Gelar Fesyen Kembang Setaman Ke-4 Royal Ambarrukmo, Factory Modern, Berlangsung Sukses!
Impessa.id, Yogyakarta : Fashion Show “Lokatara; Kembang Setaman seri ke-4” bertema mode industrial yang lekat dengan warna Kromatis yang melibatkan 12 disainer lokal-nasional, pada Jum’at sore (12/4/19) di Basement P4 Royal Ambarrukmo Yogyakarta, berlangsung sukses!
Khairul Anwar, selaku Creative Director Kembang Setaman Royal Ambarrukmo Yogyakarta usai perhelatan kepada Impessa.id menuturkan, “Gerakan peduli bumi tak hanya mengacu pada penggunaan bahan daur ulang, barang purna-guna dengan pengaturan estetis para desainer, bahan pewarna alam serta kampanye melalui sketsa desain yang penuh makna.Kedepannya selain melahirkan karya yang menarik juga menyuguhkan sesuatu yang berkesinambungan,” jelasnya.

Disainer Caroline Rika Winata dengan brand Wiru, yang memiliki butik di kawasan Sekarpetak RT 01, Bangunjiwo, Bantul, Yogyakarta, menyajikan delapan outfit berbahan Kain Katun Rami bermotif abstrak menggunakan teknik Woodblock Printing. Termotivasi oleh daun Ginkgo Biloba, tumbuhan obat tradisional di Jepang sebagai simbol kekuatan dan menjadi satu-satunya fosil hidup, flora yang tetap tumbuh berkembang di Hiroshima setelah kehancurannya akibat Bom Atom yang dijatuhkan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.
Disainer Jennifer Ariani Santoso dengan brand Jennifer Sans, butiknya beralamatkan di Candiland Apartment, Jalan Diponegoro, Semarang, menampilkan delapan outfit berupa gaun elegan nan edgy, blouse, jumpshort dan jumpsuit, dengan detil motif ‘puzzle’ membentuk formasi Candi Borobudur, dalam tema “Dawn with The Wonder Collection”. Koleksinya banyak menggunakan bahan scuba dan satin dengan warna-warna segar yang didominasi warna oranye dan putih.

Disainer Nick Djatnika dari Jakarta dengan brand Soppe Mirre Marrata, menyajikan delapan outfit busana pria ready to wear berbahan tenun tangan NTT, tenun tangan Nusa Penida Bali, tenun tangan lurik Krapyak Jogja dan kain Shibori Jogja. Dengan tajuk ‘Hitam Putih Heritage Wastra’ Nick menghadirkan kekuatan motif yang mengandung makna mendalam, pesan indah, doa dan pengharapan serta kearifan lokal dalam tiap helai kain tenun tangan. Warna hitam dan putih yang kontras, berpadu serasi pada motif klasik perlambang dinamika perbedaan dalam satu tujuan mulia.
Disainer Deny Sylvie Novia yang dikenal dengan Novibamboo dari Jalan Bantul KM. 6 no. 505 Nyemengan, Bantul, Yogyakarta, dengan brand 1719, menggunakan material berbahan alami serta daur ulang. Mulai dari wana alam dedaunan dan karat logam, aksesoris yang merupakan daur ulang logam kaleng bekas serta limbah kain ecoprint. Desain-desainnya mengacu pada bentuk potongan siluet lurus dan mature look. Novibamboo mengangkat kesadaran lingkungan dimana setiap proses industrial terdapat limbah yang dihasilkan. Asesoris pendukung seperti topi hingga sepatu terbuat dari limbah kain ecoprint dipadu dengan bahan kulit.

Disainer Endarwati dengan brand Citrakarya dari Jalan A. Yani 47, Gedrian, Bantul, Yogyakarta mengangkat tema‘Misty Blue’ untuk kemeja loose, celana komprang dan outer panjang berbahan tenun, lurik dan denim. Tampilan delapan outfit-nya dengan siluet androgini maskulin, berkonsep crop blouse dengan celana pendek di tumpuk dengan outer panjang, overall skirt berpadu dengan kemeja panjang, celana panjang pensil bertemu dengan kemeja loose.
Disainer Adjie Subing dari Jakarta dengan brand L’Homme, menghadirkan delapan koleksi busana pria bermotif kombinasi antara etnik dan minimalis yang terinspirasi dari keindahan budaya masyarakat pulau Flores.

Disainer Darie Gunawan dari Solo dengan brand Summer Forever, menampilkan delapan busana kasual dilengkapi asesoris Uwerans, bertajuk “Movement” berbahan katun putih, kenyamanan busana tropis. Aplikasi batik dimodifikasi dengan tetap mempertahankan kesan etnik di setiap koleksinya. Terinspirasi dari gedung Pencakar Langit yang terbuat dari kaca dengan karakternya yang ‘sharp edge’
Disainer Siska Pramintan dengan brand SP by Siska Pramintan dengan butik di Semarang dan Jakarta, dengan tajuk ‘Rotating The Da Vinci’, menampilkan delapan busana Siluet A-line, Boxie serta Princess Line menggunakan bahan baby terry, neo print, tulle streatch ber-glitter, suatu desain futuristik dengan gaya sporty casual.

Disainer Theo Ridzky dari Sagan Wetan GK V no. 1159, Yogyakarta, dengan brand Junkq, mengusung tema ‘Pijar’ untuk delapan busana wanita berpola sederhana berkarakter kasual, moderen dan edgy. Terinspirasi dari api yang menyala memberi penerangan kehidupan yang berarti pengharapan dari masa gelap menuju ke terang cahaya, dari biasa menjadi luar biasa. Gagasan ini diwakili dari warna gelap hitam kemudian muncul aksen merah yang mengubah hitam kea rah abu-abu dan pada akhirnya putih.
Disainer Djoko Margono, dengan brand Firstline beralamatkan di Sorowajan Baru Gang Semeru no. 14, Yogyakarta, menghadirkan karakter eklektiknya lewat delapan busana ala 90’s streetwear, berupa, loose dress, parachute jacket, patchwork bermaterial berupa denim, kain parasut, satin bermotif, serta padanan brokat.

Disainer Ariesanthi bernama aseli Tyas Santhi Fatmasari, dengan brand Mahija (Ariesanthi x Sycamore), beralamatkan di Jalan Kaliurang KM 8,9 Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, menyajikan delapan busana koleksinya yang diberi tajuk ‘Mahija Industrial’, konsep utamanya mengolah kain Shibori dengan sentuhan karakter ‘retrofuturistik’ yang terinspirasi dari kehidupan pejuang wanita di era industrial masa depan, pada film-film science-fiction. Busananya memiliki tampilan edgy, moderen dan sophisticated. Mahija merupakan brand busana ready to wear hasil kolaborasi antara Ariesanthi sebagai fesyen disainer dengan Sycamore sebagai crafter material. Preview koleksinya diperkenalkan pertama kali pada Jogja Fashion Festival 2019 di Plaza Ambarrukmo.
Disainer terakhir yang tampil yakni Mucha dari Jakarta dengan brand Lalake by Mucha, menyajikan sembilan koleksi pria dan satu busana wanita, hasil paduan antara bahan tradisional Endek dan kain modern, menyasar anak muda, dalam warna-warna ungu, putih dan silver dipadu warna stabilo Asesori yang digunakan terbuat dari limbah plastik.. Mucha menghadirkan karya industrial berjudul ‘Save the World’ dalam tajuk “Transhion Lokatara”. (Erlangga/Antok)

