Event

Diskusi Kuratorial dan Artist Talk Menutup Festival Sastra Yogyakarta 2026

Diskusi Kuratorial dan Artist Talk Menutup Festival Sastra Yogyakarta 2026

Diskusi Kuratorial dan Artist Talk Menutup Festival Sastra Yogyakarta 2026

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, September 2026: Diskusi Kuratorial dan Artist Talk Biennale Sastra Indonesia Modern yang berlangsung pukul 15.30 hingga 16.30 WIB di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Minggu (30/8/2026), menjadi agenda diskusi terakhir pada rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 “LAKU”.

Dalam diskusi yang menghadirkan Latief S. Nugraha dari Gawe Institut, Cak Udin dari Lesbumi, dan Fairuzul Mumtaz dari Suku Sastra tersebut terungkap bahwa sastra tidak hanya hadir melalui halaman buku. Dalam perjalanannya, sastra dapat berjumpa dengan seni rupa, musik, teater, arsip, bahkan teknologi untuk menghadirkan pengalaman baru bagi pembaca dan penikmat seni.

Dalam pengantarnya, Fairuzul menjelaskan sejumlah karya yang dipamerkan dalam Biennale Sastra Indonesia Modern. Karya tersebut antara lain Mendung Tanpa Hujan dari Radio Buku, Monumen Kebisingan Sesudah Sebatang Lisong dari Lesbumi bersama seniman Alfis, Perintah Rahasia dari Suku Sastra, Kantor Sajak Indonesia, serta Naskah Laku Coret dari Gawe Institut. Beragam karya tersebut memperlihatkan bagaimana sastra dapat beralih wahana dan berinteraksi dengan berbagai medium.

Sementara itu, Latief S. Nugraha menilai pertemuan antara sastra dan seni rupa dapat menghadirkan penyegaran di tengah banyaknya festival yang diselenggarakan. Kolaborasi lintas disiplin, menurut dia, membuka kemungkinan bagi lahirnya pengalaman yang berbeda bagi masyarakat.

“Perjumpaan antara rupa dan sastra itu sangat menarik dan sangat mungkin dilakukan. Justru itu kemudian bisa membuat penyegaran,” kata Latief.

Cak Udin menyoroti pentingnya membuka sekat antarcabang seni. Menurut dia, seseorang tidak harus dibatasi oleh satu identitas kesenian karena seseorang dapat bergerak dan berkarya di berbagai bidang. 

“Ketika kita menulis puisi, kita adalah penyair. Ketika bermusik, kita adalah musisi,” ujar Cak Udin.

Fairuzul Mumtaz memandang sastra tidak hanya sebagai karya, tetapi juga sebagai dasar yang dapat membentuk cara seseorang berpikir dan memandang sesuatu.

“Saya kira sastra bisa dilihat sebagai fondasi. Orang yang kemudian berkenalan dengan sastra dan memahami sastra akan memiliki pola pikir dan sudut pandang tertentu,” kata Fairuzul.

Dian Korprianing Nugraha, Pamong Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, mengatakan, pertemuan sastra dengan berbagai bentuk seni menunjukkan bahwa sebuah karya tidak harus berhenti pada satu medium.

“Puisi tidak selalu harus tinggal di buku. Ia bisa hadir dalam bunyi, gambar, pertunjukan, atau bentuk lain. Ketika seniman dari berbagai bidang bertemu, cara kita menikmati sastra juga bisa menjadi lebih luas,” kata Dian.

Menurut dia, pertemuan lintas disiplin memberi kesempatan kepada pelaku seni untuk saling belajar dan mencoba bentuk-bentuk baru tanpa harus kehilangan karakter masing-masing.

Diskusi juga menyoroti persoalan pengkotakan dalam dunia sastra dan seni. Para narasumber sepakat bahwa batas antardisiplin perlu dibuat lebih cair agar seniman dan sastrawan memiliki ruang untuk bereksperimen dan berkolaborasi. Melalui diskusi tersebut, pertemuan antara sastra dan berbagai cabang seni diharapkan tidak berhenti pada gelaran Biennale Sastra Indonesia Modern, tetapi dapat terus berkembang dalam berbagai ruang kreatif.

Diskusi kemudian ditutup oleh Fairuzul Mumtaz sebagai penanda berakhirnya rangkaian Festival Sastra Yogyakarta 2026 “LAKU” yang berlangsung sejak 23 Agustus 2026. “Sampai jumpa di pertemuan-pertemuan berikutnya,” ujar Fairuzul menutup diskusi. (Ismawati-FSY 2026/Antok Wesman-Impessa.id)