Event

Pameran Seni Rupa Konvergensi Pasca Tradisionalisme Di Galeri RJ Katamsi, 12 Agustus hingga 12 September 2022

Pameran Seni Rupa Konvergensi Pasca Tradisionalisme Di Galeri RJ Katamsi, 12 Agustus hingga 12 September 2022

Pameran Seni Rupa Konvergensi Pasca Tradisionalisme Di Galeri RJ Katamsi, 12 Agustus hingga 12 September 2022

Impessa.id, Yogyakarta: Pameran seni rupa bertajuk “Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme” melibatkan 58 seniman ternama dan 6 kolektif seni, dengan tiga kurator masing-masing, Suwarno Wisetrotomo, Asmujo Jono Irianto serta Rain Rosidi, berlangsung mulai Jumat, 12 Agustus hingga 12 September 2022 di Galeri R.J. Katamsi, Institut Seni Indonesia -ISI Yogyakarta.

Seniman yang diundang untuk menghadirkan karyanya diantaranya, Nasirun, Heri Dono, I Nyoman Masriadi, Putu Sutawijaya, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, Titarubi, Anusapati, Eko Nugroho, FX Harsono, Nindityo Adipurnomo, Theresia Agustina Sitompul, Sirin Farid Stefy, dan Arahmaiani. Sedangkan untuk kolektif seni yang diundang yakni, Ace House Collective, Gegerboyo, Ruang MES56, HONF, Barasub, dan LepasKendali.

Pembukaan pameran dihibur oleh grup musik Trengginas, Prontaxan, Dj Ayash, Oom Leo Berkaraoke, serta performing art dari  Moelyono, Bonyong Munni Ardhi, dan Barasub.

Dalam Press Conference, Kamis, 11 Agustus 2022, dua kurator, Asmujo Jono Irianto dan Rain Rosidi menjelaskan, pameran “Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme digelar dalam rangka memperingati 125 tahun R.J. Katamsi, seniman berkebangsaan Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu tokoh seni rupa dalam periode seni rupa modern Indonesia yang turut mendirikan dan sekaligus menjadi direktur pertama Akademi Seni Rupa Indonesia atau ASRI (cikal-bakal ISI Yogyakarta), serta merayakan 72 Tahun Pendidikan Tinggi Seni Rupa di Indonesia.

Dalam pidato sambutannya pada 15 Januari 1950, R.J. Katamsi menjabarkan arah pendidikan tinggi seni dan masa depan seni rupa indonesia. “Kita akan dapat melaksanakan cita-cita kita, yaitu membimbing barisan seniman- seniman baru yang dinamis dan kreatif, yang benar-benar dapat menyumbangkan jiwanya yang berbakat guna kepentingan perjuangan Nusa dan Bangsa,’’ jelas R.J. Katamsi.

R.J. Katamsi lahir pada 7 Januari 1897 di Desa Tempuran, Kecamatan Wonoyoso, Kawedanan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Katamsi mengenyam pendidikan secara formal di bidang seni rupa di AcademieVoor de Beeldende Kunsten Middelbaar Onderwijs di Den Haag, selesai pada tahun 1922 dengan ijazah M.O/A menggambar tangan dengan menggambar mistar. Beliau menjadi Direktur pertama ASRI sejak diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 15 Januari 1950 sampai dengan 1958. Sebelum menjadi Direktur ASRI, Katamsi sudah banyak berperan dalam dunia pendidikan sebagai guru. Beliau pernah mengajar antara lain di MULO dan A.M.S di Surakarta, A.M.S. afdeeling B, MULO, Kweekschool, HKS dan menjadi kepala sekolah SMT (Sekolah Menengah Tinggi) di Yogyakarta. Katamsi juga pernah menjadi kepala Museum Sonobudoyo Yogyakarta pada tahun 1942-1950. Peran lainnya adalah dalam dunia seni grafik khususnya sistem reproduksi abklatsch, beliau juga seorang grapholog. Keahliannya ini yang menghantarkan beliau terpilih untuk merancang simbol atau lambang Universitas Gadjah Mada (UGM) yang disahkan pada tahun 1950.

ASRI (cikal bakal ISI Yogyakarta) menjadi salah satu lembaga pendidikan tinggi pertama yang didirikan atas inisiatif dari jiwa-jiwa nasionalisme dan semangat para pendiri republik. Hasil dari buah pikiran dan ikhtiar bersama dari Kongres Kebudayaan tahun 1948 di Magelang. ASRI dibawah kepemimpinan Katamsi menjadi sebuah kampus seni yang dinamis dan progresif. R.J. Katamsi dan tokoh-tokoh seperti Hendra Gunawan, Djajeng Asmoro, Indro Sugondo, Sindu Sawarno, S. Sudjojono, Affandi, Kusnadi yang telah meletakan dasar- dasar yang kuat bagi pendidikan tinggi seni secara formal di Indonesia. Salah satu yang sangat penting juga adalah gagasan Katamsi tentang sistem pendidikan tinggi seni yang dirancangnya, yang disebut dengan sistem pelajaran proyek-global.

Pameran seni rupa “Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme” sebagai refleksi bersama, sejauh mana pendidikan tinggi seni rupa mampu mewarnai seni di Indonesia dan juga self critique apa saja yang menjadi kekurangan, kelemahan pendidikan tinggi seni rupa Indonesia sampai saat ini. Tentu saja untuk membangun dunia seni rupa Indonesia ke depannya yang penuh tantangan dan dunia yang terus berubah. Membayangkan sekaligus merancang peran pendidikan seni rupa yang dinamis dan sesuai dengan perkembangan zaman, menjadi bagian dari perkembangan seni di dunia.

Mengenai kenapa topik pameran yang dihelat Srisasanti Syndicate bekerja sama dengan Galeri R.J. Katamsi adalah Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme, dalam kajian budaya, konvergensi dimaksudkan sebagai penggabungan sesuatu yang tadinya berbeda-beda, utamanya dalam konteks industri komunikasi dan teknologi yang menyertainya. Digitalisasi merupakan contoh nyata. Dampak teknologi digital ini mengubah banyak hal, antara lain penjelajahan, transmedia,  volume, jarak, waktu, dan lain-lainnya. Inilah era, meminjam teori Paul Virillio, disebut sebagai dromologi; kecepatan untuk menikmati dan memperoleh informasi adalah segala-galanya.

Menarik untuk diamati dengan saksama, konvergensi dalam dunia seni rupa, yang digunakan sebagai titik pandang pameran ini, justru menghadirkan beragam kemungkinan praktik dan karya seni rupa. Konvergensi dalam dunia seni rupa, seperti satu ruang di mana berbagai kemungkinan  terjadi. Dalam hal ini, konvergensi dapat merujuk pada medan seni atau ekosistem jejaring seni rupa kontemporer global yang bisa terjadi terutama karena teknologi digital yang memudahan silang arus informasi.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilihat pada gejala yang dilakukan oleh seniman hari ini, yaitu pergeseran dari semula berbasis kritik terhadap media seni menjadi terbuka terhadap gejala media yang lain, seperti dengan sains, teknologi, dan ilmu sosial. Prinsip lain yang terlihat berkembang adalah ‘engagement’ dengan khalayak.

Berdasar dari konsep konvergensi itulah kenapa karya yang dipamerkan di pameran Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme ini yang berjumlah 64 karya tampil dengan beragam bentuk dan ide/gagasan. Karya yang dipamerkan tidak hanya berbentuk media karya seni konvensional seperti lukisan atau patung. Namun, lazim juga ditemukan karya seni yang menggunakan medium multimedia yang mengedepankan unsur audio dan visual.

Pameran Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme dibuka untuk khalayak umum. Pengunjung bisa mendaftar reservasi di tautan bit.ly/reservasi-konvergensi untuk berkunjung ke pameran yang dibuka mulai pukul 11:00 WIB hingga 19:00 WIB. Tiket masuk ke pameran Rp 10,000. Sementara untuk mahasiswa dan civitas akademi Institut Seni Indonesia Yogyakarta bisa masuk ke pameran secara gratis dengan cara menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) di bagian reservasi di lokasi pameran. Email: info.konvergensi@gmail.com.

Harapannya dengan diadakannya pameran ini dunia pendidikan tinggi seni hari ini (dan ke depan), dapat menyadari pentingnya posisi mereka, agar berani melakukan terobosan dalam banyak hal, dengan dukungan data dan manajemen informasi yang memadai. (Aris Setyawan/Antok Wesman-Impessa.id)