Feature

Sjaiful Boen Gelar Pameran Tunggal Di Jogja Gallery Yogyakarta, 3 September Hingga 2 Oktober 2021

Sjaiful Boen Gelar Pameran Tunggal Di Jogja Gallery Yogyakarta, 3 September Hingga 2 Oktober 2021

Sjaiful Boen Gelar Pameran Tunggal Di Jogja Gallery Yogyakarta, 3 September Hingga 2 Oktober 2021

Impessa.id, Yogyakarta: Ada yang menarik ketika pengunjung pameran seni rupa “Continew” karya Sjaiful Boen di Jogja Gallery Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara Yogyakarta, kemudian memasuki sebuah bilik kecil dan mendapati setumpuk Kaleng Kerupuk masing-masing berukuran 28 cm x 28 cm x 39 cm, berjumlah 44 buah, tersusun rapi menyerupai rak, yang tak lain ternyata merupakan karya instalasi-interaktif kreasi Sjaiful Boen.

Kepada wartawan, Sjaiful, demikian sapaan akrabnya menuturkan, ketika kotak kayu yang ada di lantai didepan tumpukan kaleng kerupuk itu diinjak, maka lampu menyala dan terpampang neon sign bertuliskan Now I Have President, Sekarang Saya Punya Presiden.

“Kenapa kaleng kerupuk, dalam konsep saya, kerupuk itu bisa dijumpai dimanapun, dari Kaki Lima hingga hotel Bintang Lima, karena kerupuk itu disukai banyak orang. Karena kaleng kerupuk itu memasyarakat, dimanapun ada, sehingga siapapun bisa jadi presiden,” ungkapnya.

Karya instalasi-interaktif tersebut adalah salah satu dari 355 karya Sjaiful Boen yang digelar di Jogja Gallery pada 3 September hingga 2 Oktober 2021 dengan jam buka Selasa-Minggu, pukul 10 pagi hingga jam 6 petang.

Tajuk “Continew” sebagai pameran tunggalnya yang ketiga, gabungan materi karya-karya terbaru yang kemudian berasimilasi dengan karya-karya terdahulu, dicetak di atas 25 macam permukaan bahan, mulai dari varian metal, plat tembaga, zink, alcubon, mdf, kulit kayu, resin, dan ragam lainnya.

Oscar Motuloh selaku kurator pameran menuturkan, Continew bermakna selalu bergerak, sebagai kata kerja sekaligus kata sifat, “Continew terus berproses, terus berkelana, berpetualang melanjutkan eksperimen-eksperimen, memainkan sirkus seorang diri, menuntaskan misi yang masih panjang ceritanya, memberi jiwa atas cipta karya,” tuturnya.

Dalam kuratorialnya, Oscar Motuloh menyebutkan tahun 1970-an merupakan zaman ke-emasan fotografi, dimana diakuinya fotografi sebagai sebuah bentuk seni, diikuti munculnya pameran-pameran fotografi dalam konteks seni yang dihelat museum seni serta maraknya kemunculan universitas dan galeri seni komersial di Amerika Serikat.

Oei Hong Djien, pengamat sekaligus kolektor seni rupa dari Magelang, sependapat dengan yang dikemukakan Oscar Motuloh bahwa Sjaiful Boen gemar ber-eksperimen untuk menciptakan hal-hal baru, sehingga kreativitas dan daya pikirnya tetap terus terpacu. Dalam pengantar katalog pameran, Oei Hong Djien menyebutkan, “Sjaiful Boen menguasai teknologi fotografi. Kalau dulu fotografi tidak dimasukkan sebagai seni, kini fotografi sudah diterima menjadi bagian dari seni rupa yang disebut seni-fotografi. Karya-karya Sjaiful Boen dalam pameran Continew, memperlihatkan kemampuannya menggunakan berbagai media untuk menciptakan karya-karya berbentuk multi dimensi, dan semuanya itu ada unsur fotografinya.”

Lebih lanjut Oscar Motuloh mengulas karya-karya Sjaiful Boen. Continew adalah capita selecta karya Sjaiful Boen kelahiran 1 Oktober 1970 di Tanjung Karang-Lampung, beberapa karyanya merupakan manifesto dan ungkapan diri, seperti tertuang dalam karya berjudul “My Ego” dicetak di atas media plywood, berukuran 220x240 cm, kemudian “My Future” berukuran 110x220 cm. serta “Zona” cetakan digital diatas plywood dan resin, berukuran 100x100 cm.

Ungkapan ekspresif dapat diamati melalui karya berjudul “Creature” berupa cetakan digital diatas kanvas berukuran 1,2x1,3 meter. Kemudian karya media campuran berbasis fotografi berjudul “Kasih Itu Ada” berukuran 240x200 cm.

Di ruang pamer Jogja Gallery terpampang 36 karya foto portraiture masing-masing berukuran 60x60 cm. juga 100 karya cukil berdasar portraiture diatas media MDF, masing-masingnya berukuran 60x60 cm. Sjaiful menghadirkan opininya tentang keindahan dalam sarkastis kerasnya plat tembaga berjudul “Beauty of Life” berukuran 110x220 cm, dipadukan dengan karya berjudul “Lust” yang dicetak diatas tiga lembar media kulit kayu alami, masing-masing berukuran 100x100 cm.

Romantika Candi Borobudur, di hadirkan melalui karya berjudul “At Dawn” berukuran 90x90 cm termasuk bingkai, cetakan analog   berukuran 30x60 cm, 20 detik di fixer, RC paper Doff, Ilford Multigrade IV. Kemudian etching diatas media plat tembaga berjudul “Irama Kehidupan” berukuran 100x150 cm.

Kekaguman Sjaiful pada alam dan budaya Tanah Air dia tuangkan kedalam karya berjudul “Morning At Kelimutu” media campuran dicetak diatas lembaran plastik berukuran 90x120 cm. Sjaiful juga menyoroti gagalnya pelestarian Gedung-gedung cagar budaya, kedalam karya berjudul “Gotham City” berukuran 100x100 cm, cat aklirik dicetak di atas stiker plastic setelah digunakan melapisi plat Zinc.

Pandemi global dituangkan kedalam karya berjudul “Mother’s Pray” dicetak diatas tiga panel kulit kayu, berukuran 100x100 cm. Karya bernuansa reliji dia tuangkan kedalam judul “My Path” media campuran diatas kanvas, berukuran 60x160 cm, kemudian “Holyland” dic etak diatas 12 keping keramik yang diterakan narasi yang dilihat menggunakan kaca pembesar yang bergantungan didepan keramik-keramik tersebut.

Sjaiful juga menyoroti kekerasan lewat karya berjudul “Respect” dicetak diatas plat tembaga berukuran 100x100 cm, serta serial foto polaroid sebanyak 150 helai, dan urutan ‘cerita’ di akhiri dengan karya berjudul “Hell” dicetak diatas medium campuran D’bond, resin, acrylic.

Dalam pada itu Suwarno Wisetrotomo, Kurator Seni dan Dosen Pasca Sarjana ISI Yogyakarta, dalam tulisannya di katalog pameran “Continew” mengungkapkan bahwa Sjaiful Boen yang menguasai fotografi dan seni grafis khususnya wood cut dan cetak tinggi, mengembangkan kemampuannya itu menjadi alat dan cara berekspresi yang penuh kenikmatan dan pesan. “Karya-karya Sjaiful Boen yang dipamerkan di Jogja Gallery, penuh dengan irisan, menggugah dan menunjukkan passion-nya yang akrobatik, Pesan yang disisipkan dibalut dengan metafora ataupun simbol,” ungkap Suwarno Wisetrotomo. (Feature of Impessa.id by Antok Wesman)