Event

Indonesian Dance Festival Tampilkan Lima Karya Tari, Berlangsung 19-21 Januari 2024 Di Studio Banjarmili Yogyakarta

Indonesian Dance Festival Tampilkan Lima Karya Tari, Berlangsung 19-21 Januari 2024 Di Studio Banjarmili Yogyakarta

"In Cycle" karya Siti Alisa, salah satu karya yang ditampilkan di Indonesian Dance Festival, Lawatari: Yogyakarta, yang menampilkan lima karya tari, berlangsung 19-21 Januari 2024, di Studio Banjarmili Yogyakarta

Edisi ketiga Lawatari di Yogyakarta, 19-21 Januari 2024, diadakan dalam kolaborasi dengan MAD Laboratory dan Paradance Platform. Gelaran ini menampilkan karya koreografer muda di Studio Banjarmili, fasilitas seni pertunjukan bentukan maestro tari Alm. Martinus Miroto.

Impessa.id, Yogyakarta, Januari 2024 – Membuka tahun baru, Indonesian Dance Festival (IDF) melawat ke Yogyakarta untuk mengadakan “festival tari keliling” dengan lima pertunjukan, dua masterclass dan lokakarya, serta satu bincang tari. Seri program ini diadakan pada 19-21 Januari 2024 di Studio Banjarmili dan Eighteen Coffee Jogja dalam kolaborasi dengan dua platform tari di Yogyakarta - MAD Laboratory dan Paradance.

Nama Lawatari dibentuk dari gabungan dua kata – lawat dan tari – yang menyiratkan semangat melawat ke kantong-kantong seni pertunjukan di Indonesia dan menjalin keterhubungan melalui penampilan karya juga program-program yang mendukung perkembangan ekosistem seni pertunjukan di Indonesia, baik di depan maupun balik layar. Lawatari edisi perdana yang merupakan bagian dari Road to IDF 2024 hadir di di tiga kota: Makassar (September 2023), Padang Panjang (November 2023), dan Yogyakarta.

Lawatari: Yogyakarta menghadirkan rangkaian program sebagai berikut:

- Pertunjukan dan Bincang Karya oleh Megatruh Banyu Mili, Ni Putu Arista Dewi, Siti Alisa, Sri Cicik Handayani, dan Valentina Ambarwati.

- Masterclass yang dirancang untuk mengenal pemikiran dan metode Alm. Martinus Miroto diampu Agung Gunawan (penari) dan Anter Asmorotedjo (koreografer). Keduanya merupakan dua figur tari yang bekerja bersama sang maestro semasa hidupnya.

- Lokakarya Seni Tata Kelola: Merakit Ruang untuk Tumbuh Bersama yang difasilitasi oleh Linda Mayasari (kurator IDF) dan Maria Renata Rosari (manajer festival IDF) mengajak produser dan manajer seni pertunjukan untuk bertukar pikiran dan merumuskan cara kerja tata kelola seni yang efektif dalam konteks lokal.

- Bincang Tari edisi Lawatari: Yogyakarta bersama Mila Rosinta Totoatmojo (MAD Lab), Scholastica W. Pribadi (Loka Art Studio), dan Siti Alisa akan membahas keberlanjutan dalam praktik berkesenian. Program ini menghadirkan Nia Agustina (Paradance Platform) sebagai moderator.

Pengisi program Lawatari: Yogyakarta; Valentina Ambarwati, Siti Alisa, Agung Gunawan, Sri Cicik Handayani, Ni Putu Arista Dewi, Megatruh Banyu Mili, Maria Renata Rosari, Scholastica W. Pribadi, Anter Asmorotedjo, Linda Mayasari, Mila Rosinta Totoatmojo, Nia Agustina.

Dengan tujuan berdialog dengan praktik koreografi di Yogyakarta, Lawatari kali ini mempertemukan proses pengembangan karya yang dilakukan IDF melalui program Kampana, dengan praktik inkubasi yang dijalani oleh Paradance Platform dan MAD Lab. Program Pertunjukan dalam Lawatari: Yogyakarta menampilkan lima koreografer di awal karier yang dikurasi bersama oleh IDF, Mila Rosinta Totoatmojo (MAD Lab) dan Nia Agustina (Paradance Platform) sebagai kolaborator. Empat koreografer asal Yogyakarta - Megatruh Banyu Mili, Ni Putu Arista Dewi, Sri Cicik Handayani, dan Valentina Ambarwati – menjalani proses inkubasi bersama MAD Lab dan Paradance Platform dengan fasilitator Besar Widodo, Linda Mayasari, Mila Rosinta Totoatmojo, dan Nia Agustina sebelum pementasan karya mereka pada 20-21 Januari 2024. Sedangkan Siti Alisa, alumni program Kampana IDF tahun 2018, telah mengembangkan praktiknya secara independen di berbagai platform dan menampilkan karya yang berjudul In Cycle. Setiap karya pertunjukan diakhiri Bincang Karya bersama koreografer terkait, dengan salah satu kolaborator sebagai pemantik diskusi.

Mila Rosinta Totoatmojo, penggagas MAD Lab, menyampaikan: “Sebagai perempuan seniman tari, saya mengalami langsung tantangan berbagi peran dalam konteks domestik dan profesional. Hal ini mendorong saya memulai RIKMA (Ruang Inisiatif Karya Bersama) untuk berproses bersama perempuan seniman muda yang memiliki semangat besar untuk berkarya. Lawatari: Yogyakarta adalah platform yang baik untuk memperkenalkan karya-karya mereka pada praktisi dan pencinta tari.”

Nia Agustina, inisiator Paradance Platform, menyampaikan: “Paradance dibentuk sebagai inisiatif kecil untuk membuka ruang interaksi bagi pertumbuhan koreografer muda. Program Lawatari: Yogyakarta adalah kesempatan bagi kami - Paradance Platform, IDF, MAD Lab, dan Studio Banjarmili untuk saling melihat cara kerja masing-masing dalam visi bersama mendukung koreografer muda. Ini dapat menjadi awal yang baik untuk menyadari bahwa dengan infrastruktur dan alam kesenian terutama seni tari di Indonesia, kita perlu melakukan kerja yang saling terhubung untuk mendukung karya seorang seniman.”

Budi Bermain Boal karya Megatruh Banyu Mili adalah salah satu dari beberapa karyanya yang lahir dari refleksi pribadi dan pengamatan tentang pendidikan siswa Sekolah Dasar di Indonesia di era 1980-2000an. Kata “boal” dalam karya ini mengacu pada metode Theatre of the Oppressed yang dikembangkan Augusto Boal, seorang praktisi teater asal Brazil. Megatruh menggunakan metode spesifik dalam proses bersama penari saat membentuk karya ini.

Suun karya Ni Putu Arista Dewi mengangkat relasi perempuan dan kuasa melalui kegiatan membawa barang di atas kepala (suun) yang merupakan bagian dari keseharian perempuan Bali. Karya ini merupakan salah satu hasil penelusuran jangka panjangnya menyoal konteks budaya Bali, yang beberapa praktiknya dianggap merugikan perempuan. Ia menggunakan cerita personal dirinya dan ibunya sebagai pintu untuk mengenal realita budaya ini.

Dalam konteks Madura, Sri Cicik Handayani membaca ulang relasi dan tegangan tatapan antara penonton (penayub) yang didominasi laki-laki terhadap penari (tandâ) perempuan (juga sebaliknya) dalam peristiwa kesenian tayub melalui karya Atandang. In Cycle oleh Siti Alisa merayakan berbagai siklus biologis yang dialami perempuan dalam koneksinya dengan nilai-nilai moral, relasinya dengan alam, serta diri sendiri.

Sedangkan dalam Ganda, Valentina Ambarwati menerjemahkan peran ganda perempuan buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta beserta beserta perjalanan emosional dan fisiknya.

Program Masterclass dalam Lawatari: Yogyakarta terhubung erat dengan lokasi rangkaian program di Studio Banjarmili. Fasilitas seni pertunjukan ini didirikan salah satu maestro tari Indonesia, Alm. Martinus Miroto, pada 2001 untuk mendukung perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Dua praktisi tari yang pernah berproses bersamanya di Miroto Dance Company, Agung Gunawan dan Anter Asmorotedjo –mengampu kelas berkapasitas 35 peserta untuk memahami pemikiran dan metode Pak Miroto yang pernah menampilkan karyanya di berbagai festival termasuk American Dance Festival dan IDF, berbagi wawasan lewat lokakarya di berbagai negara, dan menggagas Bedog Arts Festival, sejak 2007.

Dalam upaya bertukar wawasan seputar tata kelola seni pertunjukan dengan pegiat balik layar, kurator Linda Mayasari dan Manajer Festival IDF Maria Renata Rosari akan memfasilitasi Lokakarya dua sesi. Dalam “Seni Tata Kelola: Merakit Ruang untuk Tumbuh Bersama”, kedua fasilitator akan mengajak peserta dalam kelas kecil untuk saling memantulkan praktik keproduksian dalam konteks seni pertunjukan di Jakarta dan Yogyakarta.

Tiga praktisi tari, masing-masing, Mila Rosinta Totoatmojo, Scholastica W. Pribadi, dan Siti Alisa, berbagi strategi pribadi dalam menjalankan praktik berkesenian yang berkelanjutan dengan tantangan unik yang mereka hadapi dalam program Bincang Tari.

Ratri Anindyajati, Direktur IDF, menyampaikan, “Lawatari: Yogyakarta memberi kesempatan bagi kami, tim kerja IDF, untuk melihat dan belajar dari dekat praktik-praktik inkubasi karya, tata kelola dan pelatihan yang dijalankan oleh MAD Lab, Paradance Platform, dan Studio Banjarmili yang berperan sebagai mitra dalam program ini. Organisasi dengan fokus pada proses pembuatan karya, transfer ilmu dan pelatihan untuk pegiat tari muda sangat penting bagi pertumbuhan ekosistem tari di Indonesia. Semangat ini sejalan dengan salah satu misi IDF yang terwujud lewat program inkubasi Kampana, di mana kami memfasilitasi koreografer muda untuk mengembangkan karya dengan bimbingan tim kurator festival.”

Program Pertunjukan dan Bincang Tari dalam Lawatari: Yogyakarta terbuka untuk praktisi, mahasiswa, maupun pencinta tari dengan reservasi tiket melalui bit.ly/loketIDF. Tiket Bincang Tari tersedia gratis, sedangkan tiket Pertunjukan dapat dipesan dengan donasi minimum Rp20.000. Adapun peserta Masterclass dan Lokakarya telah mendaftarkan diri melalui panggilan terbuka yang dibuka mulai awal Januari.

Lawatari: Yogyakarta adalah program kolaborasi IDF dengan RIKMA (Ruang Inisiatif Karya Bersama), sebuah program inkubasi yang diinisiasi oleh MAD Lab, Paradance Platform, dan Studio Banjarmili. Program ini didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Dana Indonesiana, serta LPDP. Mitra media program ini adalah Beranda Jogja, Bernas News, Detik Nusantara News.com, Gelaran ID, Geronimo FM, Impessa.id, Info Event Jogja, Jogja Family Radio, Jogja Punya Acara, Kedaulatan Rakyat, Kesenian Nusantara, Voks Radio, dan Yogyakarta City. Lawatari: Yogyakarta turut didukung oleh Avoskin, Bakpiaku, Dekayu, Eighteen Coffee Jogja, Heart Party Decoration, House of Raminten, Jims Honey, JNM Bloc, Jogjamu, Kalis Donat, Kave, Los FM, Lovise Sofa, dan Sovia Jewelry. (Nina Hidayat/Antok Wesman-Impessa.id)