Pameran Visual ChorChet Masker dan Alam Di Gaia Cosmo Hotel Yogyakarta
Impessa.id, Yogyakarta: Perpaduan manis antara lukisan, fashion art, foto, patung, puisi dan karya interior dihadirkan dalam pameran fisik bertajuk “ChorChet Masker dan Alam” (baca: korset) di Gaia Cosmo Hotel Jalan Timoho Yogyakarta, 29 Agustus sampai 4 September 2020, terbuka untuk publik dengan pembatasan antrian pengunjung sesuai Protokol Kesehatan di Tatanan Baru.
Lia Mustafa, disainer senior nasional selaku inisiator saat pembukaan Pameran ChorChet Masker dan Alam, Sabtu (29/8/20) menuturkan, “Pilihan ChorChet yang bermakna merenda, membuat jalinan kuat lintas-profesi untuk bangkit kembali bergerak menjawab lunglainya tubuh, sebagai dampak yang diakibatkan pandemi Covid-19”.


Pameran visual dalam bentuk Lukisan, Fashion Art, Foto, Patung, Puisi dan produk Interior merupakan kolaborasi apik yang menampilkan karya dari Fashion oleh Lia Mustafa, karya Patung oleh Timbul Raharjo dan Andre Suryaman, karya Lukis oleh Isrol Media Legal, karya Interior oleh Deddy Effendi, karya Foto oleh Fauzan Armando dan Pradita Dian, serta karya Puisi oleh Reza Rusandi dan Vika Aditya.


Disainer Lia Mustafa menyajikan 14 outfit busana yang terbagi kedalam lima judul masing-masing, “Berkerumun” berupa Dress berbahan Lurik dan Natural Woven dalam warna Coklat dan Cream, seharga 1,75 juta rupiah dan Masker seharga 300-ribu rupiah. Kemudian judul “Hidden Mask” berupa Blouse dan Long Skirt berbahan Silk, warna Merah Hitam. Untuk Blouse seharga 2.5 juta rupiah sedangkan Long Skirt seharga 1,25 juta rupiah, untuk Masker seharga 300-ribu rupiah. Judul “JeJak” berupa Sackdress Zipper dan Outer Batik Tambal berwarna Hitam dan Kuning Kunyit senada, untuk Sackdress Zipper seharga 1,75 juta rupiah dan Outer Batik Tambal seharga 1,5 juta rupiah, dilengkapi Masker seharga 300-ribu rupiah. Judul “Pamer Alam” berupa Sackdress berbahan Batik Tulis berwarna Ungu seharga 1,75 juta rupiah diengkapi Masker seharga 300-ribu rupiah. Untuk karya berjudul “Masker” berupa Minidress berbahan Katun berwarna Hitam dan Abu-abu seharga 4.5 juta rupiah.


“Busana elegan warna hitam yang saya tampilkan sebagai pertanyaan pribadi saya, apakah kita bisa secepatnya keluar dari keadaan seperti ini?” Lia Mustafa juga menyajikan aneka Tas terbuat dari serat alam semisal Agel, produk Kulon Progo. Demikian pula Masker dramatik yang dikenakan para model, juga terbuat dari bahan-bahan alam disekitar, seperti rumput dan ranting-ranting kayu.
Seniman Andre Suryaman menghadirkan karya seni Kaleng Cat Bekas yang disusun sedemikian rupa dengan prinsip selalu mencoba membeli nilai yang lebih dari barang-barang yang tidak bernilai.


Adapun Deddy Effendi dari Palemcraft Homedeco Naturally yang berbasis di Jogja, produknya berupa aksesories interior dan handcrafts, sejak 2003 telah mendunia berhubung market share-nya adalah pasar-pasar Eropa dalam hal ini Spanyol, Perancis, Belgia, Polandia dan Serbia, juga Amerika Serikat, Australia dan Amerika latin seperti, Mexico, Chili dan Argentina.
Ketika dikonfirmasi Impessa.id, Deddy Effendi mengungkapkan bahwa Palemcraft Jogja membuat produk dari berbagai bahan alami, berkelanjutan dan ramah lingkungan, diantaranya Kayu, Bambu, Batu Apung, Biji Mahoni, Serat Pisang, Rumput dan Kulit Kerang. “Produk utama kami home decoration telah bersertifikat internasional, seperti Vas, Lilin, Cermin dan Kap Lampu. Kami menggunakan Teknik finishing, penganyaman, penempelen, serta kemampuan mewujudkan berbagai disain dan mengambangkan produk sesuai permintaan pelanggan, dibawah pengawasan tenaga quality control”.


“Di pameran ini, kami menampilkan produk interior berkelas terbuat dari Serat Pohon Pisang dari Sumatera Selatan dan Sulawesi, dengan seratnya yang kuat, 90% ekspor dan produk kami ini sangat diminati oleh pelanggan dari Perancis, Belgia, Spanyol dan Inggris, karena berbahan alami. Kami disini mengenalkan kepada masyarakat Jogja produk unggulan, antik dan sangat disukai pasar luar negeri, berupa Guci Batu Teknik Fosil,” akunya kepada Impessa.id.
Sementara pelukis Isrol Media Legal menampilkan beberapa lukisan dalam judul “Persiapan Ke Ladang” representasi figure petani gigih dan tidak mudah menyerah ketika mengolah lahan. Pergi ke sawah setiap hari menjadi kewajibannya meskipun di saat pandemic. Judul “Kerja” sebagai bagian penting didalam nafas kehidupan. Kemudian lukisannya berjudul “Share” sebagai bentuk kepedulian kepada sesama dengan berbagi.


Sosok pematung ternama dengan karya-karyanya yang telah mendunia, Dr Timbul Raharjo, ikut berpartisipasi mewarnai sekaligus menyemangati panitia pameran visual “ChorChet Masker dan Alam” di Gaia Cosmo Hotel Yogyakarta, dengan menghadirkan patung “Rusa” dan “Swim Pose” serta lukisan berjudul “Kuda Egrang”.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta Singgih Raharjo menilai pameran visual “ChorChet Masker dan Alam” merupakan perpaduan bagus meski ini pameran kecil yang digelar di selasar hotel. “Untuk menarik perhatian tamu hotel agar bisa menikmati karya-karya yang luar biasa ini penting, kemudian masker dalam tema pameran, dimana masker menjadi bagian yang pokok saat ini dan juga kebutuhan fashion dan kalau melihat karya-karya yang dipamerkan ini memperlihatkan bahwa beberapa komunitas masuk, artinya kolaborasi antar-komunitas muncul disini, ditata sedemikian rupa, luar biasa menurut saya”, akunya kepada Impessa.id.


Menanggapi digelarnya pameran secara offline, Singgih Raharjo menekankan “Asalkan protokol kesehatan diterapkan secara ketat, pengaturan agar pengunjung tidak berjubel dan berdesak-desakan, penting untuk diperhatikan oleh pihak panitia. Dispar DIY tetap mendukung agar industri kreatif tetap berproduksi, meski kami belum promosi menarik wisatawan untuk berkunjung ke Yogyakarta. Selama ini kami mempromosikan destinasi wisata di Jogja sudah mempersiapkan diri sesuai protokol kesehatan, sehingga calon wisatawan khususnya grup kecil semacam family yang mudah dilakukan pemantauan, mereka mengetahui bahwa tidak perlu was-was jika kelak berkunjung ke Jogja,” jelasnya. (Antok Wesman-Impessa.id)

