Feature

Pameran Bersama Mutiara Riswari, Rangga Aputra dan Bernandi Desanda, Di Indieart House Yogyakarta, 16-30 Juni 2022

Pameran Bersama Mutiara Riswari, Rangga Aputra dan Bernandi Desanda, Di Indieart House Yogyakarta, 16-30 Juni 2022

Pameran Bersama Mutiara Riswari, Rangga Aputra dan Bernandi Desanda, Di Indieart House Yogyakarta, 16-30 Juni 2022

Impessa.id, Yogyakarta: Pameran bersama tiga seniman muda lulusan ISI Yogyakarta, masing-masing, Mutiara Riswari, Rangga Aputra dan Bernandi Desanda, dalam tajuk “Setelah Yang Baur Enggan Usai”, berlangsung di Indieart House yang berlokasi di Jalan As-sanmawaat No 99 Bekelan-Tamantirto-Kasihan-Bantul, Yogyakarta, pada 16-30 Juni 2022.

Dalam tulisan kuratorialnya Adhi Pandoyo menyebutkan bahwa Bernandi Desanda didalam proses kekaryaannya, dalam periodisasi Past, Present and Future, untuk present, atau masa kini, lewat karyanya berjudul “Unexpected Lines”, Nandi, sapaan akrabnya, secara massif memunculkan figur binatang maupun makhluk imajiner, yang erat berkaitan dengan relasinya dengan hewan.

Dalam karya berjudul “Ready to Attack”, “Angry Look”, “Untitled”, maupun karya berukuran paling besar yang berjudul “Whisper From Another Dimension” sepertinya Nandi hendak melakukan pembacaan lebih lanjut, yang alih-alih atas hewan atau binatang, justru lebih memberi penyorotan bahkan “zoom” kepada personal atau karakter makhluk.

Sementara dalam karya past, Nandi menampilkan karya patung pertama yang dibuatnya bersama bapaknya. Sosok bapaknya sebagi pelaku seni dan mendukung kekaryaan Nandi, tentu tidaklah keberatan ketika sekitar tahun 2017, anaknya yang sedang berkuliah tetiba menelpon ingin pulang ke Bima; Mendesaknya untuk mengajari dan bekerja sama membuat karya patung. Akhirnya patung pun dibuat di Bima, dengan bahan seadanya dan sengaja irit, mengingat harga bahan baku, seperti resin yang jauh lebih mahal daripada di Jawa. “Rangkanya pakai kardus aja” ungkap sang Bapak, yang membuat Nandi setengah tak percaya, “emang bisa?” tanyanya. Apa yang disaksikan Nandi, membuktikan kreatifitas artistic hanya dengan berbahan kardus bekas.

Mutiara Riswari menampilkan karya berjudul “Sekala”, menggunakan warna alam dan menyiratkan kenangan bersama Kakeknya. Maka dalam karya “Niskala,” Mutiara sengaja melakukan distorsi maupun penambahan pada kanvasnya. Karyanya yang muncul sebagai proses kreasinya, tak jarang melalui spontanitas dan bawah sadar di saat asyik di dalam studio. Di dunia seni rupa, kerap terjadi, antara pemberian judul dengan karya yang dibuat, saling berdiri sendiri-sendiri, bahkan ada yang saling bertolak belakang. Inilah yang penting untuk dipahami di dalam karya abstrak, sebab ada kalanya bahasa literal tidak bisa mewakili bahasa visual, sehingga antara judul dengan karya, ibarat dua entitas yang dilekatkan paksa.

Sedangkan Rangga Aputra, dalam konsep past, present dan future, dirinya merasakan adanya kesesuaian seraya berujar, “Untuk karyaku dalam pameran ini, yang berkaitan dengan present adalah warna dan tekstur yang ada.” Karya berjudul “Coral Fossil” memang seperti coral berbahan resin, tetapi berkesan logam bronze. (Adhi Pandoyo/Antok Wesman-Impessa.id)