Tiga Tarian uakni, Atandang, Ganda, dan Budi Bermain Boal, Tampil Sabtu Malam 29 Januari 2024, Di Studio Banjarmili Yogyakarta.
Tiga Tarian uakni, Atandang, Ganda, dan Budi Bermain Boal, Tampil Sabtu Malam 29 Januari 2024, Di Studio Banjarmili Yogyakarta.
Impessa.id, Yogyakarta: Agenda Indonesian Dance Festival, Lawatari Yogyakarta, Sabtu, 20 Januari 2024, bertempat di Studio Banjarmili Yogyakarta, milik almarhum Maestro Tari Miroto, menampilkan tiga karya koreografer, yakni, “Atandâng” oleh Sri Cicik Handayani, “Ganda” oleh Valentina Ambarwati, dan “Budi Bermain Boal” oleh Megatruh Banyu Mili. Pertunjukan dimulai pukul 19.00 WIB dan berakhir pukul 22.00 WIB.

Sri Cicik Handayani, koreografer asal Madura, kepada Impessa.id menjelaskan tentang karyanya yang berjudul “Atandâng” itu. Cicik menuturkan, dalam konteks Madura, membaca ulang relasi dan tegangan tatapan antara penonton (penayub) yang didominasi laki-laki terhadap penari (tandâ) perempuan (juga sebaliknya) dalam peristiwa kesenian tayub melalui karya Atandang. Jika selama ini penari tayub diperankan oleh Perempuan maka dalam Atandang, para penari tayub justru dimaninkan oleh lelaki.
Kemudian koreografer Valentina Ambarwati menhadirkan karyanya berjudul “Ganda” yang menerjemahkan peran ganda perempuan buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, beserta perjalanan emosional dan fisik buruh gendong itu.

Sedangkan koreografer Megatruh Banyu Mili mengungkapkan karyanya yang berjudul “Budi Bermain Boal”, Itu menggambarkan refleksi pribadi dan pengamatan tentang pendidikan siswa Sekolah Dasar di Indonesia di era 1980-2000an. Kata “boal” dalam karya nya mengacu pada metode Theatre of the Oppressed yang dikembangkan Augusto Boal, seorang praktisi teater asal Brazil. Kali ini Megatruh menggunakan metode spesifik dalam proses bersama penari saat membentuk karya tersebut.
Indonesian Dance Festival -IDF, Lawatari Yogyakarta 2024 merupakan kolaborasi apik antara Mila Art Dance -MAD Laboratory dengan Paradance Platform.

Mila Rosinta Totoatmojo, selaku penggagas MAD Lab, menyampaikan: “Sebagai perempuan seniman tari, saya mengalami langsung tantangan berbagi peran dalam konteks domestik dan profesional. Hal ini mendorong saya memulai RIKMA -Ruang Inisiatif Karya Bersama, untuk berproses bersama perempuan seniman muda yang memiliki semangat besar untuk berkarya. Lawatari: Yogyakarta adalah platform yang baik untuk memperkenalkan karya-karya mereka pada praktisi dan pencinta tari,” turunya.
Sementara itu, Nia Agustina, inisiator Paradance Platform, menuturkan: “Paradance dibentuk sebagai inisiatif kecil untuk membuka ruang interaksi bagi pertumbuhan koreografer muda. Program Lawatari: Yogyakarta adalah kesempatan bagi kami, Paradance Platform, IDF, MAD Lab, dan Studio Banjarmili, untuk saling melihat cara kerja masing-masing dalam visi bersama mendukung koreografer muda. Ini dapat menjadi awal yang baik untuk menyadari bahwa dengan infrastruktur dan alam kesenian terutama seni tari di Indonesia, kita perlu melakukan kerja yang saling terhubung untuk mendukung karya seorang Seniman,” ungkapnya.

Lokakarya Seni Tata Kelola: Merakit Ruang untuk Tumbuh Bersama yang difasilitasi oleh Linda Mayasari selaku kurator IDF, dan Maria Renata Rosari selaku manajer festival IDF, mengajak produser dan manajer seni pertunjukan untuk bertukar pikiran dan merumuskan cara kerja tata kelola seni yang efektif dalam konteks lokal.
Pada Sabtu, 20 Januari 2024, pukul 10:00-15:00 WIB, di Studio Banjarmili Yogyakarta, digelar Lokakarya Seni Tata Kelola bertajuk “Merakit Ruang untuk Tumbuh” bersama Linda Mayasari dan Renata Rosari. (Humas Lawatari Yogyakarta/Antok Wesman-Impessa.id)
