Pameran Tunggal Widi S. Martodihardjo Di Bentara Budaya Yogyakarta
Impessa.id, Yogyakarta : Pameran itu menandai bahwa Widi, masih ingin merasakan wacana tentang asal muasal atau darimana ia berawal, yakni Yogya. Karya-karya hasil goresan dari bolpoin di atas kertas dipaparkan dalam Pameran Tunggal Widi S Martodihadjo bertajuk “Sumarah” di Bentara Budaya Yogyakarta pada 12-20 Juni 2019, berupa eksplorasi menggambar menggunakan bolpoin dan cat minyak di atas kanvas.
Frans Sartono, Direktur Program Bentara Budaya menuturkan, mengapa bolpoin? Alat tulis itu baginya juga alat gambar. Bolpoin dan kertas juga teman perjalanan hidup. Setidaknya sekitar 20 tahun lalu ia bekerja sebagai ilustrator yang sering menggunakan bolpoin sebagai “alat kerja”. Ketika kemudian tidak lagi berprofesi sebagai ilustrator, dan tatkala berkelana ke Bali, ia tidak meninggalkan sang bolpoin, berikut “memori tubuh” yang bertahun-tahun melekat dalam kesehariannya .
Menurut Widi, benda satu itu sering dilupakan dalam kehidupan sehari-hari, meski hampir setiap hari terselip di saku baju, tersimpan di tas, tergelelak di meja tulis, hampir dimana-mana. Begitu pula kertas, yang berserakan dimana-mana, di luar perannya sebagai alat tulis, pembungkus aneka barang, sering dilupakan perannya sebagai medium ekspresi. Dalam perjalanan hidupnya, bolpoin dan kertas itu menjadi kawan hidup. Sewaktu kuliah di Bandung, bolpoin dan kertas bekas itu pula yang menjadi penyambung hidupnya. Ia berjualan kartu-kartu yang dia gambar di kertas bekas sisa jasa pemotongan kertas.
Karyanya yang lahir dari bolpoin dan kertas pernah diremehkan sebagai karya yang tidak akan laku. Pandangan seperti Itu tidak menyurutkan langkah, malah justru menjadi tantangan. Kerja senyap, telaten, penuh suka cita, berbulan-bulan menghabiskan 400 bolpoin ia lakukan untuk sebuah pameran. Sampai pada satu titik, ia meyakini bahwa karya gambar di atas kertas mempunyai tempat yang sah di dunia seni rupa. Setidaknya, ketika itu karyanya menjadi salah satu finalis Philip Morris Art Award 2012.
Dalam suatu lawatan ke Eropa, bolpoin dan kertas itu menjadi kawan perjalanan. Setiap kertas tiket kereta, struk pembelian di kafe, atau kertas apapun yang bisa dipungutnya ia jadikan catatan perjalanan. Pada potongan-potongan kertas yang ia jumpai di perjalanan, baik ketika di Amsterdam, ataupun di Praha, ia torehkan respons, interaksinya dengan apa yang ia rasakan saat itu. Bolpoin dan kertas bekas itu mencatat laku dan lelakon hidup seorang Widi. (Antok)

