130 Guru Besar Bahas Keterpurukan Pendidikan Di Indonesia
Impessa.id, Yogyakarta : Perkembangan dan pembangunan suatu negara atau bangsa dapat dilihat dari bagaimana peran pendidikan tinggi dan juga peran perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai suatu bangsa. Indikator kemampuan atau daya saing bangsa terletak pada faktor pendidikan tinggi dan inovasi, karena hal tersebut menentukan seberapa kuat tingkat daya saing suatu bangsa.
Ketua Dewan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Tulus Warsito menuturkan, “Melihat indikator Human Development Index –HDI, Indonesia masih sangat memprihatinkan. Pada tahun 2002 HDI Indonesia nilainya 0,684, berada pada ranking 110. Pada tahun 2003 HDI Indonesia semakin memburuk, menduduki peringkat 112, dibawah Vietnam (109), Thailand (74) dan Brunei Darussalam (31), Korea Selatan (300 dan Singapura (28). Pada tahun 2004 dan 2005, HDI Indonesia secara berturut-turut berada pada peringkat 111 dan 110,” ungkap Profesor Tulus Warsito.

“Selanjutnya, menurut The 2018 Global Economic Forum of Global Competiveness Index –GCI, yang di rilis World Economic Forum, daya saing global Indonesia berada pada posisi yang terpuruk,” imbuhnya.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, sejumlah profesor “berdarah” Muhammadiyah, untuk pertama kalinya menggelar Silaturahim Aliansi Guru Besar Muhammadiyah –AGBM, secara nasional, bertempat di Gedung AR. Fachrudin A lantai 5 kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta –UMY, pada Sabtu (27/07). Silaturahim yang berlangsung selama dua hari, diinisiasi oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, dan agenda untuk hari pertama, menghimpun pemikiran tokoh-tokoh intelektual mendiskusikan masa depan pendidikan di lingkup Muhammadiyah.

Dalam sambutan pembukaannya, Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budianto, M.P menegaskan pentingnya memahami tiga pilar Muhammadiyah yang menentukan masa depan bangsa. “Pentingnya memahami tiga pilar yang menentukan masa depan bangsa, yakni, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Terkhusus pada hari ini yang menjadi bahasan pokok adalah pendidikan,” terangnya.
Rektor UMY mengatakan bahwa pimpinan Muhammadiyah menyadari bahwa ujung tombak gerakan Muhammadiyah ada di perguruan tinggi. “Kini, pimpinan Muhammadiyah menyadari bahwa ujung tombak gerakan Muhammadiyah itu ada di perguruan tinggi, sehingga momen ini menjadi sangat penting, untuk merumuskan bagaimana kita dengan tingkat kepakaran yang dimiliki masing-masing, bisa memberikan kontribusi positif kepada Muhammadiyah untuk lebih bisa bergerak ke seluruh Indonesia,” tambahnya.

Rektor Gunawan Budiyanto berharap terjalinnya silaturahim yang erat dari acara tersebut. “Harapannya dengan adanya silaturahim pada acara ini, dapat menyalurkan hal-hal yang positif, terutama terkait bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan dari amal usaha Muhammadiyah dan amal usaha berupa pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Lincolin Arsyad, menuturkan Silaturahim AGBM pada 27-28 Juli, selain mendiskusikan tentang tinjauan mengenai Muhammadiyah khususnya pada pendidikan, juga sebagai ajang silaturahim seluruh Guru Besar yang tersebar di seluruh Tanah Air. “Tentu yang menjadi tujuan utama pada acara hari ini adalah silaturahim yang kita jalin bersama. Mengingat Guru Besar Muhammadiyah di Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke, dengan begitu, dapat saling menguntungkan untuk kita semua, dapat saling bertukar gagasan yang luas mengenai masa depan pendidikan di Muhammadiyah,” ungkapnya.

Disampaikan juga bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah -PTMA memiliki dua fungsi penting. “PTMA itu memiliki dua fungsi penting, pertama sebagai pusat unggulan yang melahirkan para peneliti dan pendidik yang unggul, dan tempat melahirkan pemimpin bangsa. Kedua sebagai pendorong perserikatan. Sesuai dengan tiga hal penting dalam PTMA, yaitu unggul, berdaya saing, dan berkemajuan,” imbuh Prof. Lincoln Arsyad.
Pada sesi pertama diskusi tentang Leadership dan Pengembangan Pendidikan Tinggi, Prof. Djamaluddin Ancok mengatakan bahwa kepemimpinan otentik adalah penunjang sukses dalam mengelola perguruan tinggi. “Tugas pemimpin itu harus bisa menjadi ‘role model’ bagi rekan-rekan kerjanya. Bisa menumbuhkan suatu ikatan yang erat dalam suatu pekerjaan. Itulah salah satu hal yang perlu dipupuk dalam dunia pendidikan di Muhammadiyah,” ujar Guru Besar Universitas Gadjah Mada -UGM Yogyakarta.


“Manfaat menumbuhkan ikatan kerja pada perguruan tinggi itu dapat berupa peningkatan produktifitas, peningkatan profitabilitas, peningkatan kualitas kerja pada produk dan layanan, serta peningkatan efisiensi. Oleh karena itu, penting untuk diketahui bahwa memberi pelayanan yang baik kepada manusia sama dengan memberi pelayanan yang baik kepada tuhan, dan itu berlaku sebaliknya,” pungkas Profesor Djamaluddin Ancok.
Nama-nama Pengurus Majelis Diktilitbang Periode 2015-2020 diantaranya, Prof. Edy Suandi Hamid, M.Ec; Prof. Noor Rochman Hadjam, SU, Psikolog; Prof. Dr. Chairil Anwar; Prof Dr. Khudzaifah Dimyati, SH,Mhum; Prof. Dr. Bambang Setiaji; Prof. Dr. Irwan Akib, MPd; Sudarmoto Abdul Hakim, MA, PhD; dan Muhammad Sayuti, MPd, M.Ed, PhD. (CDL/Antok Wesman)

