Pameran Jejak DJAJENGASMORO, Berlangsung Di Pojok Rumah DAS Condong Catur Yogyakarta, 28 Oktober Hingga 9 November 2026
Pameran Jejak DJAJENGASMORO, Berlangsung Di Pojok Rumah DAS Condong Catur Yogyakarta, 28 Oktober Hingga 9 November 2026
Impessa.id, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2026: Fragmen Memori Djajengasmoro berangkat dari proses pengarsipan dan penelusuran terhadap jejak R.M. Soeharjo Djajengasmoro, sosok yang terlibat dalam perkembangan pendidikan seni rupa, ruang belajar, organisasi kebudayaan, serta berbagai proyek seni dan ruang publik di Yogyakarta. Proses ini menghimpun beragam arsip, mulai dari surat, foto, tulisan, poster, dokumentasi karya, catatan, hingga dokumen yang berkaitan dengan aktivitas pendidikan dan organisasinya.
Namun, arsip yang ditemukan tidak selalu menghadirkan gambaran masa lalu secara utuh. Sebagian dokumen berada dalam kondisi tidak lengkap, sementara sejumlah karya dan jejak lainnya belum berhasil dilacak. Keadaan tersebut menjadi titik berangkat untuk memahami bagaimana sejarah seseorang dapat bertahan melalui fragmen-fragmen yang tersisa, sekaligus menyisakan pertanyaan mengenai bagian-bagian yang hilang atau belum terungkap.

Rektor ISI Yogyakarta, Prof Dr Irwandi SSn MSn saat membuka pameran Fragmen Memori Djajengasmoro, Selasa (27/10/2026)
Alih-alih menyusun biografi yang final, pameran ini membuka ruang untuk membaca kembali hubungan antara arsip, ingatan, karya, dan sejarah. Dokumen, kesaksian keluarga dan narasumber, serta berbagai hasil penelusuran menjadi sumber yang saling melengkapi dalam membangun pemahaman mengenai Djajengasmoro.
Delapan Seniman Merespons Fragmen Sejarah
Pameran ini menghadirkan delapan seniman, yaitu Andi Firda, Catur Nugroho, Chandra Rosselinni, Iwank H.S., MEDIALEGALl, Krack! Printmaking Collective, Riyan Kresnandi, dan Sekawan Project. Melalui praktik artistik masing-masing, para seniman merespons arsip serta persoalan yang muncul selama proses penelitian.

Gagasan mengenai pendidikan, poster sebagai media perjuangan, pengakuan institusional, kerentanan monumen, hingga benda-benda sederhana yang berkaitan dengan ruang belajar menjadi sejumlah titik berangkat penciptaan karya. Berbagai persoalan tersebut diterjemahkan melalui pendekatan dan bahasa artistik yang beragam, mempertemukan jejak masa lalu dengan pembacaan kritis dari masa kini.
Dalam konteks ini, arsip tidak hanya diposisikan sebagai bukti sejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat ditafsirkan dan ditransformasikan menjadi pengalaman baru. Karya-karya yang dihadirkan memperlihatkan bagaimana dokumen dan ingatan dapat memunculkan pertanyaan, membuka perspektif berbeda, serta mendorong pembacaan ulang terhadap sejarah seni rupa dan pendidikan seni di Yogyakarta.


Pameran ini merupakan bagian dari proses dokumentasi dan riset mengenai R.M. Soeharjo Djajengasmoro yang berlangsung selama sepuluh bulan pada 2026. Proses tersebut juga diarahkan pada penyusunan buku katalog anotasi Soehardjo Djajengasmoro sebagai salah satu upaya untuk mencatat kembali jejak sejarah dan membuka kemungkinan penelitian lanjutan.
Melalui pengarsipan, wawancara, penelusuran karya dan ruang publik, serta lokakarya, penelitian ini berupaya memperluas akses terhadap informasi mengenai Djajengasmoro sekaligus mengidentifikasi bagian-bagian sejarah yang masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Dengan demikian, pameran tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga bagian dari proses produksi dan penyebaran pengetahuan mengenai sejarah seni rupa dan pendidikan seni di Yogyakarta.


Pameran sebagai Ruang Pertemuan dengan Sejarah
Fragmen Memori Djajengasmoro mengajak publik untuk berjumpa dengan sejarah melalui dokumen, karya seni, dan berbagai interpretasi yang muncul dari proses pengarsipan. Pengunjung tidak hanya diajak mengenal sosok Djajengasmoro, tetapi juga mempertanyakan bagaimana sebuah warisan sejarah dibentuk, dipelihara, dan dimaknai kembali.
Seremoni pembukaan pameran berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 15.30 WIB, dan dibuka oleh Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., Rektor ISI Yogyakarta. Pameran kemudian terbuka untuk umum pada 28 Oktober hingga 9 November 2026, setiap hari pukul 10.00–17.00 WIB, di Pojok Rumah DAS, Jl. Matematika No. 28B, Tiyasan, Condongcatur, D.I. Yogyakarta.


Melalui pameran ini, Pojok Rumah DAS menghadirkan ruang perjumpaan antara arsip, seniman, dan publik untuk membaca kembali jejak masa lalu serta membuka percakapan mengenai keberlanjutan ingatan dan warisan seni dalam kehidupan masa kini.
Salah seorang seniman yang ditemui Impessa.id yakni, Catur Nugroho mengangkat judul karya “Re-Interpretasi Ingatan (R.M. Soehardjo Djajengasmoro)”, Cyanotype On Paper, Variable Dimensions, dibuat tahun 2026. Dikatakan bahwa R.M. Soehardjo Djajengasmoro merupakan sosok yang menjadi titik berangkat dalam penelusuran ini untuk memahami perjalanan, kontribusi, dan nilai-nilai yang diwariskan dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Melalui cerita-cerita yang tersisa, jejak kehidupannya dibaca kembali sebagai bagian dari sejarah pendidikan, praktik kesenian, dan hubungan antarmanusia yang membentuk lingkungan seni.


“Bagi saya, mengenali Djajeng bukan hanya tentang mengumpulkan informasi mengenai perjalanan hidupnya, melainkan juga mendekati sisi-sisi kecil yang sering luput dari catatan sejarah: proses belajar, perjumpaan, kerja bersama, dan pengetahuan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui rekonstruksi fotografis, saya mencoba membayangkan kembali fragmen-fragmen kehidupannya berdasarkan cerita dan arsip yang tersedia. Potret-potret ini tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi autentik atas setiap peristiwa, melainkan sebagai upaya interpretatif untuk membuka ruang bagi ingatan dan pembacaan ulang sejarah," jelasnya.
"Reinterpretasi Ingatan menjadi caranya menghadirkan kembali sosok Djajeng agar tidak berhenti sebagai nama dalam catatan masa lalu. Sebab, sejarah seni tidak hanya dibentuk oleh karya dan institusi, tetapi juga oleh manusia, hubungan, serta nilai-nilai yang mereka tinggalkan. Mengingat Djajeng berarti merawat kemungkinan agar semangat pengabdian, ketekunan, dan berbagi pengetahuan tetap hidup dalam praktik seni hari ini,” imbuh Catur lebih lanjut. (Feature of Impessa.id by Grace-Antok Wesman)
