bisa menghadirkan perspektifnya atas isu tersebut. Pemilihan medium karya dari tripleks juga jadi penting sebab mampu menyentuh gagasan tentang pinggiran sebab identik sebagai material untuk bangunan-bangunan di daerah-daerah kumuh perkotaan. Selain itu, pilihannya untuk menghadirkan usus sebagai bentuk visual juga mampu jadi metafor yang baik bagi kebutuhan untuk makan.

Sementara, karya Yosep memiliki perspektif yang menarik dalam mendekati naskah kuno. Alih-alih menghadirkan kembali apa yang di dalam naskah, Yosep memilih untuk bermain-main dengan naskah kuno tersebut. Laku ini bisa dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan pengetahuan, khususnya tentang isu seksualitas perempuan dan laki-laki. Di titik itu, ada upaya untuk mempertanyakan wacana utama dari isu yang dihadirkan sekaligus menghadirkan alternatif atasnya. Secara visual, karya ini juga punya potensi yang sangat kaya untuk dikembangkan lebih jauh.

Kemudian, karya Meliantha memiliki bahasa visual yang mudah dimengerti sebab jelas dan komunikatif. Pilihannya untuk menghadirkan kartu pos yang secara medium mulai terpinggirkan adalah pilihan yang menarik. Observasinya soal pariwisata Indonesia yang masih menggunakan citraan-citraan arus utama yang mengetengahkan eksotika Indonesia memperkaya karya.

Sulit sekali, atau bahkan tidak mungkin, mendapatkan visual-visual daerah pinggiran dalam kartu pos pariwisata Indonesia. Di titik ini, pilihan Meliantha untuk melipat dan menutup kartu pos tepat di objek-objek utamanya jadi menarik sebab bisa dilihat sebagai laku intervensinya atas citraan arus utama tersebut. Selain itu, laku Meliantha untuk melukis ulang kartu pos-kartu pos yang ditemukannya menekankan kemampuannya dalam segi teknik kekaryaan.

Sedangkan karya Studio Malya mampu jadi metafora yang baik untuk rumor-rumor yang begitu banyak tentang peristiwa 65. Bahasa ungkap karya ini membuat orang bisa merasakan sisi ketidakjelasan narasi tragedi tersebut. Secara konten dan presentasi karya, ada banyak potensi yang masih bisa dieksplorasi dari karya. Pilihan Studio Malya untuk fokus pada perspektif anak muda atas peristiwa tersebut juga menarik. Sudut pandang yang belum banyak digali oleh seniman-seniman lain yang juga menghadirkan soal 65 dalam karya-karyanya.

Karya Pendulum berhasil menghadirkan narasi tentang pinggiran yang lekat dengan persoalan tenaga kerja dan tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Karya ini dianggap mampu menghadirkan pertanyaan penting tentang masalah tenaga kerja lewat sesuatu yang “sederhana” macam kebutuhan pekerja untuk beristirahat. Karya itu mampu membuat publik melihat hal-hal yang mungkin terlewat dalam keseharian mereka. Intervensi ruang publik yang digunakan punya potensi besar, sekaligus menantang, untuk dikembangkan lebih lanjut. Secara visual dan presentasi, karya Pendulum punya banyak aspek menarik untuk dieksplorasi.

Kelima seniman/kelompok seni terpilih selanjutnya mendapat proses pendampingan lebih lanjut untuk mempersiapkan partisipasi mereka dalam pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019. Pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019 berjudul Do We Live In the Same PLAYGROUND? dengan fokus mengangkat tema pinggiran.

Do We Live In the Same PLAYGROUND? merupakan pertanyaan dan ajakan untuk solidaritas. Pameran dimaksudkan sebagai pertanyaan tentang posisi seniman, audiens, dan pihak-pihak lain dalam berbagai isu yang dihadapi, kritik, atau sindiran terhadap praktik seni yang menjadikan dunia dan penderitaannya sebatas jadi medan permainan, konsep, dan inspirasi. Pameran juga dimaksudkan sebagai respons terhadap isu bersama dan juga beragam persoalan yang berlangsung di konteks negara masing-masing yang digerakkan oleh otoritas tertentu.

Seniman-seniman yang terlibat di Biennale Jogja XV Equator #5 2019 masing-masing, Abdul Semute (Surabaya), Angki Purbandono (Yogyakarta), Anida Yoeu Ali (Kamboja), Arief Setiawan (Pontianak), Arisan Tenggara (Asia Tenggara), Bing Lathan (Pontianak), Bounpaul Phothyzan (Laos), Citra Sasmita (Denpasar), Cut Putri Ayusofia (Banda Aceh), Deden Sambas (Bandung), Dian Suci Rahmawati (Yogyakarta), Ferial Afiff (Yogyakarta), Gan Siong King (Malaysia), Geger Boyo (Yogyakarta), Hendra Priyadhani “Blangkon” (Yogyakarta), Hildawati Soemantri Sidharta (Jakarta), Ika Vantiani (Jakarta), Ipeh Nur (Yogyakarta), Khairulddin Wahab (Singapura), Khonkaen Manifesto (Thailand), Ling Qiusumbing Ramilo (Filipina), Made Bayak (Denpasar), Meliantha Muliawan (Yogyakarta), Moe Satt (Myanmar), Moelyono (Tulung Agung), Mukhlis Lugis (Makassar), Muslimah Collective (Thailand), Nasirun (Yogyakarta), Nerisa del Carmen Guevara (Filipina), Nge Lay (Myanmar), Nguyen Thi Thanh Mai (Vietnam), Nguyen Trinh Thi (Vietnam), Pathompon Mont Tesprateep (Thailand), Pisitakun Kuntaleang (Thailand), Pendulum (Yogyakarta), Popok Tri Wahyudi (Yogyakarta), Ratu Rizki Saraswati (Jakarta), Ridwan Alimuddin (Makassar), Roslisham Ismail aka Ise (Malaysia), Sutthirat “Som” Supaparinya (Thailand), Suvi Wahyudianto (Yogyakarta), Studio Malya (Yogyakarta), Tajriani Thajib (Polewali Mandar), Tamara Pertamina (Yogyakarta), Tran Luong (Vietnam), Vandy Rattana (Kamboja), Yennu Ariendra (Yogyakarta), Yin Yen Sum (Malaysia), Yosefa Aulia (Bandung), Yosep Arizal (Yogyakarta), Yoshi Fajar (Yogyakarta) dan Wisnu Ajitama (Yogyakarta). (Kiki Pea/Antok Wesman).