Film Horor Traumatis PINTU BELAKANG Melakukan Syuting Di Yogyakarta
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Februari 2026: Setelah cukup lama menelaah novel NYIS karya Alex Suhendra, BW Purbanegara selaku Sutradara Film berjudul “Pintu Belakang” siap memproduksi film horor tersebut dengan area syuting di kawasan pinggiran di Yogyakarta.
Belakangan ini film horor Indonesia mulai dicari dan digemari oleh masyarakat ‘bule’ karena berbeda dengan film-film horror Hollywood yang mengandalkan ‘scaring jump’, kaget sesaat, sedangkan film horor Indonesia menurut pengakuan beberapa ‘bule’ lebih menimbulkan traumatik panjang, ketakutan berkepanjangan.
‘Hal itu dikarenakan saat pengambilan adegan film horror Indonesia, tempatnya bukan di gedung-gedung tua, bukan di altar sepi, melainkan di rumah tempat tinggal sehari-hari, bisa di dapur, di kamar mandi, bahkan di kamar tidur, karena hantu Indonesia perangainya tenang, diam lama menunggu di sudut-sudut ruang, di balik pintu, sehingga trauma yang diakibatkannya sulit dihilangkan,” ungkap BW Purbanegara.
BW, sapaan akrabnya, menyatakan, sebagian cerita novel “Nyis” dia kulik kemudian dia kembangkan sendiri dengan referensi yang disuntingnya dari berbagai sumber, bahkan nyaris tanpa ada sosok hantu sekalipun yang dia hadirkan, hanya permainan suara, musik, dan deritan pintu kayu.
“Ada adegan kesurupan yang menimpa salah seorang pemainnya, tetapi kejadian kesurupan itu dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, semisal, kondisi orang yang sedang tidak baik-baik saja, ditopang kelelahan fisik dan mental, menyebabkan munculnya luapan emosi yang diluar kontrol tubuhnya, sehingga badannya kejang-kejang, mudahnya disebut kesurupan,” jelas BW lebih lanjut.
Usai seremoni Pemotongan Tumpeng Nasi Kuning, dan doa permohonan sukses pelaksanaan syuting film, bersama segenap pemain masing-masing, Mathino lio berperan sebagai Koci, Zulfa Maharani berperan sebagai Kumbu, dan Iva Deivana berperan sebagai Nyis, serta seluruh crew, Impessa.id berbincang-bincang dengan Daruni, akrab disapa Mbak Uni, Dosen ISI Yogyakarta, yang dalam film “Pintu Belakang” dirinya memerankan sebagai ‘Dukun’.
“Dalam film ini, di Desa, saya dikenal sebagai dukun bayi, membantu melahirkan, juga dukun pijat, mampu menyembuhkan sakit melalui pijatan, disini saya, Mbah Dukun berwujudkan sosok perempuan tua berusia 80-an dengan rambut putih tergerai, terkesan menyeramkan, meski baik hati, dan me-ruwat anak yang kesurupan,” ujarnya kepada Impessa.id.
Sementara itu, Rizka Shakira, CEO BCS, selaku Produser Film “Pintu Belakang” ketika dikonfirmasi Impessa.id terkait market hasil karya, dia menuturkan, “Target kami syuting selesai sebelum Lebaran, karena kami akan menyertakan film “Pintu Belakang” di festival film internasional Cannes di Paris-Perancis, pada 11-20 Mei 2026,” tutur Rizka.
Rizka lebih lanjut mengajak publik untuk menonton tayangan secara serentak di kota-kota besar di Indonesia, dalam waktu dekat, karena film horror ini begitu istimewa, membuat ketakutan sampai film berakhir. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
