Feature

Nina Alexia Brazzo Tampil Mengesankan Di Rumah IVAA Yogyakarta, Jum'at Malam, 6 Juli 2018.

Nina Alexia Brazzo Tampil Mengesankan Di Rumah IVAA Yogyakarta, Jum'at Malam, 6 Juli 2018.

Nina Alexia Brazzo melantunkan puisi-puisinya dipadu musik dan tarian dalam acara Music from the Library di Rumah Arsip IVAA Yogyakarta, Jum'at malam, 6 Juli 2018.

Impessa.id, Jogja : Nina Alexia Brazzo, warga negara Inggris yang sangat mencintai seni-budaya Indonesia, terlebih setelah dirinya memeluk Islam, dia banyak mendalami beragam seni-budaya etnik di Nusantara, yang kemudian melalui project Pelangi Indonesia Tour Nina Alexia Brazzo, dirinya tampil mengesankan di Rumah IVAA – Indonesian Visual Art Archive, Jalan Ireda, Gang Hiperkes, Dipowinatan MGI/188A-B Keparakan, Yogyakarta, Jum’at malam (06/07/18) untuk acara MusRary edisi ke-12.

Nina Alexia Brazzo pada tahun 2007 pergi ke beberapa tempat di berbagai negara selama dua setengah tahun untuk mengeksplorasi budaya, agama, gaya hidup serta filosofi di tempat yang dia kunjungi. Pada 19 Juni 2009, dirinya memutuskan memeluk Islam dan meggunakan nama Nusaybah, nama yang diberikan oleh teman-temannya, yang diambil dari nama seorang pejuang pemberani, kuat, jujur, setia dan dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya Brazzo Nusaybah pindah ke Cape Town, Afrika Selatan, dan pada tahun 2011 menerima beasiswa seni dan budaya di Indonesia.

Acara Musrary telah memasuki edisi ke 12, artinya program itu telah berlangsung selama satu tahun. Berbagai macam kolaborasi berlangsung menarik dan hadir melalui bentuk pertunjukan musik serta obrolan ringan yang mengiringinya. Program Music Library dikelola secara bersama oleh para pecinta arsip dan musisi lokal di mini amphitheatre IVAA, di sela-sela Rak Buku Pustaka, menampilkan eksplorasi musik, visual serta suguhan nuansa intim.

“Di sesi 12 ini kami menerima kujungan dari Nina Alexia Brazzo dengan menampilkan 10 judul puisi karyanya, sebagian dari komposisinya dia gubah kedalam musikalisasi puisi, kemudian beberapa dia kombinasikan dengan tarian-tarian etnik Sumatera Barat, diiringi irama instrument klasik yang dimainkan teman-temannya dari berbagai daerah di Nusantara”, ujar Dwi Rachmanto kepada Impessa.id.

Pada Tur Pertunjukan “Belajar Membaca Semesta” Nusaybah Nina Brazzo menggunakan seni untuk mengekspresikan pengalaman-pengalaman yang telah dia pelajari selama perjalanannya, melalui puisi, ucapan, nyanyian, musik dan tarian. Tur petunjukan di Rumah IVAA Yogyakarta, rencananya berlangsung bersamaan dengan peluncuran bukunya dengan judul yang sama, yang kini masih dalam proses penyelesaian.

Penampilan Nusaybah Nina Alexia Brazzo  malam itu diwarnai dengan permainan grup musik etnik Jogja, Swara-Swara, dengan personil, Ipin, Adam yang memainkan instrumen petik Oud atau Gambus, Erson peniup Terompet, dan Malvin. Ketika ditemui Impessa.id usai pementasan Nina menjelaskan keberadaannya di Indonesia. “Saya tinggal di Indonesia sampai 4 Agustus 2018. Saya pernah belajar tari dan gamelan Bali di sanggar kampung Munggu, kemudian kuliah di ISI Surakarta belajar Tari Tradisi Bali, Jawa Timur, Tari Alus Surakarta, Gaya Jogja, Tarian Sunda, Sumatra, belajar Karawitan Jawa, membatik dan membuat Wayang Kulit", tutur Nina.

"Kini saya kuliah di ISI Padang Panjang Sumatera Barat, belajar Tari Tradisi Zapin, Minangkabau, Melayu Minang Darek dan Rantau, Tarian Sumatera Selatan Randai, Minangkabau Darek Bernyanyi, Barzanji, Talempong, dan Gandang Sarunai. Di Indonesia saya banyak memperoleh ilmu, Alhamdulillah”, jelasnya.

Rumah IVAA Yogyakarta dengan Core Utama pengarsipan di ranah Sosial-Seni yang tertata secara sistematis dan mudah diakses, Perpustakaan Publiknya mengusung beragam program mempertemukan dengan publiknya. Direktur IVAA Lisistrata Lusan Diana kepada Impessa.id menuturkannya. “Kami mempunyai program Diskusi Publik, Pemutaran Film, dan Musik From The Library atau pentas musik di perpustakaan, musisinya bukan melulu yang sudah punya nama dan seleksinyapun atas dasar jaringan pertemanan.”, ungkap Lisis. “Music from the Library ini acara yang sangat kasual, di menej juga secara kasual, dan berlangsung sangat santai”, imbuh Lisis lebih lanjut. (tok)