Feature

Pameran Seni Rupa, Kabar Bumi Setengah Windu, Di BBY Berlangsung Sukses

Pameran Seni Rupa, Kabar Bumi Setengah Windu, Di BBY Berlangsung Sukses

Pameran Seni Rupa, Kabar Bumi Setengah Windu, Di BBY Berlangsung Sukses

Impessa.id, Yogyakarta: Ada yang menarik dari perhelatan pameran seni rupa bertajuk “Kabar Bumi Setengah Windu” di Bentara Budaya Yogyakarta, 12-14 Mei 2022, yang berlangsung sukses dan mengejutkan berbagai pihak, ternyata dikelola oleh mahasiswa semester dua, Program Studi S-1 Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia -FSR ISI Yogyakarta.

Dr Suwarno Wisetrotomo MHum, merasa surprise dengan kinerja para mahasiswa itu dalam menggelar pameran seni rupa di ruang publik sehingga patut diapresiasi. “Hari ini anda dan teman-teman satu tim, memulai dengan cara yang luar biasa, hadir di ruang publik, membuat satu tema pameran yang penting, dan tema ini tidak main-main, Kabar Bumi Setengah Windu, yang artinya empat tahun, sejarah bumi ribuan tahun, tapi anda memilih empat tahun saja, untuk anda lihat, untuk anda hadirkan ditengah-tengah kita, untuk anda kabarkan kepada hadirin yang sore ini hadir, Ini bagian dari cara anda memantaskan diri merengkuh mimpi-mimpi anda masa depan, apakah akan menjadi kurator? apakah akan menjadi manager rumah seni, galeri atau museum? Apakah akan menjadi petualang seni yang singgah kemana-mana dan menginspirasi kemana-mana? Apakah akan menjadi manajer para seniman? Ruang itu terbuka luas didepan anda,” ungkap Dr Suwarno.

Terkait tema pameran, Dr Suwarno lebih lanjut menuturkan. “Ada Apa Dengan Bumi? Tema ini adalah tema aktual, dan semakin kontekstual untuk hari ini dan kedepan, Kita tahu ketika manusia cawe-cawe pada bumi, ada ancaman disana, ketika industrialisasi, ketika impian-impian modernitas, impian-impian kemajuan tentu saja melibatkan manusia, maka sesungguhnya bumi yang eksistensinya disamakan dengan perempuan maka kita menyebutnya Ibu Pertiwi, sinonim yang tepat, Ketika bumi terus-menerus seperti yang kita hadapi saat ini dan tugas anda kedepan bersama teman-teman tidak semakin sederhana terhadap bumi. Dalam anda mengahadapi itu laluilah dengan se-istiqomah mungkin, sekonsisten mungkin, dilengkapi dengan kerendah-hatian, anda tidak perlu kemrungsung meraih pencapaian-pencapaian yang terlalu cepat, organik saja, dengan sungguh-sungguh mendalami persoalan,” jelasnya.

Dr Suwarno berharap tim kerja ini meneruskan debutnya dalam pameran berikutnya, Kabar Bumi Satu Windu, Kabar Bumi Dua Windu, dan seterusnya, karena kabar bumi penting untuk terus-menerus kita kabarkan kepada kita semua.

Saat pembukaan pameran, Atiek Mariati, Ketua Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Kulon Progo merangkap Wakil Ketua Eco Enzyme Nusantara DIY yang juga penggiat lingkungan penerima penghargaan dari PemKab Kulon Progo sebagai perempuan berjasa dan berprestasi dibidang lingkungan hidup, tampil membacakan puisi berjudul “Hanya Untuk Sungai” karya Eka Budianta, isinya menyentuh dan paralel dengan tema pameran. Berikut bunyi syairnya; “Tiba-tiba sungai itu teringat laut. Sungai mana tak boleh pergi ke laut. Sungai mana dilarang mengalir kesana. Ia marah berteriak, meluap, membanjiri rumah-rumah mewah. Alam pun pucat menatapnya. Langit menangis sederas-derasnya. Hanya untuk sungai kamu menagis. Aku tahu, aku merasa di pagi kelabu, ketika hujan membasahi kota, ketika lampu-lampu masih terjaga, dan penyair menyiapkan hati untuk segala yang akan terjadi bila sungai tak mencapai lautnya.”

Pameran “Kabar Bumi Setengah Windu” merupakan bentuk refleksi manusia atas perubahan Bumi yang belum banyak disadari oleh masyarakat luas. Pameran menampilkan keadaan Bumi pada pra-pandemi hingga erapandemi serta harapan untuk Bumi pasca-pandemi.“From Art to Earth Through a Heart” bermakna, Dari Seni Untuk Bumi Melalui Hati, merupakan slogan dari pameran.

Dr Mikke Susanto SSn MA selaku Dosen Pengampu mengingatkan kepada para mahasiswa bahwa pameran ini tidak boleh hanya berguna untuk seniman, tetapi juga untuk masyarakat yang lebih luas, terutama bumi kita, karena kaitannya selalu dengan lingkungan. Dalam hal ini Mikke menekankan apapun profesi kita, baik sebagai seniman maupun sebagai pengelola seni, orientasinya harus kepada kemanusiaan, pelestarian alam, dan Ke Tuhanan. Pameran di BBY ini sebagai hasil dari Mata Kuliah Tinjauan Kelola Pameran I, dilanjutkan pada semester 2, untuk turut membantu dalam perkembangan manajemen seni di Indonesia, di Jogja secara khusus.

Perupa yang terlibat didalam pameran masing-masing, Alif Edi Irmawan, penggiat seni yang banyak membahas isu-isu lingkungan dalam setiap karyanya. Alif Edi Irmawan memberikan pengingat melalui lukisannya yang bertajuk “Proyek Bibit Unggul” membahas krisis lingkungan ditengah pembangunan yang semakin berkembang pesat. Melalui karya seninya, Alif mengingatkan bahwa kita perlu menyiapkan bekal untuk hari esok demi terjaganya keseimbangan alam.

Seniman Diah Yulianti mengekspresikan perasaannya pada pandemi melalui karyanya berjudul “Yang Pulang, Tumbuh”, menceritakan bahwa dengan kembalinya para roh kepada Sang Kuasa juga meninggalkan bibit-bibit baru yang menjadi generasi penerusnya. Dilambangkan dengan bunga matahari yang memiliki ribuan serbuk di dalamnya dan selalu mengikuti arah matahari untuk mendapatkan sinar bagi serbuk mahkotanya. Mengartikan bahwa, generasi baru merupakan akar yang kuat dalam kemajuan era peradaban baru.

Seniman Kurt A. Hoesli menceritakan dirinya saat kunjungannya ke Indonesia dan situasi lockdown di berbagai penjuru dunia. Membuatnya dihadapkan dengan pilihan keputusan bertahan di Indonesia atau kembali ke negara asalnya Swiss. Karyanya berjudul “Kunci Menerangi Jalan”, ia menceritakan pilihannya tersebut dengan sebuah ikon kunci berbentuk keris yang memiliki kekuatan magis di dalamnya. Bahwa di setiap perjalanan hidup, keputusan yang diambil akan selalu membawa makna di dalamnya.

Rifkki Arrofik menampilkan karyanya berjudul “Cross Pseudo Zone and Reality in the Window” memberikan makna bahwa dengan adanya social distancing justru memberikan dampak baik karena secara tidak langsung menjaga satu sama lain. Intinya, terkurung sekaligus terlindung. Muhammad Shodiq, penggiat lingkungan dan seniman yang menciptakan karya-karya seninya dari hasil tembakau Probolinggo. Muhammad Shodiq menampilkan karyanya berjudul “Peralihan”. Pameran juga menampilkan karya Muhammad Fauzan dengan judul “She’s Not Pink”, sedangkan Denny Saiful Anwar dengan karyanya berjudul “Me and My Thought”, dan Ilham Karim dengan karyanya berjudul “A Bigger Splash”.

Pameran menyuguhkan perjalanan kehidupan manusia pada era pra-pandemi, dimana sebelum pandemi mencuat Bumi sudah dihadapkan dengan adanya krisis lingkungan akibat pemanasan global. Pada era pandemi yang dilihat membawa banyak perubahan yang cukup signifikan pada tatanan hidup masyarakat. Pembatasan fisik yang dibantu dengan bantuan teknologi, beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru.

Dalam pengantar kuratorialnya, duet dua kurator, Luna Chantiaya R dan Gisela Kiara Aura R menyebutkan, melalui pameran ini, diharapkan manusia mampu merefleksikan kehidupannya bersama makhluk sosial lainnya. Hari Bumi tidak hanya berbicara soal lingkungan dan Bumi itu sendiri, namun juga seisinya. Kita hanya memiliki satu Bumi yang harus dijaga dan diselamatkan. Manusia sebagai poros kehidupan di Bumi, wajib berperan untuk merawat Bumi melalui hati, intuisi dan pemikiran kritis terhadap ancaman keberlangsungan Bumi dan seisinya. Kehadiran kesenian adalah keniscayaan sebagai salah satu jalan agar manusia mampu merefleksikan dan menyeimbangkan kehidupan, termasuk keberlanjutan bagi Bumi dan segala isinya. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)