Event

Metode Wolbachia Eliminasi Dengue DBD Di Yogyakarta, Diakui The New England Journal of Medicine

Metode Wolbachia Eliminasi Dengue DBD Di Yogyakarta, Diakui The New England Journal of Medicine

(Staf diagnostik WMP Yogyakarta memasukkan sampel nyamuk yang di dapat dari lapangan, rangkaian kinerja Metode Wolbachia Eliminasi Dengue DBD di Yogyakarta yang diakui The New England Journal of Medicine)

Impessa.id, Yogyakarta, 11 Juni 2021 - The New England Journal of Medicine (NEJM), sebuah jurnal kesehatan yang sangat bereputasi di tingkat internasional, hari ini mengakui metode Wolbachia dengan mempublikasikan hasil uji efikasi Wolbachia. Hasil uji tersebut menunjukkan pengurangan kasus dengue (DBD) terkonfirmasi di Kota Yogyakarta, Indonesia, sebesar 77%. Penurunan angka kasus dengue terkonfirmasi yang dirawat di rumah sakit, juga menurun hingga 86%.

Hasil penelitian yang dipublikasikan NEJM tersebut adalah uji efikasi AWED (Applying Wolbachia to Eliminate Dengue) atau "Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue" yang dilakukan selama periode 2017-2020 di Kota Yogyakarta dan sebagian wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

(Staf WMP Yogyakarta menunjukkan sampel nyamuk kepada responden perangkap nyamuk dewasa)

Uji tersebut dilakukan di area percobaan yang memiliki total populasi 312.000 orang selama 27 bulan. Melibatkan 8.144 partisipan berusia 3 hingga 45 tahun yang mengunjungi salah satu dari 18 Puskesmas karena mengalami gejala demam akut yang berlangsung antara 1 hingga 4 hari.

Uji efikasi AWED di Yogyakarta ini merupakan puncak dari satu dekade studi laboratorium dan lapangan, dimulai pertama kalinya di Australia dan kemudian berkembang ke 11 negara endemik dengue.

Proyek penelitian ini merupakan kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada dan Monash University, serta Yayasan Tahija sebagai penyandang dana. Tujuan hasil uji efikasi ini untuk mengetahui apakah pemberian Wolbachia pada populasi nyamuk Aedes aegypti lokal, dapat mengurangi kasus dengue terkonfirmasi secara virologis, pada warga berusia 3-45 tahun yang tinggal di Kota Yogyakarta, Indonesia.

(Sampel nyamuk dalam plate sebelum diekstraksi untuk mengetahui kandungan Wolbachia-nya)

DBD adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dan cepat menyebar di dunia. Lebih dari 50 juta kasus terjadi secara global setiap tahun. Indonesia merupakan salah satu negara endemis dengue, dengan hampir 8 juta kasus DBD terjadi setiap tahunnya.

Penelitian tersebut menunjukkan metode Wolbachia juga efektif mencegah penyebaran Zika, chikungunya, demam kuning, dan penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Sebelumnya Vector Control Advisory Group Badan Kesehatan Dunia (WHO), telah mengakui potensi Wolbachia dalam menurunkan kasus DBD di seluruh dunia dengan menyatakan "Wolbachia menunjukkan nilai kesehatan masyarakat terhadap dengue" dalam laporan dari pertemuan ke-14 mereka pada Desember 2020.

(Dengan lup seorang anak melihat secara langsung jentik dan pupa nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia)

Peneliti Utama WMP Yogyakarta, Prof. Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada mengatakan, “Ini adalah kesuksesan besar bagi masyarakat Yogyakarta. Di sisi lain, Indonesia memiliki lebih dari 7 juta kasus dengue setiap tahunnya. Kesuksesan ini memungkinkan kami untuk memperluas manfaat Wolbachia ke kota-kota lainnya di Indonesia. Kami pikir, teknologi ini menawarkan peluang bagi masyarakat Indonesia agar bisa terbebas dari ancaman DBD."

Co-Principal Investigator penelitan, Prof. Cameron Simmons dari Monash University mengatakan, "Hasil penelitian ini menunjukkan dampak signifikan metode Wolbachia dalam mengurangi kasus dengue di populasi perkotaan. Ini terobosan menggembirakan dari Wolbachia - sebuah teknologi baru yang aman, tangguh, dan manjur untuk pengendalian dengue, yang dibutuhkan masyarakat global."

Direktur World Mosquito Program, Scott O’Neill mengatakan, "Ini adalah hasil yang kami tunggu-tunggu. Metode Wolbachia terbukti aman, berkesinambungan, dan mengurangi kasus dengue. Hasil ini memberikan kami kepercayaan diri besar untuk dapat memperluas manfaat Wolbachia ke seluruh dunia di populasi urban yang luas."

Direktur Impact Assessment WMP, Katie Anders mengatakan, “Ini adalah percobaan pertama dari sebuah intervensi melawan nyamuk dengue untuk menunjukkan dampak kasus penyakit. Hasilnya konsisten dengan temuan-temuan kami dari non-randomised studies sebelumnya di Yogyakarta dan North Queensland, serta prediksi pemodelan epidemiologi dari pengurangan substansial dalam beban penyakit dengue setelah penyebaran Wolbachia."

(Rekrutmen pasien demam di Puskesmas Danurejan sebagai bagian dari penelitian Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue di Kota Yogyakarta)

Ahli statistik independen uji AWED, Prof. Nicholas Jewell, Professor Biostatistik dan Epidemiologi di the London School of Hygiene & Tropical Medicine (yang juga Professor pascasarjana di the University of California, Berkeley), menyatakan, "Hasilnya menarik. Yang sangat menarik adalah bahwa desain percobaan yang digunakan di sini menyediakan template yang dapat diikuti oleh kandidat intervensi kesehatan lainnya."

Prof. Dr Ir Damayanti Buchori MSc dari Institut Pertanian Bogor, yang juga merupakan ketua tim independen analisis risiko keamanan Wolbachia menyatakan, “Penelitian ini merupakan penelitian yang sangat unik dan menyeluruh; yaitu transdisipliner, dan menyentuh inti ilmu dasar interaksi serangga endosimbion, epidemiologi, kesehatan masyarakat, penelitian ilmu sosial, yang dipadukan dengan kerja masyarakat, dan pendidikan masyarakat yang dibawa ke tingkat pelaksanaan untuk menyembuhkan penyakit. Penelitian ini melandasi “evidence-based research”, yang dapat menjadi model bagi penelitian-penelitian dunia yang akan datang. Tata kelola proyek penelitian menunjukkan bahwa kemitraan multi pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilan. Ini benar-benar model penelitian yang perlu dianut oleh banyak negara dan donor."

dr Yudiria Amelia, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, mengatakan, "Kota Yogyakarta adalah wilayah endemik dengue. Buat kami, Wolbachia adalah metode tepat untuk diintegrasikan dengan program pengendalian dengue yang telah ada. Kami senang dengan hasil dari uji ini. Kami harap metode ini dapat diimplementasikan di seluruh area Yogyakarta dan lebih jauh lagi, di seluruh kota Indonesia."

Dr Sjakon Tahija, Ketua Yayasan Tahija, menyatakan, "Sebagai penyandang dana program Wolbachia ini, kami ingin mengucapkan terima kasih pada seluruh mitra dan seluruh pemangku kepentingan atas kolaborasi multi-tahun luar biasa yang menghasilkan dampak pengurangan beban dengue di Yogyakarta, dan tak lama lagi, secara global. Sebagai sebuah yayasan venture philanthropy, kami bangga investasi kami secara meyakinkan akan membawa dampak berkesinambungan. Kami sangat bahagia dan bangga atas hasil ini."

(Warga Sorosutan Yogyakarta melihat mural Wolbachia yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya)

The World Mosquito Program:

Bekerja untuk membantu melindungi komunitas global dari penyakit yang dibawa nyamuk, WMP yang sebelumnya bernama Eliminate Dengue Project (EDP), adalah sebuah prakarsa nirlaba yang dipimpin Monash University, Australia.

The World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta saat ini sedang mendampingi Pemerintah Kabupaten Sleman melaksanakan program Si Wolly Nyaman (Si Wolbachia, Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman), yang mengimplementasikan metode Wolbachia sebagai salah satu program pelengkap pengendalian dengue di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Metode Wolbachia:

Cara kerja metode Wolbachia adalah dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes aegypti yang menularkan virus dengue, chikungunya, Zika, dan demam kuning. Nyamuk ber-Wolbachia ini dilepaskan di daerah endemik virus. Setelah nyamuk ber- Wolbachia dilepaskan, mereka berkembang biak dengan nyamuk liar. Seiring berjalannya waktu, persentase nyamuk ber-Wolbachia meningkat tanpa perlu pelepasan lebih lanjut. Metode mandiri ini menawarkan solusi yang aman, efektif, dan berjangka panjang untuk mengurangi beban penyakit ini.

Yayasan Tahija:

Yayasan Tahija adalah sebuah organisasi nirlaba yang didirikan di Jakarta oleh almarhum Ibu Jean Tahija dan Bapak Julius Tahija pada tanggal 21 Maret 1990. Yayasan Tahija merupakan wadah resmi bagi prakarsa filantropi keluarga Tahija.

Yayasan ini bertujuan mewujudkan Indonesia yang lebih baik melalui kemitraan untuk inisiatif berkelanjutan di bidang pendidikan, budaya, kesehatan, pelestarian lingkungan, dan layanan sosial.

The New England Journal of Medicine (NEJM):

The New England Journal of Medicine (NEJM) diakui sebgai jurnal dan situs web medis terkemuka di dunia. Mempublikasikan beragam jurnal secara rutin selama lebih dari 200 tahun, NEJM menerbitkan hasil penelitian berkualitas tinggi, peer-reviewed, dan konten klinis interaktif untuk dokter, pendidik, peneliti, dan komunitas medis global.

Misi NEJM adalah untuk mempublikasikan penelitian dan informasi terbaik di persimpangan ilmu biomedis dan praktik klinis, serta menyajikan informasi dalam format yang dapat dipahami dan bermanfaat secara klinis. NEJM menginformasikan praktik perawatan kesehatan dan meningkatkan hasil bagi pasien. (Equatori Prabowo/Dale Amtsberg/Antok Wesman-Impessa.id)