Event

Puisi dan Geguritan di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul, 23 Maret 2019.

Puisi dan Geguritan di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul, 23 Maret 2019.

Puisi dan Geguritan di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya Sewon Bantul, 23 Maret 2019.

Impessa.id, Yogyakarta : Puisi dan Geguritan dua hal yang sama, perbedaannya hanya dari bahasa, Puisi ditulis menggunakan Bahasa Indonesia dan Geguritan ditulis menggunakan Bahasa Jawa. Tema yang diangkat bisa sama, misalnya tentang Kerinduan, Alam, dan sebagainya. Penulis Puisi disebut Penyair sedangkan penulis Geguritan disebut Penggurit.

Sastra Bulan Purnama edisi 90, yang berlangsung Sabtu, 23 Maret 2019, mulai pukul 19.30 WIB di Tembi Rumah Budaya, jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta,  diisi dengan peluncuran empat buku, yakni dua buku Puisi dan dua buku Geguritan. Dua buku Puisi berjudul “Yang Terasing dan Mampus” karya Marlin Dinamikanto, penyair dari Jakarta dan “Gapura” karya Suyitno Ethex, penyair dari Mojokerto. Adapun dua buku Geguritan berjudul ”Taman Kembang Sore” karya Sri Wijayati dan “Kalamun Bening” karya Sunawi, keduanya Penggurit dari Yogyakarta. 

Selain dibacakan oleh penulisnya, Puisi dan Geguritan juga dibacakan oleh para pembaca lainnya, seperti, Ami Simatupang, pemain teater, Krishna Miharja, penyair, Liek Suyanto, aktor teater, R.Agus Purnomo, MM. Tri Suwarni, Tari Made, Listiani Darma, Budi Siswanto, Supriyadi, Anwar Wiyadi, Choen Supriyatmi dan Otok Bima Sidharta.

Untuk Lagu Luisi, Marlin Dinamikanto siap mengalunkan puisi-puisinya yang sudah digubah menjadi lagu. Melalui petikan gitar, Marlin, demikian panggilannya, membawakan puisi-puisi karyanya.

Ons Untoro, selaku koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, pihaknya sengaja mempetemukan Puisi dan Geguritan, karena kedua jenis karya sastra tersebut bukan dua hal yang berbeda. Bahkan bisa ditemukan, Penggurit sekaligus Penyair, karena menulis puisi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. 

“Puisi dan Geguritan hanya berbeda dari segi bahasa yang digunakan. Problemnya pada Geguritan, hanya dimengerti oleh orang yang bisa berbahasa Jawa, orang Sunda, yang tidak mengerti bahasa Jawa tidak bisa memahami Geguritan, tetapi bisa mengerti puisi yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia” ujar Ons Untoro.

Keduanya bertemu dan berinteraksi bukan hanya dari segi karya, namun secara personal, antara Penyair dan Penggurit saling bertemu dan berinteraksi. Kedua penyair dari kota yang berbeda, Marlin Dinamikanto dari Jakarta, Suyitno Ethex dari Mojokerto dan Sri Wijayati dan Sunawi dari Yogyakarta.

“Kedua Penyair dan kedua Penggurit itu, bukan hanya sekali ini tampil di Sastra Bulan Purnama, tetapi sudah pernah tampil di tahun yang berbeda-beda, Sunawi pernah meluncurkan Antologi Puisi. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Suyitno Ethex, pernah dua kali meluncurkan Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama,” imbuh Ons Untoro.

Marlin dan Ethex yang sering tampil membaca puisi ditempat berbeda, setiap tahun ikut hadir dalam acara ‘Negeri Poci’ di Tegal. Keduanya tampil membacakan puisi karyanya.

“Selain diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, puisi-puisi saya yang ada di dalam buku Yang Terasing dan Mampus, secara terpisah, sering saya bacakan di kota-kota yang berbeda, terutama dikalangan para aktivis” ujar Marlin Dinamikanto. (Ons/Antok)