Feature

Rangga Aputra Gelar Pameran Tunggal, Artefact of Random Memories, di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Secara Hybrid, 11-31 Desember 2021

Rangga Aputra Gelar Pameran Tunggal, Artefact of Random Memories, di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Secara Hybrid, 11-31 Desember 2021

Rangga Aputra Gelar Pameran Tunggal, Artefact of Random Memories, di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, Secara Hybrid, 11-31 Desember 2021

Impessa.id, Yogyakarta: Artefak merupakan benda yang memiliki jejak ingatan dari masa lalu. Berbekal sebongkah artefak dan pengetahuan yang mumpuni, seorang arkeolog mampu menjabarkan teka-teki kehidupan, teknologi, kebudayaan, hingga peradaban di masa tertentu. Melalui artefak kita dapat melihat peran manusia dalam menciptakan atau memodifikasi benda. Benda-benda yang termasuk dalam kategori artefak pun beragam, seperti alat-alat batu, logam, tulang, tanduk hewan, kertas, bahkan bahkan karya seni.

Karya-karya seni yang hadir dalam pameran tunggal bertajuk “Artefact of Random Memories” merupakan ‘artefak’ dari seniman muda Rangga Aputra, pria kelahiran Yogyakarta, 7 Desember 1995, yang menciptakan karya seni bukan sekadar persoalan visual, tetapi dapat merekam yang ia ingat dan rasakan. Menurut Tomi Firdaus, selaku kurator pameran, Rangga dalam proses penciptaan karya ‘mencatat’ beragam ingatan, mulai dari yang terlintas hingga yang berkesan. Ingatan-ingatan tersebut tampak menonjol dalam seri karya lukis rangga berjudul “Catatan Tekstur” yang menggunakan teknik gurat/kerok sebagai ‘senjatanya’.

Pameran yang sudah dirancang selama kurang lebih satu tahun tersebut menghadirkan beragam karya, seperti lukisan, skesta, drawing, dan patung. Pameran ini menarik karena untuk pertama kali Rangga menghadirkan karya patung. Menurut Rangga, ia ingin mengeksplorasi lebih luas medium penciptaannya. Dalam pameran ini pun Rangga menyajikan apa yang sudah dirinya idamkan sejak lama.

Pameran “Artefak of Random Memories” yang diresmikan oleh kolektor seni rupa Benny Santosa Halim pada Sabtu (11/12/2021) dihadiri tamu undangan terbatas, berlangsung secara hybrid, secara luring pada 12-17 Desember 2021 di Galeri R.J. Katamsi Yogyakarta, dan secara daring melalui website: www.ranggaaputra.com, pada 15-31 Desember 2021. Penyelenggaran pameran sepenuhnya didukung oleh U Need Studio bekerjasama dengan Galeri R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta.

Kurator pameran Tomi Firdaus kepada Impessa.id mengatakan, bagi Rangga menciptakan karya seni bukan sekadar persoalan visual, tetapi juga bagaimana karya tersebut dapat menjadi artefak atas apa yang diingat dan dirasakan. Kedua hal tersebut terdapat dalam salah satu seri karya Rangga berjudul Catatan Tekstur. Pada karya yang menggunakan teknik guratan/kerok sebagai senjatanya, berisi rekaman atas ingatan dan ekspresi Rangga dalam karya lukisnya. Namun, terdapat hal yang menarik dari perkembangan seri tersebut sejak tahun 2018 hingga sekarang, yaitu apa yang coba direkam oleh Rangga.

Pada karya seri awal Catatan Tekstur di tahun 2018, kita dapat melihat beberapa paragraf panjang berisi ingatan dan impresi Rangga. Dalam paragraf tersebut, setiap jarak antara huruf rapat dan padat seperti yang terlihat di karya Fingerprint Composition. Di fase Ini Rangga menggunakan teks untuk mencatat isi kepalanya seperti buku catatan harian sehingga masih dapat terbaca.

Seiring berjalannya waktu, paragraf panjang mulai berkurang menjadi satu atau dua kalimat. Selebihnya didominasi tulisan asemik dan angka, serta beberapa bentuk atau figur. Teks dan angka yang terdapat pada karya tahun 2019 hingga sekarang berjarak lebih renggang dibandingkan karya tahun 2018. Bagi Rangga dalam karya termutakhirnya lebih menitikberatkan penggunaan teks asemik untuk meluapkan ekspresinya.

Pada proses penciptaan karya seri Catatan Tekstur, Rangga mengguratkan segala sesuatu yang terpintas di kepala dan yang berada disekitarnya pada kanvas. Sebagai contoh, dari pagi hingga petang Rangga bertemu teman untuk saling bertukar pikiran dan membaca artikel atau buku. Pada malam hari ia mengerjakan karya. Informasi yang berlimpah itu tentu tidak dapat direkam secara utuh, Rangga memilih penggalan-penggalan informasi yang terkodekan dalam ingatannya, objek-objek yang ada disekitarnya, serta meluapkan ekspresinya melalui teks asemik untuk diguratkan pada kanvas. Selanjutnya, Rangga memberikan beberapa bentuk atau figur pada beberapa bidang karya dengan teknik opak. Karya yang sudah tuntas dikerjakan itu kemudian dimaknai oleh Rangga dengan melihat dari aspek yang paling menonjol atau melihat secara menyeluruh. Maka, tekstur guratan yang menjadi background karya menjadi rekaman atas hal yang dipikirkan dan dirasakan selama berkarya.

Pada pameran tunggal kali ini di galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, selain karya lukis seri Catatan Tekstur, Rangga Aputra menghadirkan karya-karya lainnya, yaitu karya kertas, patung dan lukisan seri termutakhirnya. Diantara karya terbarunya yang menarik untuk disimak adalah karya patung. Setelah cukup lama berkarya seni melalui dua dimensional Rangga memutuskan untuk bereksplorasi dalam karya patung. Insomnia adalah patung ciptaan rangga berbentuk kepala manusia (leher ke atas) berwarna hitam pekat dengan teksur yang kasar. Patung ini mewakili dirinya yang selalu terjaga di malam hari karena memperhitungan langkah-langkah selanjutnya dalam berkarir sebagai seniman

Menurut teori paradigma Atkinson dan Shiffrin (pakar psikologi) yang telah disempurnakan oleh Tulving dan Madigan, terdapat 3 jenis ingatan, yaitu jenis ingatan sensorik (sensory memory), ingatan jangka pendek (short term memory) dan ingatan jangkan panjang (long term memory). ketiga sistem/jenis ingatan merupakan tahapan dari kemampuan individu dalam merekam informasi. sebagai contoh, mari kita lihat bagaimana proses penciptaan karya Rangga di seri Catatan Tekstur dengan menggunakan sudut pandang psikologi.

Rangga dalam menciptakan karyanya memadukan sistem struktur memori, yaitu memori sensorik, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Pertama adalah Ingatan sensorik, ingatan ini berperan untuk mencatat informasi yang masuk dari satu atau perpaduan dari panca indra. Memori sensorik memiliki jangka waktu yang sangat pendek, jika informasi yang masuk tidak diperhatikan maka informasi akan hilang begitu saja. Memori sensori jika diperhatikan akan masuk ke memori jangka pendek. Pada Rangga, memori sensori terlihat ketika ia memasukkan objek-objek (bentuk dan kata) dari pengamatan indrawi yang ada di sekeliling studionya ke dalam kanvas.

Kedua adalah memori jangka pendek (short term memory). memori ini mempunyai durasi yang lebih lama dibandingkan dengan memori sensori karena kita telah memilih/memperhatikan sesuatu. Namun dalam memori jangka pendek memiliki batas informasi yang dapat disimpan, sekitar 7 butir informasi dengan rentang waktu sekitar 30 detik -hal ini tentu berbeda bagi setiap individu. jika dari 7 slot ingatan sudah terisi penuh kemudian masuk informasi baru maka salah satunya akan hilang. Oleh karena itu ketika Rangga ditanyakan mengenai kata atau objek pada background karyanya ia tidak mengetahui darimana mendapatkan informasi tersebut karena banyaknya informasi yang terus masuk.

Terakhir adalah ingatan jangka panjang (long term memory). Jenis memori ini mempunyai kapasitas paling besar dengan rentang waktu ingatan yang lama. Secara garis besar ingatan jangka panjang berisikan informasi yang tertanam dalam ingatan terhadap sesuatu, seperti kemampuan/keahlian, peristiwa, konsep dan sebagainya. Ingatan jangka panjang terlihat pada bentuk kalimat atau paragraf yang berisikan kesannya akan sebuah kejadian pada karyanya.

Dr Mikke Susanto, Ketua Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, dalam sekapur sirih sambutan menyebutkan, “Rangga Aputra merupakan seniman muda yang sedang melesat dan punya kans yang lebih baik, dan menjadikan pembelajaran bagi mahasiswa bahwa alumni bergerak cepat dan pesat, di tengah pasar yang mungkin akan naik setelah pandemi berakhir, sehingga semua elemen yang ada di senirupa bekerja kembali seperti sediakala, seniman bisa kaya lagi, kolektor tambah kaya lagi, kurator apalagi,” candanya yang spontan disambut gelak tawa pengunjung. Dalam kesempatan itu Dr Mikke mengapresiasi kinerja U Need Studio yang memenej pameran tunggal Rangga Aputra.

“Ini adalah hari yang saya nanti-nantikan, berpameran di Yogyakarta ditengah kondisi sulit, disini saya menghadirkan wilayah-wilayah artistik yang saya sangat tertarik. Saya menghadirkan seri-seri yang mayoritas seri catatan tekstur, sebagai seri pertama saya yang saya mulai di tahun 2017, itu di seri kertas pada awalnya, kemudian saya lanjutkan ke karya kanvas. Sebetulnya, ada tanda-tanda disekitar kita yang bisa kita maknai secara tersirat. Ini menjadi penting menurut saya, tidak menjadi hal yang terlihat langsung tapi menjadi hal yang tersirat yang muncul secara tidak langsung. Hal itu yang saya coba mnaknai di pameran kali ini,” ungkap Rangga Aputra, saat menyampaikan kata sambutannya.

“Artefact of Random Memories adalah ingatan yang acak yang saya lewati di akhir-akhir saya berkarya sampai saat ini. Disini saya menghadirkan karya patung, karya terbaru saya dan relief serta instalasi, saya ingin mejelajah bagaimana tidak hanya menghadirkan karya yang saya tekuni yaitu karya lukis, dengan dinamika yang bisa mengimbangi pola karya saya,” imbuh Rangga ketika dikonfirmasi Impessa.id.

Terkait pameran tunggal Rangga ini, seniman Ismanto ketika dimintai pendapatnya, kepada Impessa.id menuturkan, “Ada karya yang menarik bagi saya yakni karya Kaktus Berkaki dan Kaki Bertumpuk, disitu ada simbolism-simbolsm yang berusaha Rangga bangun dari visual-visualnya, Kaktus itu lambang struggle, survive, disitu dia meng-kombine antara Kaktus dengan Kaki, sedang Kaki itu ikonik dengan Journey, perjalanan. Karya-karyanya ini banyak mengajak kita untuk berpikir, dan memaknai ulang. Ada juga karya menarik lainnya yaitu karya abstrak berisi teks, ada graffiti seri-seri ingatan, seri-seri pengharapan, untuk dimaknai ulang. Ingatan-ingatan Rangga yang lama dirangkum kembali didalam karya-karya yang sekarang ini, Secara kekaryaan saya sangat interest karena karyanya termasuk fresh, dan mengendap, artinya karya ini karya-karya yang kontemplatif

Dalam pada itu disela-sela berlangsungnya pameran, Benny Santosa Halim ketika ditemui Impessa.id berpendapat.bahwa karya Rangga Aputra sangat menjanjikan, “Saya sudah mengkoleksi karyanya tatkala dia berpameran dua tahun lalu pada pameran “Bakaba” di Jogja Gallery. Saya kira Rangga Aputra, seniman muda yang berpotensi dan saya kira kedepannya dia akan terus berkarya dan semakin baik. Awalnya saya mengoleksi karya seni untuk hiasan di rumah, dan seiring jalannya waktu saya menjadi kolektor karena saya tertarik dengan dunia seni rupa dan patung, dan saya mulai mengoleksi sejak 20 tahun lalu dengan jumlah lebih dari 500 karya seni, baik karya dari seniman-seniman di masa lalu dan juga karya seniman-seniman muda, bahkan juga karya-karya seniman moy-indie, yakni seniman luar negeri yang tinggal dan menetap di Indonesia, seperti karya-karya Arismith, Theo Mayer dan Antonio Blanko. Saya mempunyai gedung dengan ruang yang cukup luas di Cilacap dan saya gunakan untuk menyimpan koleksi-koleksi saya yang seringkali dikunjungi oleh para pelajar mulai dari siswa Sekolah Dasar hingga anak-anak SMA,” ungkap Benny Santosa.

Ketertarikannya pada karya seni rupa menurut Benny dikarenakan karya seni itu harus dilestarikan dan diberikan ruang yang cukup, supaya karya seni ini lebih bermanfaat dan bisa sebagai suatu ‘kekayaan’ buat bangsa Indonesia maupun untuk dunia.

Ketika Impessa.id menanyakan perihal banyaknya para bisnismen tertarik mengoleksi karya seni rupa, ada fenomena apa ini? Benny berpendapat, “Seni itu kan sesuatu yang indah, saya kira pada suatu titik tertentu semua orang akan suka dengan karya seni. Cuman mungkin membutuhkan waktu, membutuhkan promosi, saya kira diperlukan usaha dari semua pihak supaya karya seni ini semakin memasyarakat.”

“Saya mengoleksi karya seni rupa itu ada kepuasan tersendiri, ada kebahagiaan tersendiri, jadi menurut saya dibalik aktivitas sehari-hari yang mungkin sudah padet, saya kira dengan kita mengkoleksi karya seni baik lukisan, patung maupun lainnya, saya kira akan memberi keseimbangan buat kita juga. Nyaman ya, kalau kita dirumah melihat lukisan, atau kita melihat di pameran atau di galeri-galeri sehingga saya mendapat oase, pencerahan,” aku Benny lebih lanjut.

Agar atmosfer dunia berkesenian di Cilacap, tempatnya bermukim, menuju mapan seperti halnya di Jogja, Benny Santosa disela-sela waktu luangnya berupaya terus mengedukasi generasi muda Cilacap untuk sesering mungkin, usai pandemi berakhir, untuk berkunjung ke galeri miliknya yang penuh dengan koleksi karya seni hebat seniman Nusantara. “Saya sering ke Jogja, ke Jakarta, ke kota-kota besar lain bertemu dengan seniman dan para kolektor karya seni rupa, sehingga kita bisa saling mengisi,” tuturnya.

Dalam sambutan jelang pembukaan pameran Benny Santosa mengaku senang dan bahagia malam itu dapat hadir di Jogja, ditengah-tengah seniman sahabat yang sudah lama dikenalnya. Menurutnya, Rangga Aputra adalah talenta muda yang sudah banyak menghasilkan karya lukis dan patung yang mengusung genre abstrak, abstrak figurative, sejak 2012 hingga kini, yang sudah banyak mengikuti pameran bersama dan solo yang sangat menjanjikan.

“Manusia tidak bisa dilepaskan dari seni, para ahli sejarah berpendapat bahwa seni tumbuh dan berkembang sejajar dengan perkembangan peradaban manusia. Buktinya ialah manusia purba yang hidup di gua-gua, telah meninggalkan jejak berupa artefak senirupa dalam bentuk lukisan pada dinding-dinding gua,” ujarnya.

Dikatakan, senirupa menurut beberapa ahli dan salah satunya adalah Jeje Hofman, budayawan, yang berpendapat bahwa senirupa memiliki tiga pilar utama yaitu Ide, Aktivitas dan Artefak. Visualisasi karya seni dalam setiap media yang dihasilkan biasanya hasil perenungan dalam diri seniman untuk mengolah berbagai aktivitas dengan eksplorasi kreativitas. Demikian pula pada Rangga Aputra yang kita,lihat pada pameran kali ini. Biasanya hasil perenungan dalam diri seniman visualisasi konsep adalah aktualisasi ekspresi jiwa pelukis yang ditransformasikan dalam obyek lukisan tersebut.

“Saya yakin karya-karya yang dipamerkan ini merupakan hasil kontemplasi dari sebuah proses perenungan dan pengendapan pelukisnya, sehingga menjadi sebuah ciri khas yang dapat kita lihat melalui karya-karya tersebut. Mudah-mudah kreativitas ini terus membuka cakrawala baru dalam memperluas ruang rupa publik seni. Program yang mempertaruhkan pencapaian dan gagasan baru seorang pelukis ini saya berharap mampu menjadi oase yang menyegarkan bahkan mampu memperkaya ekspresi seni khususnya di Indonesia, saya sebagai pecinta seni berpesan teruslah berkarya, teruslah mencipta, teruslah mengekspresikan sebagai masterpiece yang layak dipersembahkan kepada panggung seni rupa baik di Indonesia maupun dunia,” jelas Benny Santosa.

“Selamat berpameran, semoga pameran ini mendapat apresiasi dan sambutan hangat masyarakat dan mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya bagi kita semua,” pungkasnya. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)