Karya Masterpiece Grafis Cukil Kayu SYAHRIZAL PAHLEVI Dipamerkan Selama 10 Hari, 10-19 Maret 2026, Di MUSEUM DAN TANAH LIAT, Yogyakarta
Karya Masterpiece Grafis Cukil Kayu SYAHRIZAL PAHLEVI Dipamerkan Selama 10 Hari, 10-19 Maret 2026, Di MUSEUM DAN TANAH LIAT, Yogyakarta
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Maret 2026: Seniman Grafis Syahrizal Pahlevi selama 10 hari, pada 10-19 Maret 2026, menggelar karya-karya gafis Cukil Kayu masterpiece-nya dalam pameran tunggal bertajuk “Grafis Lintas Yogya-Palembang” bertempat di Museum Dan Tanah Liat JL. Menayu, dusun Kersan RT.05, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Secara resmi pameran tunggal cukil kayu Syahrizal Pahlevi tersebut dibuka oleh Seniman Anusapati, pada Jum’at petang, 13 Maret 2026, dimeriahkan dengan Performance Woodcut n Sound Syahrizal Pahlevi dan Nanang Garuda, serta hiburan musik bersama Shopping List, dipandu MC oleh Meuz Prast.


Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang, di dua kota, menampilkan karya-karya cukil kayu bersejarah nan eksotis dari Syahrizal Pahlevi. Palembang adalah kota kelahiran Pahlevi (1965), dirinya melakukan ‘Mudik’ dengan membawa oleh-oleh dari Jogja berupa sebuah pameran seni grafis serupa dengan yang digelar di MDTL Jogja, yang rencananya berlangsung April 2026, bertempat di rumah keluarga Jl. Kyai Haji Asyhari 340 Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Di Jogja Pahlevi menemukan passion-nya sebagai pegrafis, khususnya cukil kayu, meski dia lulusan dari Program Studi Seni Lukis, Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta, Tahun 1994.

Hendro Wiyanto Budiman dalam tulisan pengantar pameran tersebut menyebutkan bahwa Pahlevi kerap bekerja dengan medium seni lukis dan seni grafis. “Perhatikan karya-karya cukil kayunya yang khas di pameran kali ini. Torehan garis, penerapan warna, barik tak rata, utamanya pada karya grafis berwarna, dan adat pembidangannya segera mengesankan kepada kita citra ekspresif atau abstraksi pada lukisan. Demikian pula, potret pelukis, apropriasi dari pokok lukisan tertentu sering tampil pada karya cukil kayunya,” jelasnya.
“Pahlevi menyatakan, karya-karya grafisnya membaurkan batas-batas antara citraan ‘yang terlukis’ dan ‘yang tercetak’. Dia tidak hanya mencetak karyanya pada kertas, tapi juga kain blacu, kanvas. Di kala lain melukis pula pada pleksiglas dan kanvas berukuran besar seperti umumnya pelukis. Memamerkan bersama-sama, baik lukisan-lukisan pada kanvas dan cukil kayu pada kertas, siapa lagi kini yang mengerjakannya selain Pahlevi? Ada masanya, dia membubuhkan lagi citraan, tulisan tangan atau coletan warna, pada karya cukilnya. Kredo Pahlevi: memaksimalkan satu saja teknik cetak dalam karya grafis. Dan, “yang saya cari adalah kesederhanaan,” ujarnya.


Dalam pameran di MDTL Jogja, Pahlevu memamerkan puluhan seri tema karya yang sudah dikerjakannya sejak tiga dekade ini, di antaranya seri “Kartu Pos” (1990-’91), “Orang-orang Biasa” (2004-’05), “Mobile Woodcut” (2011 – sekarang) dan “Yudo” (2015). Sepanjang sejarah perkembangannya, inilah pameran retrospektif pertama karya pegrafis di Indonesia.
Menurut Hendro Wiyanto, Pahlevi bukan penganjur keparipurnaan teknis grafis. Dia bukan perfeksionis dalam teknik, tapi seorang passionis yang mendorong ide-idenya dengan kesahajaan tema dalam teknik cukil. Di tahun 2023 terbit bukunya berjudul “Dikutuk Disumpahi Eros: Kumpulan Catatan Seni Grafis, 2010-2023”. Pahlevi mengritik pegrafis “mellow” yang mempraktikkan seninya hanya sekadar persinggahan sementara. Hubungan antara pegrafis dan mediumnya bagi Pahlevi telah melahirkan semacam kutukan, seperti Ahasveros yang mengembara karena “dikutuk-sumpahi Eros”. Namun kutukan bagi praktik seni yang dipandang minor bagi Pahlevi justru menjadi “debar” tersendiri. Dia passionis dan satiris sekaligus.

Sementara itu penulis M. Rain Rosidi berpendapat, melihat bukanlah tindakan netral, sebagaimana gagasan John Berger dan Maurice Merleau-Ponty, melihat adalah pengalaman yang dibentuk oleh memori, posisi sosial, dan relasi tubuh dengan dunia.
Menurut Rain Rosidi, bagi Syahrizal Pahlevi, seni grafis bukan sekadar teknik visual, melainkan sebuah cara mengalami dan mencatat kehidupan.
“Bagi Pahlevi, grafis adalah peristiwa. Melalui praktik Mobile Woodcut atau Live Woodcut, ia mengubah ruang publik menjadi studio terbuka. Proses mencukil dan mencetak menjadi aksi yang disaksikan bersama, di mana serat kayu dan karakter material tidak disembunyikan, melainkan menjadi bagian dari bahasa visual yang disiplin dan terukur,” jelasnya.
Pameran yang menghadirkan ratusan karya, dari awal 1990-an hingga 2026, leboh dari sekedar retrospeksi, karya-karyanya merupakan pembacaan ulang atas jejak praktik Pahlevi selama hampir empat dekade. Pada periode awal, ia mengeksplorasi watak demokratis grafis melalui kartu pos dan small print. Jejak ini berkembang pada seri Orang-Orang Biasa (2004–2005) yang memotret relasi sosial, hingga seri Sayuran (2006) dan Ring Road (2009) yang merekam pengalaman personal serta ambivalensi ruang antara desa dan kota. Eksperimen terbarunya (2022–2025) menunjukkan pergeseran menuju abstraksi, di mana lanskap diolah melalui kepadatan bidang dan warna sebagai pengalaman suasana,” ungkap Rain Rosidi.


“Melalui seluruh rangkaian acara yang menyertai pameran tunggalnya ini, seni grafis tampil sebagai sistem kerja yang menyatukan proses, fungsi, dan relasi. Bagi Pahlevi, grafis bukan sekadar medium cetak, melainkan sebuah cara hidup: praktik yang mencatat hal-hal biasa hingga menjelma sebagai peristiwa,” tutup Rain Rosidi.
Agenda kegiatan selama pameran berlangsung di MDTL Jogja yakni,
Pada 11 dan 12 Maret 2026, pukul 15.00-17.00 WIB berupa Workshop Cukil Kayu (Gratis, dengan mendaftar)
Pada 14 Maret 2026, pukul 15.00-17.00 WIB berupa ART TALK Bersama: Suwarno Wisetrotomo, Joko Sulistiono, Syahrizal Pahlevi, dipandu moderator Rain Rosidi
Pada 10.-19 Maret 2026, tersaji bazar merchandise print dari pegrafis Yogyakarta.
“Melalui seluruh rangkaian acara yang menyertai pameran tunggalnya ini, seni grafis tampil sebagai sistem kerja yang menyatukan proses, fungsi, dan relasi. Bagi Pahlevi, grafis bukan sekadar medium cetak, melainkan sebuah cara hidup: praktik yang mencatat hal-hal biasa hingga menjelma sebagai peristiwa,” tutup Rain Rosidi. (Feature of Impessa.id by Meuz Pras-Antok Wesman)
