Ki Bagong Mardiyono Pentaskan Wayang Kulit Lakon Semar Mbangun Kayangan Di Tembi Sewon Bantul
Impessa.id, Yogyakarta : Pentas Wayang Kulit semalam suntuk, berlangsung pada Minggu, 26 Mei 2019, mulai pukul 20.00 WIB, di Tembi Rumah Budaya, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, bersama Dalang Ki Bagong Margiyono, dengan lakon “Semar Mbangun Kayangan”.
Koordinator Program Seni Tradisi Tembi Rumah Budaya Herjaka HS menjelaskan, lakon tersebut mengisahkan tentang Tokoh Punakawan Semar yang mengutus Petruk ke Amarta untuk mengajak para Pandawa dan meminjam tiga pusaka untuk membangun Kayangan di tempat kediaman Semar bernama Karang Kabuyutan.

Saat itu Kresna sedang berkumpul dengan Pandawa untuk membahas kondisi Amarta. Ketika Petruk mengutarakan maksudnya, serta-merta Kresna menolak. Kresna marah karena menganggap Semar akan membuat kayangan tandingan Suralaya. Kresna juga berkeberatan tiga pusaka tersebut dibawa Petruk. Ketiga pusaka itu yakni, Jamus Kalimasada, Payung Tunggulnaga, dan Tombak Kalawelang.
Ketika Petruk pergi karena diusir Kresna, ternyata ketiga pusaka tersebut hilang, yang ternyata mengikuti Petruk. Para Pandawa kecuali Arjuna, yakin bahwa Semar benar, sehingga mereka pergi ke Karang Kabuyutan. Sementara di pihak lain, Kresna mengadu ke Batara Guru di Suralaya.
Upaya Kresna menggagalkan rencana Semar, termasuk ber-Tiwikrama, menjadi Raksasa, berhasil dilumpuhkan oleh Semar, serta Semar yang mengamuk di Suralaya, tak ada Dewa, termasuk Batara Guru, yang mampu mengalahkannya. Kisah berakhir setelah Kresna menyadari kecerobohan dan kesalahpahamannya, dan meminta ampun kepada Semar.
Menurut Herjaka, membangun Kayangan yang dimaksud Semar adalah membangun kualitas diri sendiri. Meski sasaran pada kisah tersebut adalah Pandawa, namun sesungguhnya pesan dari lakon itu adalah mutlak dan mendasar bagi manusia, untuk senantiasa mengembangkan kebaikan dalam dirinya. Pesan yang terasa klop dalam bulan Ramadan ini.
Pergelaran Wayang Kulit tersebut, menurut Kepala Rumah Tembi Rumah Budaya Yopei Edho, digelar dalam rangka Ulang Tahun ke-19 Tembi Rumah Budaya, yang lahir pada 20 Mei 2000. “Kesadaran membangun diri seperti pesan dalam lakon itu diharapkan dapat menjadi semangat bagi langkah ke depan Tembi Rumah Budaya, yang juga memiliki falsafah ‘Urip Lan Nguripi’ atau Hidup Dan Menghidupi,” tutur Yopie Edho.
Dalang Ki Bagong Margiyono dikenal sebagai seniman tradisi multi bakat. Selain mendalang, Ki Bagong juga aktif berkarawitan dan menjadi Dosen Luar Biasa Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta. (Totok/Antok Wesman)

