Feature

Prof. Iswandi Syahputra, Ungkap Perspektif Kualitas Siaran Menyongsong Siaran Televisi Digital

Prof. Iswandi Syahputra, Ungkap Perspektif Kualitas Siaran Menyongsong Siaran Televisi Digital

Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Iswandi Syahputra, Ungkap Perspektif Kualitas Siaran Menyongsong Siaran Televisi Digital

Impessa.id, Yogyakarta: Tahun depan tepatnya pada 22 November 2022, keseluruhan siaran televisi analog dihentikan dan beralih ke siaran televisi digital. Menyongsong era pertelevisian digital tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia -KPI terus melakukan berbagai kegiatan diseminasi kepada lembaga penyiaran dan seluruh masyarakat tentang kualitas siaran televisi. Diseminasi didasarkan pada hasil riset indeks kualitas siaran televisi yang telah dilakukan selama tujuh tahun bekerjasama dengan 12 Perguruan Tinggi di Indonesia. Salah satunya dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kandidat Doktor yang juga Dosen Ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Drs Bono Setyo MSi sebagai koordinator lapangan pelaksanaan riset indeks kualitas siaran televisi selama tujuh tahun (2015 s/d 2021) menuturkan, diseminasi terus dilakukan dalam upaya meraih fungsi dan tujuan ideal siaran televisi yang seharusnya seimbang sebagai media informasi, kontrol dan perekat sosial, pendidikan, ekonomi, hiburan sehat, kebudayaan yang muaranya sebagai medium pembentuk karakter bangsa.

Kali ini bersama tim riset indeks kualitas siaran UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan acara “Diseminasi Hasil Riset Kualitas Program Televisi Dan Digitalisasi Penyiaran Di Indonesia,” bertempat di Hotel Harper Yogyakarta, Selasa (2/11/2021), didasarkan pada hasil riset indeks kualitas siaran selama dua tahun terakhir, yakni tahun 2020 dan 2021.

Hadir sebagai narasumber Wakil Rektor 1, Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Prof. Iswandi Syahputra, Komisioner KPI Pusat, Hardly Stefano, dan Drs. Bono Setyo, M. Si. dan tim riset UIN Sunan Kalijaga. Hadir juga Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora, UIN Suka, Dr. Mochamad Sodik. Diikuti perwakilan dari berbagai elemen masyarakat Yogyakarta.

Prof. Dr Iswandi Syahputra SAg MSi menyampaikan materi berjudul “Kualitas Siaran Televisi dalam Perspektif dan Tantangan Digitalisasi Penyiaran”. Dalam paparannya Prof. Iswandi Syahputra antara lain menyampaikan hal-hal yang perlu dipahami pertelevisian dan pemirsa, berkaitan dengan kualitas program siaran televisi.

Disampaikan, kualitas siaran dapat dinilai dari tiga perspektif yang berbeda dan terkadang berlawanan, yaitu, perspektif pemirsa (minat pemirsa, kebutuhan dan tuntutan pemirsa), produsen program siaran atau konten kreator (kreativitas dan produksi teknis-audio, visual, pencahayaan, editing, dan hal teknis lainnya), manajemen televisi. Program siaran yang berkualitas harus menghadirkan karakteristik tertentu, seperti menghormati pluralitas dan integritas, pengungkapan kebenaran, kecerdikan dan tidak adanya kekasaran dan sensasionalisme.

Sementara itu terkait dengan posisi KPI, sebagai lembaga independen representasi dari masyarakat, KPI memiliki kewenangan dalam mengatur hal-hal siaran, agar dicapai kualitas siaran televisi yang berkualitas untuk mencapai fungsi dan tujuan ideal siaran televisi yang seharusnya seimbang dalam rangka membentuk karakter bangsa.

Menurut pengamatan Prof. Iswandi, sampai tahun ketiga pelaksanaan riset, kategori siaran masih dibawah standar. Salah satunya adalah infotainment dan sinetron, yang tergolong merupakan siaran yang kurang berkualitas. KPI seharusnya memprioritaskan pengawasan terhadap kualitas sinetron dan infotainment, melakukan pengembangan struktur organisasi agar ada pengawasan khusus untuk tayangan tersebut. KPI juga harus melakukan penguatan otoritas, sebagai regulator pada sektor penyiaran, sehingga KPI mendapatkan kewenangan khusus untuk dapat menghentikan siaran yang tidak berkualitas dan memberikan sanksi.

Digitalisasi penyiaran harusnya disambut sebagai demokratisasi penyiaran, yang akan menjadikan dunia tampak lebih luas dan transparan. Dalam kondisi penyiaran yang lebih demokratis dan transparan, KPI memiliki tantangan yakni, berhadapan dengan pemangku kepentingan. KPI harus mampu mengusahakan regulasi yang tepat untuk kepentingan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Hardly Stefano menyampaikan, dari hasil berbagai riset indeks kualitas siaran bekerja-sama dengan 12 Perguruan Tinggi di Indonesia, pihaknya telah berhasil melakukan diseminasi kepada masyarakat dan juga lembaga penyiaran televisi di Indonesia dalam rangka memberikan pemahaman tentang kualitas siaran televisi.

Di satu sisi masyarakat sebagai pemirsa semakin dapat memilih untuk menonton siaran televisi yang berkualitas saja. Di sisi lain program siaran televisi yang semula banyak yang tidak berkualitas, dalam dua tahun terakhir ini menunjukkan semakin banyak program siaran yang berkualitas dibuktikan dengan hasil riset yang dilakukan bersama 12 Perguruan Tinggi.

Dari delapan kategori siaran televisi yang diteliti kualitasnya, Wisata dan Budaya, Religi, Berita, Talkshow, Variety show, Infotaiment, dan Sinetron, yang semula sebagian besar masih menunjukkan tidak berkualitas, pada riset dua tahun, tinggal tiga kategori siaran yang masih menunjukkan kurang berkualitas yakni, Variety show, Infotaiment, dan Sinetron.

Melihat perkembangan tersebut, pihaknya berharap, menyongsong era digitalisasi siaran televisi, agar dapat mewujudkan harapan siaran televisi sebagai medium pembentuk karakter bangsa, maka diseminasi hasil Riset Indeks Kualitas Siaran TV, harus terus dilakukan secara berkelanjutan, agar dapat menjadi public discourse seluruh stakeholder penyiaran untuk menjaga dan mendorong peningkatan kualitas program siaran. Karena peningkatan kualitas program siaran bukan hanya ditentukan oleh lembaga penyiaran, melainkan resultan dari relasi dinamis antara seluruh stakeholder penyiaran.

Pada kesempatan kali ini, Bono Setyo menyampaikan beberapa temuan riset terkait siaran religi. Temuan tersebut diantaranya, program siaran religi mendapat tempat pada pemirsa. Peluang ini ditangkap semua media dengan membuat berbagai kreasi siaran religi. Namun kebanyakan televisi masih terjebak komersialisasi, sehingga fungsi edukasinya belum menunjukkan pengaruh positifnya terutama terhadap kehidupan keberagaman agama di Indonesia.

Menurutnya, keberimbangan konten juga belum terwujud. Media televisi juga belum mampu mengangkat kekuatan kharisma figur penyampai konten religi maupun nama program. Siaran religi semua televisi didominasi Agama Islam, namun sayangnya belum banyak yang fokus pada intisari ajaran, masih dangkal dan sering kali masih menyajikan konten mistik, horor. track record dan kredibilitas penyampai konten pun belum diperhatikan media televisi.

“Masih ada figur yang tersandung kontroversi, namun tetap dipakai. Hal inilah yang ditengarai program reliqi belum banyak berpengaruh terhadap kehidupan keberagamaan masyarakat. Padahal sebenarnya Indonesia memiliki banyak figur agamawan yang sangat berpengaruh pada kehidupan keberagamaan masyarakat di sekelilingnya,” ungkap Drs Bono Setyo MSi.

Usai pemaparan dari narasumber tersebut, agenda dilanjutkan dengan pemaparan hasil riset indeks kualitas siaran televisi selama dua tahun, dari delapan kategori program siaran televisi. (Weni/Nurul/Dimas/Antok Wesman-Impessa.id)