Feature

JOGJA INTERNATIONAL ART FAIR 2026 Berlangsung Di Gedung JEC Yogyakarta

JOGJA INTERNATIONAL ART FAIR 2026 Berlangsung Di Gedung JEC Yogyakarta

JOGJA INTERNATIONAL ART FAIR 2026 Berlangsung Di Gedung JEC Yogyakarta

Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Januari 2026: Booming wisatawan domestik ke Yogyakarta di liburan pergantian tahun memotivasi banyak pihak untuk melakukan sesuatu yang semakin mewarnai Jogja terutama disaat libur panjang, seperti yang dilakukan NR Artist Management dengan menggelar Jogja International Art Fair – JIAF di Gedung Jogja Expo Center -JEC Yogyakarta, pada 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, melibatkan 224 pelukis dari dalam dan luar negeri dengan jumlah karya sebanyak 835 baik dua dimensi maupun tiga dimensi.

Direktur NR Artist Management, Maria Novita Riatno, selaku penyelengara menegaskan JIAF 2025 bukan sekadar pameran, melainkan gerakan besar untuk memperkuat ekosistem seni rupa nasional. “Kami ingin menjadikan JIAF sebagai rumah bersama bagi seniman, kolektor, dan publik. Semua seniman, baik yang baru merintis maupun yang sudah mapan, akan mendapat ruang setara untuk menampilkan karya terbaiknya,” tuturnya.

JIAF 2025 mengadopsi model “Art Market Meets Exhibition” dengan empat segmen kuratorial yakni, Artist-Direct yang memberi ruang bagi seniman independen, Emerging bagi bakat-bakat baru, Established untuk seniman dan galeri mapan, serta Iconic sebagai penghormatan kepada maestro seni rupa Indonesia. “Segmentasi ini penting untuk memastikan keberagaman dan kesinambungan. Publik dapat merasakan perjalanan artistik dari tahap awal hingga puncak pencapaian,” ujar Novita.

Bagi kolektor dan investor, ajang JIAF menawarkan peluang bisnis strategis karena lebih dari 2.000 portofolio seniman dipamerkan, lengkap dengan sesi networking bersama kolektor internasional dari sedikitnya lima negara. “Kami juga menyediakan sesi private viewing khusus bagi kolektor, serta katalog digital yang memudahkan proses investasi,” jelasnya.

Novita menyebut dalam lima tahun terakhir, pasar seni Indonesia mencatat pertumbuhan 15–20 persen per-tahun. Kehadiran JIAF 2025 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat tren positif tersebut. “Indonesia punya potensi besar, terutama dengan basis seniman kreatif dan pasar domestik yang terus berkembang. Yogyakarta, dengan iklim seni yang hidup, menjadi lokasi paling tepat untuk momen bersejarah ini,” ucapnya.

Sementara itu, Kurator Seni Mike Susanto menilai JIAF 2025 hadir sebagai salah satu entitas penting dalam pembentukan peta industri seni rupa dunia. “Dengan membawa semangat lokal yang kuat namun terbuka pada percakapan global, JIAF menempati posisi strategis sebagai jembatan yang menghubungkan dinamika seni rupa Indonesia dengan pasar dan wacana internasional,” ungkapnya.

Mike menambahkan, keistimewaan Jogja sebagai kota yang kaya akan seniman visual, budaya yang hidup, dan ekosistem seni yang dinamis menjadikan JIAF bukan sekadar ajang pamer. “Ini adalah ruang temu antara kreativitas, kolektor, kurator, dan publik global yang ingin memahami geliat seni rupa kontemporer Indonesia,” tandasnya.

Kurator Nadiyah Tunikmah juga menegaskan pentingnya ruang pertemuan lintas jenjang yang dihadirkan dalam JIAF 2025. Menurutnya, program khusus bertajuk "Encounters: Cross Layers of Art" mempertemukan seniman dari berbagai tahap karier untuk membangun ruang interaksi yang lebih luas. “Kami ingin menciptakan dialog yang memperkuat jejaring antar seniman dan membuka kesempatan kolaborasi lintas generasi,” tegasnya.

Nadiyah menambahkan, ruang interaksi semacam ini akan memperkuat ekosistem seni rupa Indonesia. “Dengan mempertemukan seniman emerging, established, hingga maestro dalam satu platform, publik akan mendapatkan pengalaman yang lebih berlapis. Ini juga menjadi sarana penting untuk memperkaya wacana dan menguatkan posisi Indonesia dalam percakapan seni rupa global,” imbuhnya.

Selain dukungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, acara JIAF juga mendapat sokongan penuh dari galeri, ruang seni, komunitas, serta institusi seni formal maupun nonformal. Kehadiran JIAF 2025 diposisikan sebagai wadah kolaborasi lintas pihak yang memajukan seni rupa Indonesia sekaligus memperkuat posisi nasional di peta seni global.

Novita optimis penyelenggaraan JIAF 2025 meninggalkan warisan penting. “Kami tidak hanya ingin menyelenggarakan pameran, tetapi juga menciptakan tonggak baru bagi ekosistem seni rupa Indonesia. JIAF 2025 memperlihatkan bahwa pasar seni Indonesia mampu bersaing di tingkat global, dengan tetap berpijak pada kekayaan lokal yang menjadi ciri khas Yogyakarta,” tegasnya. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)