Event

Pameran Drawing Ambabar Gambar, Di Galeri RJ Katamsi Lt 3 ISI Yogyakarta, 19-29 Mei 2022

Pameran Drawing Ambabar Gambar, Di Galeri RJ Katamsi Lt 3 ISI Yogyakarta, 19-29 Mei 2022

Pameran Drawing Ambabar Gambar, Di Galeri RJ Katamsi Lt 3 ISI Yogyakarta, 19-29 Mei 2022

Impessa.id, Yogyakarta: Frasa Ambabar Gambar di ambil untuk membingkai pameran Drawing bertajuk “Ambabar Gambar”, selayang pandang Seni Gambar di Indonesia merayakan Bulan Menggambar Nasional yang berlangsung pda 19-29 Mei 2022, di Galeri RJ Katamsi Lantai 3 ISI Yogyakarta, menampilkan 29 seniman, diantaranya, M Agus Burhan, Gatot Indrajati, Ivan Sagita, Ismanto Wahyudi, Bambang Heras dan Nano Warsono.

Ambabar Gambar secara sederhana diartikan sebagai usaha untuk memberi perluasan makna tentang proses menggambar, baik melalui praktik, gagasan, skill dan material gambar. Amba dalam bahasa Jawa berarti luas sedangkan mbabar berarti menggarap/melahirkan. Seni gambar sudah sejak lama ada di Nusantara yang termanifestasikan di dinding-dinding gua, pada tulang, kulit, kain dan sebagainya. Selanjutnya di masa Nusantara mengenal budaya visual yang semakin kuat kegiatan menggambar menjadi bagian dari salah satu metode dalam bercerita, sehingga muncul relief candi, wayang beber, dan wayang kulit.

(Nano Warsono dengan karyanya berjudul "Zero" Media ink on paper, bercerita tentang perjalanan manusia dalam alam imajinasi menuju sebuah kekosongan, dan karya tentang dialog-dialog dengan diri sendiri dalam visualisasi yg sureal)

Seni visual khususnya gambar menggambar menjadi bagian yang kurang muncul secara mandiri sebagai salah satu bentuk seni di dalam kebudayaan di Indonesia. Lebih banyak pada seni tari, musik, seni sastra, dan arsitektur, sementara jejak gambar menggambarnya cukup minim. Bebepa babad dan ilustrasi dari buku-buku kuno lebih banyak berwujud pada wayang dan bentuk-bentuk yang sering disebut sebagai dekoratif. Figur lebih sederhana dan tidak terlalu realis, begitu juga perspektif diabaikan. Tetapi ciri ini kemudian yang menjadi khas dan khusus yang sangat menarik seperti tergambarkan dalam wayang beber yang saat ini di dunia hanya ada di tiga tempat yaitu Wonosari, Pacitan, dan Belanda. Setelah era kolonial cara menggambar orang Indonesia mulai terpengaruh oleh Barat, salah satu yang paling menonjol adalah Raden Saleh. Raden Saleh bahkan mendapatkan didikan khusus oleh guru gambar Belanda dan menuruskan studinya ke Belanda. Gambar-gambarnya kemudian tidak lagi bercorak dekoratif seperti pribumi saat itu. Bahkan kemampuannya bisa dikatakan sejajar dengan seniman-seniman Eropa pada waktu itu. Selanjutnya tradisi menggambar realis diteruskan oleh Moii Indie dan tradisi menggambar mulai menjadi hal yang elit. Kemudian Hal ini dikritisi oleh S.Soedjojono dan kemudian mendirikan PERSAGI.

PERSAGI yang secara eksplisit adalah perlawanan perspektif cara memandang lokalitas dalam menggambar, mengambil cara pandang yang sangat berbeda apa yang perlu digambarkan dalam sebuah media gambar. Sebuah cara pandang ini juga bermakna sebagai keberpihakan. Selanjutnya gambar menggambar ini juga menjadi bagian dari alat perjuangan melawan Kolonial dengan membuat poster-poster pergerakan yang disertai dengan gambar-gambar heroism. Meskipun mereka tidak terdidik menggambar secara akademis, lebih banyak belajar dalam kelompok atau sanggar dan secara otodidak, namun mereka sangat percaya diri dan mandiri. Ingat salah satu poster “Boeng Ajo Boeng”, dengan teks buatan dari Chairil Anwar dan ilustrasi oleh Affandi sebagai contohnya. Era pasca kemerdekaan menjadi sedikit banyak masih terkait dengan situasi sosial politik paling tidak sampai di era 90-an. Gambar-gambar menjadi sebuah catatan politik dan opini tentang kondisi masyarakatnya. Meskipun hal-hal yang reflektif dan menjadikan gambar sebagai media ekspresi murni juga ada, namun tidak begitu muncul.

(Judul “Winner Journey” karya Ismanto Wahyudi, Bolpoin on Paper, 30x43cm, 2022)

Lukisan berjudul “Winner Journey” karya Ismanto Wahyudi menuturkan tentang perjalanan hidup seorang pemenang yang tidak datang begitu saja. Jalan berliku penuh tantangan di hadapi dengan menempuh perjalanan panjang..Gajah lambang dari kekuatan yang membawa menuju harapan. Dia mampu mengatasi angin, badai, dan ombak dalam perjalananya. Dia juga adalah simbol kekuatan.

Perjalanan hidup tak terlepas dari lembah dan bukit, jalan lurus dan berliku, tantangan dan kesempatan, melaju menjalani kehidupan dengan satu tekat, menjadi pemenang dalam segala hal, bukan hanya materi, tetapi juga kebahagian dan kasih. Sosok Gajah selain menjelajahi samudera juga melintas angkasa sebagai petanda tidak ada yang membatasi impian dan cita cita sang Gajah untuk menjadi pemenang.

Di era ini saatnya untuk melihat kembali praktik menggambar sebagai praktik yang bisa kita kembangkan, menjadi bagian dari perluasan teknik maupun media bahkan konsep-konsep dan pandangan baru mengenai nilai gambar itu sendiri. Masih relevan juga untuk memakai cara pandang dalam melihat situasi sosial yang hadir di depan kita, butuh kepekaan dan intensitas untuk memaknai lagi menggambar saat ini. Tentu saja praktik menggambar bisa menjadi nilai tersendiri dibandingkan misalnya dengan seni lukis, seni grafis, seni patung yang sudah mapan dan mendapat tempat yang lebih di akademis sebagai bagian dari cabang seni rupa yang mandiri.

Dalam seni rupa kontemporer seni gambar atau drawing menjadi perhatian khusus dengan diterbitkannya buku Emma Dexter yang merangkum drawing dari berbagai perspektif berjudul Vitamin D: New Perspective in Drawing (2005) terus berlanjut yang sekarang sudah pada Vitamin D 3 (2021) setelah sebelumnya Vitamin D 2 (2013). Diharapkan pameran Ambabar Gambar dan Hari ini bisa menjadi momentum bersama untuk mengembangkan dan menggairahkan lagi seni gambar dengan berbagai eksplorasi dari seniman-seniman di Indonesia. (Nano Warsono/Antok Wesman-Impessa.id)