SAM SIANATA, Seniman TRINITY ART, Hadir Di JOGJA INTERNATIONAL ART FAIR
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Januari 2026: Di awal Januari 2026, dunia seni rupa Tanah Air diwarnai dengan hadirnya event global yakni JOGJA INTERNATIONAL ART FAIR -JIAF, menghadirkan 224 pelukis dari dalam dan luar negeri dengan jumlah karya sebanyak 835 buah, baik karya dua dimensi maupun tiga dimensi, dan salah satunya seniman serba bisa SAM SIANATA dengan TRINITY ART-nya.
Sam Sianata alias Liem Sian An, adalah seniman yang menempatkan seni lebih dari sekedar ekspresi, Ia menjadikannya sebagai Jalan Perjuangan Untuk Mewujudkan Semangat Persaudaraan, dan Persatuan Bangsa. Melalui gagasannya yaitu KITA SEMUA BERSAUDARA, sejak tahun 1999 hingga sekarang, Sam Sianata menegaskan pentingnya nilai kebersamaan, kesatuan dan persatuan untuk mewujudkan harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sam Sianata saat ditemui Impessa.id disela-sela berlangsungnya JIAF di Gedung JEC Yogyakarta, Rabu (31/12/2025) dirinya menuturkan bahwa Trinity Art merupakan revolusi seni kontemporer, multi artform masterpiece lintas dimensi, yang belum pernah ada sebelumnya. “Trinity Art lebih dari sekedar sebuah lukisan, bukan hanya sebuah lagu dan bukan hanya sebuah maskot, namun Trinity Art adalah sebuah kesatuan sakral tiga unsur seni yang berpadu menjadi satu napas,” tuturnya.
Dalam Trinity Art, Sam Sianata menghadirkan lukisan sebagai simbol visual yang menggetarkan mata, dan lagu sebagai gema suara yang meyentuh jiwa, serta maskot sebagai katalisator yang menjembatani ruang antar-generasi. Tiga ekemenb tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling mengisi, saling menghidupi, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.

“Trinity Art bukan sekedar multidispilin seni, tetapi integrasi tunggal, ajakan berani untuk meniti dimensi baru, dimana satu karya seni tidak lengkap tanpa ketiganya. Lukisan menjadi wajah, Lagu menjadi ruh dan denyut nadinya, Maskot menjadi wujud atau rupa jembatan antar-generasi, inilah yang menjadikan Trinity Art sebagai satu-satunya karya pertama di dunia, suatu karya penciptaan yang melampaui batas medium konvensional,” ujar Sam lebih lanjut.
Sam Sianata kembali menegaskan pesan universalnya bahwa seni adalah jembatan bagi persatuan, keseimbangan, kemanusiaan dan alam. Dirinya memilih kesatuan semesta seni dimana warna-kata-nada hidup dalam satu harmoni.
Sam Sianata bersama Wakil Walikota Yogyakarta Wawan Harmawan
Karya Sam Sianata menandai revolusi seni global, yang telah menempatkan dirinya menjadi pelukis-musisi-penyair-sekaligus inovator bahasa seni baru yang orisinal dan monumental, menjadikannya duta seni kebanggaan bangsa dikancah seni internasional.
Dalam karya-karyanya Sam senantiasa menyisipkan pesan moral tentang toleransi, Cinta kasih, perdamaian, dan persaudaraan universal, sehingga menempatkan dirinya sebagai patriot pemersatu bangsa yang mengabdikan hidup untuk bangsa Indonesia.
Maskot-Maskot Sam Sianata
Pada JIAF 2026 di Gedung JEC Yogyakarta, yang berlangsung 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, Sam Sianata menampilkan enam karya lukisan yang sarat simbol, spiritualitas, dan refleksi sosial, masing-masing berjudul, “Go Green Taruparwa”, “Rupatawa”, “Sang Raja Cinta”, “Freedom Shirotol Mustaqim”, “Gelombang Berkat”, “Misteri Bunga Sedap Malam”, dan “Tapak”.
Disela-sela menekuni dunia seni, Sam Sianata menyisihkan waktu untuk turut aktif mengkampanyekan pelestarian lingkungan dengan gerakan nyata menanam pohon, guna menjadikan dunia hijau. Pada periode 2011-2012, Yayasan Go Green Calvin yang dipimpinnya aktif menghijaukan lereng Gunung Merapi pasca erupsi. Untuk itu organisasi massa yang dipimpinnya itu memperoleh penghargaan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan HB X, sebagai organisasi massa terbaik. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)
