Feature

Syawalan UIN Suka, Tokoh Agama Gelorakan Kebersamaan Dalam Keragaman Agama

Syawalan UIN Suka, Tokoh Agama Gelorakan Kebersamaan Dalam Keragaman Agama

Syawalan UIN Suka, Tokoh Agama Gelorakan Kebersamaan Dalam Keragaman Agama

Impessa.id, Yogyakarta: Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin menyapa semua tokoh agama. Rektor juga mengajak selalu bersyukur atas nikmat kesehatan dan kebahagiaan di tengah pandemi Covid-19 kepada seluruh  undangan baik yang mengikuti prosesi secara online maupun offline.

Hal tersebut disampaikan Prof. Al Makin mengawali acara perayaan Syawalan dan Halal Bi Halal di kampus UIN Sunan Kalijaga, 18/5/2021. Acara yang mengangkat tema “Dengan semangat keberagaman, kita saling belajar dan saling mendengar,” kali ini dihadiri para pemuka dan cendikiawan agama lain: Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, Aliran Kepercayaan serta iman lain.

Lebih jauh Prof. Al Makin menyampaikan tekatnya, selama era kepemimpinannya sampai tahun 2024, menjadikan kampus UIN Sunan Kalijaga sebagai rumah bagi semua mazhab, aliran, organisasi, iman, dan tradisi keagamaan. UIN Sunan Kalijaga akan mengayomi dan berlaku adil bagi semua kebelbagiaan yang ada. “Kita akan afirmasi dengan ikhlas dan tawadu,” ungkap Prof. Al Makin.

“Filsuf di jaman Romawi bernama Marcus Arelius, mengatakan, don’t debate over what good man is, be the one, atau Stop talking about your philosophy, embody it. Begitu juga Seneca filosof lain selalu menekankan do it, don’t just talk about it. Kali ini kita tidak berseminar, berdebat, dan berwacana tentang keragaman, toleransi, dan kebhinekaan, kita lakukan saja. Kita dengar dari tamu undangan dan hargai perspektif iman lain dalam memandang dan mengapresiasi Idul Fitri,” tambahnya.

Disampaikan, Lebaran mengandung makna senada dengan Natal mungkin, Puasa dengan Nyepi dengan Amati Geni, Amati Karyo, Amati Lelungan, Amati Lelungguan. Mungkin ada beda antara Idul Fitri dengan Waisak, atau Imlek.  Kenyataannya selama pandemi, kita saling belajar. Paskah di 2020, secara virtual, Urbi et Orbi, tentang kota Roma dan dunia, diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Kemudian Nyepi dengan berbagai Puja dan Upakara, secara minim kontak dan bergerombol. Tahun baru imlek juga begitu, hanya ramai di sosial media. Khotbah para Romo, Pastur, bahkan Sri Paus, Pedande, Bhante semua menyiratkan prihatin pada pandemi-Covid-19, solidaritas antar umat beragama, dan saling mentaati protokol di masjid, gereja, kapel, vihara, pura, dan tempat ibadah lain. Pandemi memaksa kita untuk adaptasi dan menyesuaikan diri. Saatnya kita jujur, bahwa berbeda agama itu rahmat untuk saling belajar, saling memahami, saling mengerti.

“Saya sudah sampaikan berkali-kali dalam berbagai forum bahwa ukuran moderasi itu menurut Kementerian Agama dalam buku Moderasi Beragama Kementerian Agama 2019, ukurannya adalah toleransi. Dalam hal ini, saya mengingat Prof. Mukti Ali yang menjabat Menteri tahun 1971-1978 yang mengemukakan adanya toleransi antar agama, yaitu dengan agama yang berbeda dan kedua yaitu inter-agama, yaitu toleransi kelompok dalam agama itu sendiri. Dalam Islam tentu ada banyak aliran, mazhab, organisasi, partai politik, masjid, tarawih, subuh, yang bermacam-macam yang harus bertoleransi satu dan lainnya,” jelasnya lebih lanjut.

“Dalam hal hubungan antar agama Indonesia jelas fondasinya, saya senang sekali membaca karya Driyarkara yang tebal editornya adalah sahabat dan mentor saya, Romo Budi Subanar dan St Sunardi. Gerakan masa lalu kita diiingatkan adanya tokoh-tokoh besar dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholish Madjid (Cak Nur), Djohan Effendi, Teha Sumartana, Ibu Gedong, Romo Mangunwijaya dan lain-lain. Di Yogyakarta ada kelompok LSM seperti Dian Intefidei, di Salatiga Percik, di Jakarta Setara dan Wachid Institut. Ada ICIP, kelompok Salihara, dan FKUB-FKUB Kementrian Agama di seluruh propinsi di Indonesia. Ajakan personal maupun LSM semua ada dalam tradisi Indonesia. Sanad ilmu kita jelas, rantai keilmuan kita juga sahih, kita harus saling belajar, memahami, toleransi antar dan inter-umat beragama,” ujar Prof Al Makin.

“Saya mengajukan indikator sederhana dalam moderasi dan toleransi beragama, merujuk pada buku kuno Republik Plato dan Ethika Nichomacus Aristoteles. Persahabatan. Ukuran toleransi dan moderasi beragama bisa dilihat seberapa banyak kita berteman, bersahabat, dan bergaul dengan orang di luar kelompok kita? Bagi yang Muslim, apakah kita punya teman Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, Kepercayaan? Adakah teman kita yang menari Bali? Pernahkah kita saksikan Romo yang tenang mendengar kita bicara? Tahukah kita bedanya Kapel dan Gereja? Mana yang Pura dan mana yang Vihara? Seberapa banyak, luas, dan beragam teman kita itulah ukuran dari toleransi dan moderasi kita. Maka mari perbanyak teman dan perluas pergaulan kita. Karena semua iman mengajarkan persahabatan. Para pengikut Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah juga disebut sahabat. Dari empat sahabat utama, yang meneruskannya menjadi Khalifah di Madinah, hingga ratusan sahabat yang meneruskan semua sabda-sabdanya lalu dikompilasi menjadi hadits. Maka melalui perayaan Syawalan kali ini, mari meluaskan persahabatan kita, dan dalam empat tahun ke depan kita perluas persahabatan kita,” demikian ajakan Prof. Al Makin.

Rektor UIN Suka kemudian menyitir Kisah Manusia Goa dalam Republiknya Plato, buku ke VII ayat 514-420. Tawanan di dalam gua itu hanya tahu bayangan dari api unggun, mereka melihat bayangan pohon, bulan, matahari, hewan, serta tanaman. Orang dalam gua itu tidak pernah melihat benda atau kehidupan nyata di luar gua. Seumur hidup di dalam gua. Suatu waktu salah satunya, pergi keluar dari gua. Dia bercerita tentang semua yang dilihat dalam alam nyata. Teman-temannya dalam gua tidak percaya dan marah. Dibunuhnya itu orang yang keluar gua dan menceritakan keadaan nyata di luar gua. Mungkin yang dilihat di luar gua itu organisasi, mazhab, aliran, kelompok, mungkin universitas, negara, dan teman-teman yang hanya segua yang hanya melihat bayangan, bukan benda nyata. Hendaknya kita keluar dari gua, melihat sahabat-sahabat kita di luar kelompok kita, agama kita, Masjid kita, Gereja kita, Pura kita, Vihara kita. Mari keluar sejenak dan dengarkan versi di luar goa kita.

Untuk keluar dari goa perlu keberanian, nekat, dan mungkin tidak setuju dengan teman-teman lain di dalam goa. Untuk menjadi toleran, pro-kebhinekaan, perlu pendidikan, pemahaman yang luas, persahabatan yang luas, berani ikhlas, rendah hati, siap belajar. Untuk tinggal di dalam goa tidak perluas usaha, cukup salahkan yang di luar goa. Untuk menjadi fanatik, radikal, fundamentalis, tidak toleran, tidak perlu usaha. Lupakan pendidikan, lupakan belajar, berhenti rendah hati, banggakan diri sendiri, kelompok sendiri, fanatik, dan anggap kelompoknya terbaik, yang lain salah, jelas Prof. Al Makin. Usai menyampaikan sambutannya, Prof. Al Makin sekali lagi mengajak bersyukur atas tiga keberhasilan yang baru saja diperoleh UIN Sunan Kalijaga. Yang pertama, jurnal internasional Al Jami’ah memperoleh predikat Quartile Q1 Versi SCImago Journal Rank (SRJ). Yang kedua, Prodi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya memperoleh Akreditasi unggul dari BAN-PT. Dan yang ketiga, video vokal perdana Ketua PPPM UIN Suka, Dr. Muhrisun, yang melantunkan lagu melayu “Pulanglah Aisyah” menembus 1.569 viewers.

Sementara itu enam tokoh agama yang bergabung dalam perayaan Syawalan turut memaknai Idul Fitri dan menyampaikan harapannya. Rektor USD Yogyakarta, Drs Johanes Eka Priyatma MSc PhD, mewakili umat Katolik menyampaikan, Idul Fitri bagi umat Katolik merupakan momen yang sangat bermakna. Idul Fitri memberikan pesan-pesan yang mulia, dan sarat dengan keutamaan bagi seluruh umat beragama di Indonesia. Di dalam Idul Fitri manusia kembali suci setelah berpuasa, ada kerendahan hati dengan meminta maaf lahir dan batin, ada kesederhanaan dan penghargaan kepada yang lain. Perayaan Idul Fitri dalam keberagaman beragama bukan saja untuk kepentingan institusi, tetapi mengajak seluruh umat untuk semakin beradab, merawat martabat bangsa yang religius dalam beragama, serta mengajak hidup berbangsa dan bermasyarakat yang semakin baik. Pihaknya berharap momen seperti ini dapat membawa kesadaran untuk mengedepankan nilai nilai luhur dalam mengatasi permasalahan bangsa, utamanya ketidakpastian akibat pandemi.

M. Djayusman SH MM, dari Tuntunan Agung Kerohanian Sapta Dharma menyampaikan, dalam Tuntunan Agung Sapta Dharma, Idul Fitri mengajak seluruh masyarakat dan seluruh elemen bangsa untuk menjalin persaudaraan yang erat demi kejayaan NKRI. Idul Fitri dalam suasana pandemi Covid-19 dengan situasi sosial-ekonomi yang tidak pasti menyadarkan kita semua untuk bersama saling peduli. Bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bersama-sama sujud dan mawas diri meminta pengayoman kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Bangsa Indonesia segera terlepas dari pandemi dan tetap menjadi bangsa yang bermartabat dan berbudi pekerti luhur.

Pdt. Fendi Susanto, Pastoral RS Bethesda, Pemuka Agama Protestan menyampaikan, sebagai orang yang hidup dalam lingkungan Muslim, keluarga besarnya mengajarkan makna Idul Fitri sebagai wahana kenduri bersama, hidup rukun saling berbagi bersama keluarga Muslim. Melalui puisinya pihaknya menyampaikan makna Idul Fitri di suasana pandemi. Setelah 1 bulan berpuasa, melewati banyak godaan. Kini kembali suci lahir dan batin. “Dengan hati yang kembali suci, ayo patuhi aturan negara, jangan kemana-mana, agar wabah segera sirna. Dan keberkahan kembali berlimpah untuk seluruh warga Indonesia, bersama kebersamaan umat beragama yang ngreboko,” harap Fendi.

Sementara itu, Pemuka Agama Hindu yang merupakan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia DIY, Drs I Nyoman Warta MHum berpendapat,  berpuasa 1 bulan dalam suasana Pandemi tidaklah mudah. Dan Umat Muslim bisa melewatinya. Kini Umat Muslim kembali fitri. Dengan semangat Idul Fitri mari jaga kebersamaan dalam perbedaan. Dengan Kebersamaan Indonesia akan sehat dan kembali berjaya. Seperti Gamelan semua berbeda bunyi, dan tidak indah suaranya jika dibunyikan sendiri-sendiri. Namun akan indah, selaras dan merdu suaranya jika dibunyikan bergantian. Seperti juga taman, yang akan indah jika dirawat. Oleh karenanya perbedaan hendaknya selalu dirawat dalam kebersamaan, hidup rukun bersaudara. Semua mengambil peran sesuai bidangnya. Kesampingkan rasa benar sendiri, karena kebenaran hanya milik Tuhan.

Totok Tejamano SAg MHum, Pemuka Agama Budha menuturkan bahwa puasa, seperti juga puasa Ramadhan menjadi ajaran semua agama. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih dari itu adalah menaklukkan hawa nafsu, untuk menjadi pemenang yang sejati. 1 bulan umat Muslim berpuasa, hingga bisa menaklukkan diri menjadi pribadi yang bersih dari Iri, dengki, dendam, marah, dan sombong. Selanjutnya dapat mengembangkan kerukunan, keharmonisan, keluhuran budi antar sesama umat beda agama. Semoga keberkahan selalu Tuhan curahkan kepada seluruh umat manusia, demikian doa Totok.

Ws. Adjie Chandra, Pemuka Agama Kong Hu Cu menyampaikan, pandemi Covid-19 membuat semua elemen lintas agama prihatin. Hendaknya semua menyadari, cobaan dari tuhan ini dapat dihindari. Yang sulit dihindari adalah cobaan dari diri sendiri. Oleh karenanya dengan semangat Idul Fitri pihaknya mengajak semua umat beragama di Indonesia bersatu, bahu membahu, saling membantu untuk mengatasi cobaan dari Tuhan berupa pandemi Covid-19 ini. Dengan menyatukan hati semua umat beragama di negeri ini, Bangsa Indonesia akan dapat segera terbebas dari Pandemi. Lalu Prof. Al Makin melantunkan Kidung Kalasebo, mengakhiri perayaan Syawalan kali ini. (Tim Humas UIN Suka/Antok Wesman-Impessa.id)