Feature

Yogyakarta Komik Week 2022, AKSI TRANSISI, JNM, 27 Oktober - 5 November 2022

Yogyakarta Komik Week 2022, AKSI TRANSISI, JNM, 27 Oktober - 5 November 2022

Yogyakarta Komik Week 2022, AKSI TRANSISI, JNM, 27 Oktober - 5 November 2022

Impessa.id, Yogyakarta: “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”, adalah slogan yang digunakan dalam perayaan kemerdekaan RI yang ke-77, 17 Agustus 2022. Pulih dan bangkit inilah yang mengawali perbincangan persiapan Yogyakarta Komik Weeks dan Workshop dan Lomba Seni Komik Kukuruyug, sebelum slogan resmi pemerintah tersebut muncul.

Setelah masa pandemi, dilanjutkan new normal – beserta varian ‘new’ dan ‘normal’ yang beragam, endemi, dan belum tahu esok akan ada apa lagi, semuanya terasa cepat berganti dalam kurang lebih 2,5 tahun belakangan. Secepat apa pun perubahan yang harus dihadapi, nyatanya menunjukkan transisi-transisi yang membutuhkan suatu tindakan, atau aksi melakukan sesuatu demi tujuan tertentu. Misalnya dari awalnya sekadar bertahan hidup, lalu menjaga tubuh tetap sehat, hingga melakukan kerja sosial untuk membantu yang terdampak, atau bahkan merespon masa pandemi menjadi suatu karya seni.

Medium komik yang terus hadir di Indonesia, entah bertema cerita apa pun, terkait atau tidak, bisa dilihat sebagai sebuah hasil dari tindakan untuk terus bertahan dan bangkit. Perubahan-perubahan kondisi yang terjadi secara mendadak ataupun bertahap, dihadapi oleh seniman-seniman komik melalui karyanya. Dengan beragam alas an dan tujuan. Misalnya saja; Berada di dalam rumah terus: membuat waktu lebih untuk berkarya dan melakukan eksplorasi. Suasana ngelangut karena banyak yang berduka: menyadarkan komikus untuk saling berjejaring menguatkan diri melalui karya-karya untuk meredam lara dan memberi motivasi. Cara pemerintah menangani pasien: menginspirasi komik yang bernada kritis; Ketika ada politisi mencuri start kampanye di masa susah: melahirkan komik Instagram yang satir. Dan lain sebagainya.

Pameran Yogyakarta Komik Weeks 2022 di JNM – Jogja National Museum Gampingan, pada  27 Oktober - 5 November 2022, mencoba melihat bahwa kondisi yang dihadapi tersebut adalah kondisi transisi, yang memerlukan suatu aksi dalam menjalani dan memaknainya.

Kurator Pameran Terra Bajraghosa menuturkan, Transisi memiliki arti proses atau satu periode perubahan dari satu keadaan ke keadaan, atau kondisi ke kondisi, yang lainnya. Dalam konteks situasi pasca-pandemi yang sekarang, transisi dialami secara sosial, terjadi pada semua lapisan masyarakat hampir di semua negara. Namun transisi juga dialami oleh individu-individu dalam periode kehidupannya. Kenyataannya transisi akan terus dihadapi oleh siapapun, di manapun, termasuk seniman komik dalam wujud maupun praktik sosial karyanya.

Banyak orang mengenal dan mengingat komik karena adegan-adegan aksinya, misalnya kisah superhero, dan silat. Karena sifat ruang komik yang terbatas, penggambaran potongan aksi demi aksi dalam tiap panel komik menjadi penting untuk menjalin cerita. Bukan hanya adegan aksi, media komik sendiri identik dengan transisi secara berurutan, atau sekuensial.

Pergantian atau perubahan pada satu panel ke panel berikutnya menentukan jalannya cerita suatu komik. Ellen Wiese (1965) mencatat bahwa komposisi ilustrasi yang dilakukan oleh Rodolphe Topffer dari tahun 1827-1844, yang memadukan deretan panel, kolaborasi kata-kata dan gambar-gambar, telah bertransisi dari ilustrasi berupa deretan gambarnya William Hogarth.

Tindakan kreatif yang dilakukan tersebut menjadikan Topferr disebut sebagai “penemu (perangkat-perangkat) komik (mula-mula)” dan menandai periode masa hadirnya medium  komik. Aksinya dalam menghadirkan bentuk karya seni yang mencampur teks dan gambar tersebut dilakukan secara sadar oleh Topffer. Ia melihat dalam karyanya bahwa gambar tanpa teks hanya menampilkan makna yang kurang jelas, dan teks tanpa gambar hampir-hampir tidak akan memiliki makna. Begitu pula dengan komposisi panel berurutan yang memperoleh maknanya, yang hanya bisa dipahami, melalui apa yang hadir pada panel sebelumnya dan panel yang mengikuti setelahnya.

Bentuk awal karya komik yang disebut oleh Topffer sebagai la litterature en estampes (cerita-gambar) tersebut pun bertransisi, berevolusi. Dari masa ke masa, media ke media, menyesuaikan kebutuhan berceritanya dan teknologi yang mendukungnya.

Perangkat-perangkat bercerita komik yang sama (panel, teks, gambar, lalu balon kata, onomatope, dan simbol-simbol lain) ketika digunakan dengan ragam penataan dan dikembangkan sedemikian rupa, nyatanya mampu menjadi penanda bagi periode masa yang berbeda-beda. Komik strip, majalah komik, cergam, album komik, manga, gekiga, novel grafis, hingga sekarang web komik, adalah sebagian saja yang lazim dikenal untuk menyebut definisi aneka format cerita-gambar.

Pada masa yang sedang dan bahkan terus bertansisi, aksi apa yang dilakukan? Tema kurasi AKSI TRANSISI hendak ditawarkan kepada seniman komik undangan, untuk secara fleksibel dan penuh daya kreatif diinterpretasi sesuai dengan keunikan masing-masing ke dalam kreasi karya komik dan seni gambar sekuensial dalam pameran Yogyakarta Komik Weeks 2022.

Sekilas MULYAKARYA

Mulyakarya adalah sebuah media independen yang digagas dan dibuat oleh Danang Catur dan Yudha Sandy pada tahun 2007 di Yogyakarta. Media ini bertujuan untuk menampung dan mempublikasikan karya-karya komik dan seni rupa perupa-perupa independen terutama yang berada di Yogyakarta. Embrio Mulyakarya adalah komik katalog. Komik katalog ini berisi review komik-komik self publish terbaru yang ada di Yogyakarta. Pada perkembangannya Mulyakarya menjadi sebuah komunitas yang terdiri dari komikus dan perupa. Mulyakarya juga aktif berkegiatan seni rupa, mulai dari workshop, public project sampai pameran. Anggota yang aktif sampai saat ini ada 4 orang : Erwan Hersi Susanto a.k.a Iwank. Antonius Ipur, Danang Catur dan Yudha Sandy. (Depatya/Antok Wesman-Impessa.id)